Bisnis & Ekonomi

Pendapatan Animasi RI Naik Tajam, Jadi Andalan Ekonomi Kreatif

8
×

Pendapatan Animasi RI Naik Tajam, Jadi Andalan Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pendapatan Animasi RI Melonjak, Kini Tumpuan Ekonomi Kreatif

jurnalistik.co.id – Industri animasi Indonesia tengah menunjukkan pergeseran arah bisnis yang makin bernilai ekonomi. Pendapatan animasi berbasis karya orisinal atau original intellectual property (IP) tercatat melonjak 279,53 persen sepanjang 2015-2025, dan kini melampaui pendapatan dari jasa animasi ekspor.

Lonjakan itu menjadi salah satu temuan utama dalam Indonesia Animation Report 2026 yang dirilis Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI). Dalam laporan tersebut, saat ini terdapat 308 karya animasi orisinal aktif yang telah diproduksi dan didistribusikan di berbagai platform global.

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menilai data itu menegaskan posisi animasi sebagai bagian penting dari ekonomi kreatif. Menurut dia, sektor ini menyimpan potensi besar untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru jika diarahkan pada model bisnis berbasis kekayaan intelektual yang kuat dan kompetitif di pasar global.

“Industri animasi merupakan bagian penting dari ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Laporan ini menjadi landasan penting untuk mendorong transformasi industri menuju model berbasis kekayaan intelektual yang berdaya saing global,” ujar Teuku dalam peluncuran Indonesia Animation Report 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Laporan itu disusun berdasarkan riset terhadap 262 studio animasi dengan 3.448 tenaga kerja. Hasil riset menunjukkan nilai industri animasi Indonesia mencapai Rp 798,15 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat lebih dari 3,3 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dengan pertumbuhan rata-rata 12,86 persen per tahun.

Teuku menjelaskan, laporan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif, AINAKI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS). Studi ini juga menjadi kelanjutan dari riset industri animasi periode 2015-2020.

Di tengah pertumbuhan itu, laporan yang sama juga menyoroti tantangan struktural yang masih membayangi pengembangan ekosistem animasi nasional. Salah satu persoalan yang mengemuka adalah persebaran studio dan tenaga kerja kreatif yang belum merata.

Ketua Umum AINAKI Daryl Wilson mengatakan sektor jasa animasi selama ini memang memberi kontribusi ekonomi yang signifikan. Namun, menurut dia, kontribusi itu belum sepenuhnya dipetakan secara optimal dalam kerangka ekonomi nasional.

“Data ini sangat dibutuhkan buat kita semua untuk bisa menstrategikan bersama bagaimana ke depannya,” ujar Daryl.

Ia menambahkan, hasil pemetaan memperlihatkan studio animasi Indonesia masih didominasi di Pulau Jawa. Meski begitu, menurut dia, kantung-kantung sumber daya manusia dan pelaku industri juga tersebar di sejumlah daerah lain.

“Berdasarkan data pemetaan, studio Indonesia didominasi di Pulau Jawa, tetapi kita melihat dari sini kantung-kantung SDM dan pelaku industri itu ada di mana saja. Sehingga ketika pemerintah dan asosiasi bisa fokuskan dalam membuat program-program yang bisa langsung berada di daerah mereka,” lanjutnya.

Selain persoalan persebaran studio, laporan itu juga mencatat tantangan lain yang cukup serius. Di antaranya, keterbatasan pembiayaan studio untuk melakukan ekspansi global, belum terlindunginya hak kekayaan intelektual (HKI) sejumlah karya animasi lokal, serta dominasi tenaga kerja dengan status freelance atau kontrak.

Kondisi tersebut membuat penguatan industri animasi tidak cukup hanya bertumpu pada produksi karya. Laporan itu menekankan bahwa dukungan lintas sektor dibutuhkan agar pertumbuhan industri dapat berjalan lebih terstruktur, terutama untuk mendorong karya orisinal agar tidak berhenti di tingkat lokal.

Karena itu, Indonesia Animation Report 2026 menekankan pentingnya kolaborasi dengan pendekatan hexahelix. Skema ini melibatkan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan lembaga keuangan dalam satu ekosistem kerja yang saling terhubung.

Melalui kerja sama tersebut, laporan ini menempatkan industri animasi bukan sekadar sebagai bagian dari produksi konten hiburan, tetapi juga sebagai sektor ekonomi kreatif yang berpotensi memberi nilai tambah lebih besar. Pergeseran dari jasa animasi ke karya berbasis IP menjadi salah satu titik penting yang dinilai dapat memperkuat daya saing Indonesia di level global.

Dengan nilai industri yang terus naik, jumlah karya orisinal yang aktif, serta basis tenaga kerja yang sudah terbentuk, animasi Indonesia kini berada pada fase yang menentukan. Tantangannya bukan hanya menjaga laju pertumbuhan, tetapi juga memastikan ekosistemnya mampu menopang ekspansi, perlindungan karya, dan pemerataan manfaat ke berbagai daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *