jurnalistik.co.id – Kabar tentang getaran yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik di Indonesia tidak pernah benar-benar hilang.
Menurut informasi BMKG, gempa besar tercatat mengguncang beberapa wilayah, yakni Laut Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT), Simalungun di Sumatera Utara, serta Parigi Moutong di Sulawesi Tengah.
Serangkaian guncangan itu juga menunjukkan bahwa ancaman kegempaan tetap tinggi, terutama ketika gempa diikuti oleh gelombang susulan.
Hingga Senin (17/8/2026) pukul 11.00 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 1.624 gempa susulan. Angka tersebut merefleksikan proses penyesuaian kerak bumi setelah peristiwa utama, yang dapat berlangsung dalam rentang waktu tertentu.
Lalu, apa alasan mengapa gempa terasa begitu sering melanda berbagai daerah di Tanah Air? Jawabannya berkaitan dengan posisi Indonesia yang berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif.
Pakar gempa bumi dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa Indonesia berada di titik temu tiga lempeng tektonik utama dunia: Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Daryono menambahkan bahwa selain tiga lempeng besar tersebut, Lempeng Filipina juga ikut memengaruhi dinamika tektonik di kawasan Indonesia. Perpaduan pengaruh dari lebih dari satu lempeng inilah yang membuat pola ancaman seismik di wilayah Nusantara menjadi lebih kompleks.
Secara mekanisme, Lempeng Indo-Australia terus bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di sebelah selatan Indonesia. Pada saat yang sama, Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat, sehingga terjadi pergeseran dan interaksi antarbagian kerak yang berbeda.
Daryono menyebut bahwa pergerakan lempeng yang berlangsung terus-menerus menyebabkan energi tektonik terakumulasi. Energi yang terkumpul tidak selalu dilepaskan secara bertahap; ketika dilepaskan secara tiba-tiba, terjadilah gempa bumi.
Berita Terkait
“Indonesia berada di titik pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik (serta lempeng minor Filipina),” kata Daryono kepada Kompas.com , Selasa (18/8/2026).
Dengan kondisi seperti itu, gempa bumi tidak muncul sebagai peristiwa yang berdiri sendiri tanpa mekanisme geologi. Gempa lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari dinamika kerak bumi yang terus bergerak, lalu menghasilkan pelepasan energi ketika tekanan mencapai titik tertentu.
Ancamannya kemudian semakin besar karena Indonesia juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire. Jalur tersebut, menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, merupakan zona berbentuk tapal kuda sepanjang sekitar 40.000 kilometer yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik.
Wijayanto menegaskan bahwa zona ini merupakan jalur pertemuan berbagai lempeng tektonik yang bergerak dan saling bertumbukan, termasuk zona subduksi. Di sinilah proses tumbukan antar lempeng dapat memicu aktivitas seismik secara berulang di banyak negara.
Meskipun disebut “cincin”, jalur tersebut sebenarnya tidak membentuk lingkaran sempurna. Cincin Api Pasifik membentang dari belahan Bumi selatan hingga utara, melewati sejumlah negara di berbagai benua.
Alur jalur itu dimulai dari pesisir barat Amerika Selatan seperti Chili dan Peru, kemudian berlanjut menuju Amerika Tengah hingga pesisir barat Amerika Serikat dan Kanada. Setelah itu, jalur bergerak lagi menuju Alaska dan Kepulauan Aleut, sebelum berpindah ke wilayah Asia dan Oseania.
Perpindahan jalur tersebut terjadi melalui Rusia, Jepang, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, hingga Selandia Baru. Dengan demikian, posisi Indonesia di tengah rangkaian jalur tersebut menjelaskan mengapa wilayah Indonesia berada dalam koridor ancaman seismik yang lebih luas.
Jika dipadukan, temuan BMKG dan penjelasan para ahli menempatkan gempa di Indonesia dalam kerangka yang sama: adanya pertemuan lempeng tektonik aktif serta keterhubungan dengan Cincin Api Pasifik yang memang dikenal sebagai kawasan beraktivitas seismik tinggi.
Karena itu, ketika terjadi gempa besar, perhatian tidak hanya berhenti pada peristiwa utama. Keberadaan gempa susulan yang tercatat hingga ratusan bahkan ribuan kejadian, seperti yang dilaporkan sampai Senin (17/8/2026) pukul 11.00 WIB, memperlihatkan bagaimana energi yang terlepas dalam satu peristiwa dapat berlanjut dalam fase penyesuaian geologi berikutnya.
Pemahaman terhadap posisi Indonesia di antara lempeng-lempeng tektonik dan jalur Cincin Api Pasifik menjadi kunci untuk membaca risiko kegempaan secara lebih realistis. Dengan kerangka tersebut, berbagai wilayah yang terdampak—mulai dari NTT, Sumatera Utara, hingga Sulawesi Tengah—dapat dipahami sebagai bagian dari sistem geologi yang sama.











