Teknologi

FBI Disebut Diretas ShinyHunters, 2 TB Data Sensitif Bocor

×

FBI Disebut Diretas ShinyHunters, 2 TB Data Sensitif Bocor

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: FBI Dijebol Hacker Kelas Kakap, Rahasia Besar Amerika Bocor

jurnalistik.co.id – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) sedang menghadapi ancaman keamanan siber yang dinilai serius. Kelompok peretas yang mengatasnamakan ShinyHunters dilaporkan berhasil membobol portal keamanan FBI serta membawa data dalam jumlah besar ke ranah publik.

Menurut laporan yang dikutip Reuters pada Minggu (27/9/2026), ShinyHunters merilis sekitar 5.000 baris data awal sebagai “sampel”. Dari rilis awal itu, mereka mengklaim telah mencuri total 2 terabyte (TB) data yang bersifat sensitif.

ShinyHunters juga menempatkan FBI dalam posisi tertekan dengan mengancam akan menahan seluruh data rahasia. Ancaman tersebut terkait permintaan agar FBI mencabut sebuah pernyataan pada bulan Mei yang dinilai merugikan kelompok peretas tersebut.

Menanggapi klaim tersebut, pihak FBI mengonfirmasi adanya pembobolan portal FBIJobs.gov dan menyatakan sedang melakukan investigasi menyeluruh. “Kami secara aktif dan agresif menyelidiki masalah ini,” ujar perwakilan FBI.

Data bocor hingga menyentuh operasi klandestin

Peretasan ini tidak hanya dikaitkan dengan karyawan aktif, tetapi juga mencakup mantan agen FBI. Dampaknya dinilai fatal karena kebocoran mengungkap detail yang biasanya hanya diketahui dalam konteks operasi internal.

Jenis informasi yang disebut terdampak antara lain Data Pribadi Identitas Diri (PII). Di dalamnya termasuk nama lengkap, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, hingga Nomor Jaminan Sosial (Social Security Number).

Selain identitas, kebocoran juga disebut memuat Informasi Kontak Darurat. Data pasangan atau anak-anak agen menjadi salah satu elemen yang disebut berisiko, karena keluarga tersebut dapat menjadi sasaran.

Faktor lain yang memperbesar potensi bahaya adalah Status Penugasan Berisiko Tinggi. Informasi ini mencantumkan detail lokasi kantor lapangan serta penempatan unit rahasia, sehingga eskalasi risiko tidak terbatas pada aspek administratif.

Menyibak nama unit strategis

Kebocoran dilaporkan turut mengekspos unit intelijen tingkat tinggi yang jarang dipublikasikan. Data yang disebut berisi rincian personel tersebut mencakup berbagai operasi lintas negara dan bidang, mulai dari aktivitas berbasis intelijen manusia hingga teknologi penyadapan.

Untuk unit operasi China, disebut ada 14 agen. Rincian tersebut mencakup “Unit Perusahaan Kriminal China” serta “Seksi Intelijen China”, dua entitas yang disebut terkait konteks operasi strategis.

Di sisi lain, dilaporkan terdapat 9 personel di unit operasi Rusia. Salah satu kategori yang disebut adalah penanganan “Ancaman Infrastruktur Kritis dan Teknologi Rusia”. Informasi ini menggambarkan fokus yang diarahkan pada aspek teknologi dan infrastruktur kritis.

Selanjutnya, disebut pula ada 3 agen khusus yang memantau pergerakan Iran dan Hizbullah. Eksposur terhadap kelompok pemantau seperti ini berpotensi memengaruhi keamanan operasional pihak yang bertugas di lapangan.

Untuk sektor intelijen manusia (HUMINT), kebocoran disebut mencatat 11 staf. Sementara itu, bidang teknologi penyadapan, akses rahasia, serta operasi teknis klandestin berbasis audio dan visual disebut melibatkan 18 pakar.

“Tambang emas” bagi intelijen asing

Mantan agen kontraintelijen FBI, Eric O’Neill, memperingatkan bahwa kebocoran seperti ini dapat menjadi keuntungan besar bagi pihak yang bermusuhan. Ia menyebutnya sebagai “tambang emas” bagi badan intelijen asing, termasuk yang terkait dengan China dan Rusia, serta kelompok ekstremis domestik.

“Jika saya ada dalam daftar tersebut, saya akan sangat khawatir,” kata O’Neill. Pernyataan itu menegaskan bahwa informasi yang terbuka dapat mengubah tingkat ancaman terhadap individu yang tercantum.

Senada dengan O’Neill, Trevor Hilligoss—mantan penyidik Angkatan Darat AS yang kini menjabat sebagai Chief Intelligence Officer di SpyCloud—menilai eksposur ini mengancam nyawa para agen. Menurutnya, agen yang menyamar bisa menghadapi risiko besar, termasuk kerusakan karier hingga ancaman terhadap keselamatan.

Risiko tersebut disebut berlapis karena peretas juga memegang data kontak darurat kerabat para agen. Hilligoss menilai keluarga yang terkait mungkin tidak memiliki pengetahuan keamanan operasional (OPSEC), sehingga potensi penargetan dapat meningkat.

Dengan kombinasi informasi personal, status penugasan, serta rincian unit yang berfokus pada operasi rahasia, kebocoran ini berpotensi mengganggu strategi pengamanan FBI. FBI kini berada dalam tahap investigasi untuk memahami luas pembobolan, memetakan dampak terhadap pihak yang terdaftar, dan menilai langkah mitigasi yang diperlukan.

Di tengah klaim ShinyHunters yang menyebut adanya data berukuran 2 TB dan ancaman penahanan informasi, proses penyelidikan FBI menjadi penentu langkah berikutnya. Baik untuk memastikan integritas sistem, maupun untuk merespons risiko keamanan yang muncul akibat eksposur detail operasi klandestin.