Bisnis & Ekonomi

Prasasti: Tekanan Ekonomi RI Mulai Terasa di Kuartal IV-2026

×

Prasasti: Tekanan Ekonomi RI Mulai Terasa di Kuartal IV-2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prasasti Proyeksi Tekanan Ekonomi Baru Terasa Pada Kuartal IV - Market

jurnalistik.co.id – Prasasti Center for Policy Studies memproyeksikan tekanan ekonomi baru di Indonesia mulai terasa pada kuartal IV-2026. Menurut risetnya, dorongan utama berasal dari rangkaian dampak yang diperkirakan baru “mengalir” ke perekonomian pada akhir tahun tersebut.

Riset itu menilai, pergeseran dipicu oleh kombinasi harga minyak, fenomena El Niño, serta kebakaran hutan yang diperkirakan memengaruhi biaya dan aktivitas ekonomi secara bertahap. Transmisi dampak tersebut diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026 sebelum terlihat lebih nyata dalam indikator makro.

Pada saat yang sama, ruang kebijakan dinilai tidak seluas periode-periode sebelumnya. Prasasti menekankan bahwa koordinasi belanja negara juga akan menjadi faktor pembatas dalam merespons tekanan yang muncul.

“Sementara ruang untuk stimulus tambahan terbatas karena beban subsidi energi berisiko naik dan agenda prioritas nasional turut menyerap APBN [Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara],” sebut riset Prasasti pada Rabu (4/11/2026).

Dari sisi eksternal, Prasasti mengaitkan tekanan ekonomi dengan dinamika global yang berpotensi mendorong kenaikan biaya impor. Konflik di Timur Tengah serta perlambatan ekonomi dunia dinilai menjadi katalis yang mengerek harga minyak, sehingga menekan negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Dalam proyeksi tersebut, pergerakan harga bahan bakar mulai tercermin lebih awal pada jalur inflasi. Dampak harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang mencapai rata-rata US$92 per barel disebut mulai terasa pada bulan Oktober melalui kelompok transportasi.

Kontribusi tersebut terutama terlihat dari bensin. Prasasti mencatat bensin menyumbang 0,59% terhadap angka inflasi tahunan, mengindikasikan bahwa kenaikan biaya energi lebih cepat menembus harga-harga di sektor yang terkait konsumsi bahan bakar.

Selain membebani sisi domestik lewat inflasi, kondisi harga energi juga berimplikasi pada stabilitas eksternal. Riset Prasasti menyebut bahwa neraca eksternal mengalami penyesuaian, yang tercermin dari defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal II.

Tekanan pada transaksi berjalan selanjutnya bertemu dengan kondisi nilai tukar. Dalam proyeksinya, rupiah berada di kisaran Rp18.000/US$ yang membuat kebijakan perlu menjaga arah stabilisasi agar risiko makro tidak meluas.

Dengan kombinasi inflasi yang dipengaruhi energi, pelebaran defisit transaksi berjalan, serta tekanan pada nilai tukar, Prasasti menyimpulkan bahwa pemerintah perlu memprioritaskan stabilitas makroekonomi. Fokus ini dipandang penting untuk menahan efek lanjutan dari rangkaian faktor global dan domestik yang baru akan lebih terasa pada kuartal IV-2026.

Lebih jauh, proyeksi ini juga menempatkan keterbatasan ruang stimulus sebagai bagian dari analisis risiko. Jika beban subsidi energi berpotensi meningkat, sementara belanja prioritas nasional tetap menyerap APBN, maka kemampuan respons kebijakan akan lebih ketat.

Secara keseluruhan, proyeksi Prasasti menggambarkan keterkaitan antara dinamika harga minyak global, transmisi kondisi iklim dan kebakaran hutan, serta dampaknya ke inflasi dan neraca eksternal. Ketika berbagai efek itu saling bersambung, tekanan ekonomi diperkirakan menjadi lebih terukur pada kuartal IV-2026.

Implikasi kebijakan dari riset ini adalah perlunya keseimbangan antara upaya menjaga stabilitas dan realitas fiskal yang semakin terkonsentrasi. Dalam kerangka itu, penguatan koordinasi kebijakan makro menjadi kunci untuk mengantisipasi fase tekanan yang diprediksi menguat di akhir tahun 2026.

Rangkaian proyeksi tersebut juga memandang inflasi bukan sekadar efek langsung, melainkan hasil penularan biaya yang berjalan dari harga energi menuju harga kelompok konsumsi tertentu.

Dalam kerangka eksternal, pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal II diperkirakan tidak berdiri sendiri, tetapi bersinggungan dengan kebutuhan menjaga nilai tukar agar tetap berada dalam jalur yang terkendali.

Karenanya, pendekatan kebijakan yang disoroti riset lebih menekankan prioritas pada stabilisasi makro, sambil mengantisipasi bahwa dorongan dari faktor global dan domestik akan semakin terlihat mendekati kuartal IV-2026.