Olahraga

Solheim Cup 2026: Hull, Woad, Ciganda jadi kunci Eropa kalahkan Amerika Serikat 15½-12½

×

Solheim Cup 2026: Hull, Woad, Ciganda jadi kunci Eropa kalahkan Amerika Serikat 15½-12½

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Solheim Cup 2026: Europe's win over United States fuelled by Hull, Woad and Ciganda

jurnalistik.co.id – Charley Hull menjadi pemantik ketika nomor singles di Bernardus Golf Club, Belanda, berlangsung menentukan. Eropa akhirnya merebut Solheim Cup kembali dari Amerika Serikat dengan skor 15½-12½, atau kemenangan 15-13 yang mengakhiri ketatnya persaingan di kandang.

Pada hari Minggu, tim Eropa memaksimalkan momentum setelah dua hari sebelumnya, saat persaingan masih rapat. Hull yang turun lebih dulu memimpin Eropa menekan lewat kemenangan 3&2 atas Megan Khang, sekaligus memberi dorongan awal bagi Nordqvist dan skuadnya.

Ini juga menjadi rangkaian penting dalam format singles karena tim Eropa disebut tak terkalahkan sejak kekalahan kandang terakhir mereka pada 2015. Dengan hasil hari Minggu, catatan itu terus bertahan ketika Amerika Serikat berusaha mengejar ketertinggalan di akhir pekan.

Hull sendiri sempat hanya mengumpulkan setengah poin pada dua hari pertama. Ia berpasangan dengan Lottie Woad dalam kerja sama yang disebut tidak menghasilkan “untung”, namun perubahan itu terlihat jelas begitu singles dimulai.

Woad kemudian turut mengunci kemenangan untuk Eropa. Ia tampil bersama Hull sebagai salah satu pemain yang masuk jajaran peringkat top 10 dunia, dan pada babak singles meraih kemenangan 2&1 atas Auston Kim.

Kemenangan Woad memicu perayaan liar dari pendukung Eropa di sekitar lubang ke-17 di Bernardus. Saat permainan berlanjut, ketegangan makin terasa karena setiap poin langsung mengubah peluang tim mana yang akan lebih dulu mencapai angka kunci.

Menjelang salah satu momen penentu, Carlota Ciganda sudah unggul tiga hole ketika menuju lubang ke-16. Kondisi itu memastikan tuan rumah melangkah ke total 14½ poin yang diperlukan untuk meraih kemenangan dalam kompetisi tim terbesar golf putri.

Anna Nordqvist menjelaskan keputusan penempatan Hull dan Woad sejak awal singles. “It was the no-brainer to put Charley first,” ujar Nordqvist, seraya menilai pasangan tersebut memang sudah terlihat kuat dari data sepanjang pekan.

Nordqvist menambahkan, “We saw the stats and Charley and Lottie were actually top-four players that made the most birdies for the week. They just played really tough matches.” Ia menekankan betapa sulit pertandingan yang dilalui dua pemain Inggris itu.

Ia juga menyinggung persepsi yang sering muncul dari luar. “People don’t understand how good all these players are and how good the golf has been in the past three days,” kata Nordqvist.

Menurut Nordqvist, keputusan berawal dari analisis dan kebutuhan tim. “So Charley was a no-brainer, and then finishing strong with Carlota. As we know, she’s done it in the past.” Pernyataan itu merujuk pada kekuatan Ciganda yang memang pernah melakukan hal serupa di pertemuan sebelumnya.

Isu mengenai kepemimpinan Nordqvist sebagai kapten sempat mencuat, terutama karena pada dua hari pertama ia berulang kali memasangkan dua bintang Inggrisnya bersama. Namun di hari Minggu, hasil singles menunjukkan strategi itu bisa bekerja ketika Eropa membutuhkan poin besar.

Hull juga terlihat lebih dulu memberi selamat kepada Woad seusai kemenangan. Ia melontarkan candaan, “finally got our points didn’t we Lottie,” yang menggambarkan perubahan suasana setelah dua hari yang tidak sejalan dengan harapan.

Perjalanan menuju kemenangan juga memiliki nuansa yang “pas” dari sisi timing. Ciganda, yang merupakan pemain veteran, membawa timnya melewati garis finis dalam pertandingan terakhir sebelum momen-momen krusial berikutnya.

Dalam pertandingan penultimate, Ciganda menghadapi Jennifer Kupcho dan dinilai tidak bisa lebih cocok untuk menjadi penentu. Sebelumnya pada Sabtu malam, Kupcho sempat meredam sorotan ketika ia melakukan rangkaian pukulan yang mengguncang pertandingan.

Saat itu, Kupcho membuat kerumunan menjadi tenang dengan pekikan “vamos”. Ia memasukkan putt sejauh 91 kaki pada lubang ke-17, lalu menancapkan bola dari jarak 30 kaki di green lubang ke-18 untuk merebut satu poin dari Spaniard dalam laga fourballs.

Momen tersebut terasa seperti pergeseran arah pertandingan menuju tim Angela Stanford. Namun kurang dari 24 jam setelahnya, Kupcho dan rekan-rekan setimnya di Amerika Serikat tidak banyak yang bisa dirayakan ketika euforia justru menyelimuti mereka yang mengenakan warna biru dan kuning.

Ketika hari beranjak, Eropa tidak hanya mengandalkan nama besar. “Having started the day level at 8-8, Europe’s quartet of rookies deserve huge credit,” demikian gambaran performa kelompok debutan yang menjadi faktor penting saat tekanan meningkat.

Debutan Eropa disebut kembali menunjukkan kelayakan mereka di panggung terbesar. Julia Lopez Ramirez dari Spanyol dan Nastasia Nadaud dari Prancis memberikan kontribusi signifikan, terutama setelah sebelumnya tampil meyakinkan di foursomes dan fourballs.

Lopez Ramirez mengalahkan Yealimi Noh dengan skor 3&2. Sementara itu, Nadaud terlihat mengendalikan permainan melawan Andrea Lee dan juga menang dengan skor 3&2 yang sama.

Mimi Rhodes, yang sebelumnya berpasangan dengan Nadaud dan meraih dua kemenangan, justru harus menelan kekalahan. Ia ditundukkan oleh penampilan luar biasa dari pemain nomor satu dunia, Nelly Korda.

Di papan skor hari Minggu, hanya beberapa nama yang disebut sempat “memercikkan” poin merah secara berselang. Lauren Coughlin, Lindy Duncan, dan Alison Lee masuk dalam daftar itu, dengan performa yang tetap membuat persaingan tidak mudah bagi pihak Eropa.

Coughlin yang sebelumnya mengumpulkan dua setengah poin sepanjang pekan berakhir menorehkan hasil besar. Ia mengakhiri catatan Leona Maguire yang tak terkalahkan di pertandingan singles.

Duncan kemudian mengatasi Maja Stark dengan kemenangan. Setelah itu, Alison Lee mencuri perhatian lewat kebangkitannya dari tertinggal empat hole untuk menyelesaikan comeback terbesar dalam sejarah Solheim Cup.

Alison Lee menutup comeback tersebut dengan kemenangan 1UP atas Esther Henseleit. Namun, meski hasil itu kuat dan emosional, tetap tidak cukup untuk mengubah arah akhir kompetisi.

Tim Amerika Serikat yang menjadi “tamu” tetap belum menemukan kemenangan pertama mereka di tanah Eropa sejak 2015. Pada akhirnya, ruang gerak mereka tertutup oleh konsistensi Eropa di momen-momen yang menentukan.

Angela Stanford merangkum jalannya pertandingan dengan nada penerimaan. “The Europeans played great today, and that’s the way it goes,” kata Stanford.

Stanford menambahkan detail yang menegaskan kondisi saat tekanan berada di pundak tuan rumah dan sebaliknya. “Their backs were against the wall, they had nothing to lose, and that’s exactly what they did, they came out and played well.”

Ketika Rose Zhang menyelesaikan pertandingan terakhir di course dengan kemenangan 2UP atas Celine Boutier, perayaan tim Eropa makin lengkap. Suasana di lokasi akhirnya beralih menjadi pesta kemenangan, sementara Amerika Serikat menerima hasil akhir yang menegaskan kepulangan Solheim Cup ke Eropa.