Politik & Parlemen

Bahlil Lahadalia: Rotasi Fraksi Golkar di DPR RI Hal yang Wajar

×

Bahlil Lahadalia: Rotasi Fraksi Golkar di DPR RI Hal yang Wajar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Golkar Rotasi Anggota Fraksi, Bahlil: Di Kabinet Saja Bisa Kalau Tidak Penuhi Target

jurnalistik.co.id – KETUA Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengatakan rotasi anggota Fraksi Partai Golkar di DPR RI merupakan hal yang wajar. Menurutnya, pergantian personel bisa terjadi kapan pun ketika sebuah target dianggap belum terpenuhi.

Bahlil menyampaikan pandangan itu dalam sambutannya pada Pengarahan dalam rangka HUT Kemerdekaan ke-81 RI di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (18/8/2026). Ia menegaskan bahwa mekanisme yang sama juga dapat berlangsung di level lain, bukan semata di parlemen.

“Jangankan di fraksi, jangankan di alat kelengkapan dewan, di kabinet aja bisa terjadi rolling kalau itu dianggap tidak memenuhi apa yang menjadi target,” kata Bahlil. Ia menempatkan rotasi sebagai bagian dari penyesuaian agar kerja organisasi tetap mengarah pada capaian yang ditetapkan.

Untuk menjelaskan maksudnya, Bahlil menganalogikan fraksi sebagai tim sepak bola. Ia menyatakan bahwa perubahan dalam komposisi pemain dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan memenangkan kompetisi.

“Memang tidak ada satu tim kesebelasan bola di mana pun kita lihat, itu untuk mencapai tujuan, untuk memenangkan kompetisi, selalu dibutuhkan perubahan-perubahan permainan,” ucap Bahlil. Dalam pandangannya, pergantian tidak otomatis berarti kegagalan, melainkan strategi yang dapat dilakukan ketika dibutuhkan.

Ia juga mencontohkan situasi dari sepak bola internasional. Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut menyebut Timnas Spanyol yang berhasil meraih kemenangan seusai mengganti pemain baru.

Selanjutnya, Bahlil menyampaikan bahwa Partai Golkar tidak menutup kemungkinan akan terus melakukan rotasi apabila komposisi yang ada belum mencapai target. Ia menekankan bahwa ukuran utamanya adalah apakah susunan yang berjalan mampu memenuhi target yang ditetapkan.

“Jadi kalau komposisi yang lama belum bisa mencapai target, kita ubah lagi komposisinya,” ungkapnya. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa keputusan rotasi diposisikan sebagai upaya korektif agar kinerja organisasi tetap relevan dengan tujuan politik dan kerja kelembagaan.

Dalam dinamika internal Partai Golkar sebelumnya, terjadi pula perubahan di jajaran fraksi. Salah satunya, Gde Sumarjaya Linggih yang menjabat sebagai sekretaris fraksi Partai Golkar menggantikan Sari Yuliati.

Dengan begitu, rotasi yang dibahas Bahlil tidak hanya dipotret sebagai kemungkinan yang bersifat teoritis, tetapi juga sebagai praktik yang memang sudah berjalan dalam pengelolaan fraksi. Ia menegaskan bahwa pergantian personel dapat dilakukan sepanjang dianggap perlu untuk memastikan target dapat dicapai.

Menurut Bahlil, gagasan rotasi bukan dipahami sebagai respons reaktif semata, melainkan bagian dari cara organisasi menilai dan memperbarui susunan kerja. Saat capaian yang menjadi target dinilai belum terpenuhi oleh komposisi yang sedang berjalan, ia memandang perlu adanya penyesuaian, termasuk pada tingkat personal yang menjalankan fungsi lembaga.

Ia juga menegaskan bahwa pola pergantian tersebut dapat diterapkan secara lebih luas, tidak terbatas pada satu ruang politik. Penilaian terhadap efektivitas dan kesesuaian dengan tujuan kelembagaan, menurutnya, dapat menghasilkan perubahan di berbagai level yang mengelola pelaksanaan agenda, sehingga praktik “rolling” tidak hanya melekat pada parlemen.

Dalam penjelasannya, Bahlil memperkuat argumentasi itu melalui contoh sepak bola sebagai ilustrasi manajemen strategi. Pergantian pemain, dalam pandangannya, dipakai untuk menjaga arah permainan agar tetap sesuai tujuan, dan perubahan tersebut dapat dipandang sebagai langkah perbaikan ketika situasi membutuhkan penyesuaian, bukan sebagai ukuran bahwa sebelumnya usaha yang dilakukan pasti gagal.

Bahlil menilai bahwa penegasan tersebut sejalan dengan dinamika yang pernah terjadi di Partai Golkar. Ia menyinggung contoh ketika Gde Sumarjaya Linggih yang menjabat sekretaris fraksi Partai Golkar menggantikan Sari Yuliati, yang menunjukkan bahwa pergantian personel memang sudah menjadi bagian dari pengelolaan fraksi. Dengan demikian, rotasi yang ia sampaikan dapat dipahami sebagai mekanisme yang berorientasi pada pencapaian target.