Peristiwa

Pasien tuli mendapat vaksin keliru akibat kesalahan bahasa isyarat, menurut laporan

×

Pasien tuli mendapat vaksin keliru akibat kesalahan bahasa isyarat, menurut laporan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Deaf patient given wrong jab due to sign language error, report says

jurnalistik.co.id – Seorang perempuan tuli di Inggris dilaporkan menerima vaksin yang keliru di praktik dokter karena kegagalan penyediaan dukungan komunikasi berbasis Bahasa Isyarat Inggris (British Sign Language/BSL), menurut temuan Ombudsman Layanan Parlemen dan Kesehatan (Parliamentary and Health Service Ombudsman/PHSO).

Laporan PHSO menyebut penyandang disabilitas tidak mendapatkan layanan yang semestinya karena komunikasi yang tersedia dinilai tidak dapat diakses oleh semua pihak. Dalam kasus yang diulas, kegagalan tersebut berujung pada pemberian vaksin selain yang telah dijadwalkan pasien.

Dalam penanganan di praktik dokter, pasien bernama Samantha telah melakukan pemesanan untuk suntikan flu. Namun, dia justru diberikan vaksin Covid. PHSO menyampaikan bahwa staf tidak menyiapkan video BSL yang seharusnya membantu pasien memahami kekeliruan yang terjadi, sehingga proses tidak berjalan sesuai semestinya.

Samantha menyebut pengalaman itu memiliki dampak yang “profound impact” pada dirinya. Menurut laporan, ia juga telah menunjukkan catatan di ponselnya kepada seorang perawat yang menyatakan ia datang untuk “flu jab only”. Ia kemudian dijelaskan memiliki jadwal suntikan flu dan Covid pada minggu yang berbeda.

PHSO menilai, meski ada penanda yang diberikan pasien, praktik dokter berkeyakinan bahwa mereka telah memastikan Samantha menginginkan vaksin Covid. Laporan menyebut persetujuan tersebut diperoleh melalui nenek Samantha, padahal Samantha disebut mengalami dementia stadium awal dan tidak berada di ruang perawatan.

Dalam penyelidikan lanjutan, PHSO merekomendasikan agar praktik dokter meminta maaf kepada Samantha serta membayar kompensasi sebesar ÂŁ450. Setelah laporan tersebut, pihak praktik juga disebut menandatangani kontrak dengan perusahaan layanan penerjemah bahasa isyarat.

Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial (Department of Health and Social Care) menyatakan cerita-cerita yang “deeply upsetting stories” itu “completely unacceptable”, serta menegaskan organisasi layanan kesehatan dan layanan sosial memiliki kewajiban memastikan aksesibilitas bagi pengguna layanan.

Selain kasus Samantha, laporan PHSO juga mengangkat pengalaman Alan Graham, yang tuli dan sedang menjalani perawatan kanker di University Hospitals Birmingham NHS Trust. Ketika penerjemah tidak tersedia, staf rumah sakit meminta cucu remaja Alan untuk menjadi perantara bagi keluarga, termasuk menyampaikan kepada putri Alan yang tuli bahwa ia mungkin akan meninggal.

Usai investigasi oleh ombudsman, rumah sakit tersebut menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan “we did not get things right”. Ke depan, pihak rumah sakit menyebut telah memperkenalkan langkah baru untuk membantu pasien tuli, termasuk penguatan kesadaran serta pengaturan aksesibilitas agar kebutuhan komunikasi pasien dapat dipenuhi dengan lebih baik.

PHSO juga menyoroti bahwa penyandang disabilitas berisiko tidak memperoleh informasi penting terkait kesehatan, keuangan, atau pekerjaan hanya karena kurangnya format komunikasi yang dapat diakses, seperti materi cetak berukuran besar atau materi audio.

Dalam periode sejak April 2020, PHSO menyatakan telah menyelesaikan 623 investigasi yang berkaitan dengan penyesuaian yang wajar (reasonable adjustments), dengan 496 di antaranya dinilai mendukung atau sebagian mendukung keluhan. Ombudsman juga menegaskan bahwa meski bukan regulator, ia dapat memerintahkan organisasi publik membayar kompensasi finansial bila keluhan dinyatakan beralasan.

Chief executive PHSO, Rebecca Hilsenrath, mengutip bahwa “When people feel they are not listened to and that their needs are not met, they lose trust in the very services designed to support them.” Sementara itu, NHS England menyatakan hambatan untuk akses dan pemahaman layanan kesehatan adalah sesuatu yang “completely unacceptable” bagi mereka yang tuli atau mengalami gangguan penglihatan, serta mengatakan telah memperbarui standar mengenai penyediaan perawatan yang aman dan efektif bagi mereka yang memiliki kebutuhan komunikasi.

Di bagian lain laporan, PHSO mencontohkan North Cheshire and Mersey NHS Foundation Trust sebagai praktik baik dalam menyediakan komunikasi yang efektif. Pihak tersebut disebut bekerja sama dengan kelompok advokasi lokal dan komunitas penyandang tuli untuk memperbaiki layanan. Rumah sakit juga menyediakan panduan agar pasien dapat mengakses layanan interpretasi dan penerjemahan, yang dilaporkan meningkatkan penggunaan penerjemah sebesar 50% dalam satu tahun.