Peristiwa

El Nino Terdahsyat 77 Tahun: Suhu Laut Pasifik Capai Rekor, Dampaknya Berlanjut hingga 2027

×

El Nino Terdahsyat 77 Tahun: Suhu Laut Pasifik Capai Rekor, Dampaknya Berlanjut hingga 2027

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Siaga 1 El Nino Terkuat! 77 Tahun: Laut Mendidih-Suhu Pecah Level 2016

jurnalistik.co.id – Lonjakan suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur diproyeksikan terjadi dalam periode Oktober hingga Desember 2026. Kondisi ini menandai penguatan El Nino yang diperkirakan tidak hanya mengubah pola cuaca, tetapi juga berimbas pada ekonomi, ekosistem, serta kehidupan masyarakat lintas negara.

Dalam pembaruan iklim musiman global bulanan yang dirilis World Meteorological Organization (WMO), El Nino disebut terus mengintensifkan diri sebelum mencapai puncak pada bulan Desember. Fenomena tersebut berpotensi mendorong suhu di atas rata-rata pada sebagian besar wilayah belahan bumi dan menggeser pola curah hujan musiman.

Dari dampak perubahan pola hujan itu, risiko kekeringan serta banjir yang lebih parah dinilai meningkat di berbagai kawasan. WMO juga menekankan bahwa pembaruan ini merangkum beberapa pendorong iklim berskala besar yang saling berkaitan, termasuk El Nino–Osilasi Selatan (ENSO), Dipol Samudra Hindia (IOD), dan suhu permukaan laut Samudra Atlantik tropis.

El Nino menguat cepat, peluang bertahan hingga awal 2027

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menyatakan bahwa El Nino saat ini sudah terbentuk dengan sangat kuat dan sedang menguat secara cepat. Ia menyebut prakiraan lembaganya menunjukkan tingkat kepastian yang tinggi, bukan berdasarkan satu model tunggal.

“Prakiraan WMO menunjukkan kemungkinan mendekati 100 persen bahwa fenomena ini akan bertahan hingga Februari 2027, yang berpotensi menjadi salah satu yang terkuat setidaknya sejak tahun 1950,” paparnya, dikutip Sabtu (10/10/2026).

Kesimpulan tersebut, menurut WMO, merupakan konsensus yang kokoh dari 13 pusat pemantauan nasional dan internasional. Jaringan pemantauan itu mencakup berbagai lokasi, mulai dari Washington hingga Tokyo, London, hingga Pune, dengan pertukaran data real-time yang dikoordinasikan oleh WMO.

Data real-time itu bersumber dari pelampung laut, satelit, serta radiosonde. Informasi yang dikumpulkan dari sistem pengamatan tersebut kemudian dirangkai menjadi dasar evaluasi mengenai intensitas dan keberlanjutan El Nino.

Saulo juga menjelaskan alasan mengapa peristiwa El Nino yang kuat kerap berkaitan dengan tahun-tahun terpanas yang pernah terukur. Ia menyampaikan bahwa El Nino tidak “menambahkan” panas baru ke planet, melainkan melepaskan panas yang tersimpan di lautan.

“El Nino tidak menambahkan panas baru ke planet ini. Ia melepaskan panas yang telah disimpan oleh lautan di bawah permukaan, yang merupakan alasan mengapa peristiwa yang kuat begitu sering menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah diukur seperti halnya tahun 2024,” tuturnya. “Lautan yang menjadi tempat penarikan panasnya adalah yang terhangat yang pernah kita ukur. Sederhananya, ada lebih banyak panas yang tersedia untuk dilepaskan.”

Indeks Nino 3.4 melonjak, proyeksi puncak Desember

Penguatan El Nino diukur melalui anomali suhu permukaan laut di kawasan ekuator Pasifik bagian tengah–timur, yang menjadi pusat dinamika fenomena ini. Salah satu indikator yang digunakan secara luas adalah indeks Nino 3.4.

Dalam catatan WMO, indeks Nino 3.4 meningkat tajam dari rata-rata +1,6 derajat Celcius di atas normal pada Juni 2026 menjadi +2,5 derajat Celcius di atas normal pada Agustus. Peningkatan ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa El Nino terus menguat.

Bagi periode Oktober hingga Desember mendatang, rata-rata musiman anomali suhu permukaan laut Nino 3.4 diproyeksikan mencapai sekitar +3,7 derajat Celcius. WMO memperkirakan nilai tersebut akan memuncak sekitar bulan Desember, dan posisinya ditulis sebagai yang tertinggi sejak periode pengamatan dimulai.

Selain itu, proyeksi +3,7 derajat Celcius disebut jauh lebih kuat dibandingkan rekor sebelumnya sebesar +2,6 derajat Celcius pada periode November 2015 hingga Januari 2016. Dengan kata lain, lonjakan kali ini dipresentasikan sebagai melampaui capaian historis yang menjadi pembanding utama.

Kontribusi IOD positif dan kondisi Samudra Atlantik

WMO juga menggarisbawahi bahwa cekungan samudra lain turut memengaruhi prospek iklim musiman yang sedang diproyeksikan. Di Samudra Hindia, IOD yang bernilai positif disebut diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Oktober, lalu berangsur menurun.

Untuk anomali musiman Oktober hingga Desember, IOD positif diproyeksikan berada di angka sekitar +0,5 derajat Celcius. Perubahan pada indikator tersebut dinilai relevan karena IOD dikenal dapat memengaruhi curah hujan di sekitar kawasan Samudra Hindia.

Sementara itu, pada cekungan khatulistiwa Atlantik, suhu permukaan laut diproyeksikan tetap berada di atas batas normal. Kombinasi kondisi di Pasifik, Hindia, dan Atlantik ini kemudian menjadi kerangka yang menjelaskan bagaimana pola curah hujan dan suhu bisa bergeser selama musim mendatang.

Dinamika yang diperbarui WMO ini juga disebut melengkapi Pembaruan El Nino/La Nina yang diterbitkan setiap kuartal. Dengan demikian, peringatan yang disampaikan tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kelanjutan pemantauan periodik berbasis data pengamatan dan konsensus lintas pusat.

Dalam praktiknya, proyeksi tersebut berarti perubahan musiman yang lebih ekstrem berpeluang terjadi lebih luas, termasuk peningkatan risiko kekeringan dan banjir parah. Karena fenomena diperkirakan tetap bertahan hingga Februari 2027, dampak yang terkait dengannya pun berpotensi meluas melewati akhir 2026.