Daerah

16 Biksu Thudong Singgah di Demak, Tebar Damai di Tengah Perbedaan

3
×

16 Biksu Thudong Singgah di Demak, Tebar Damai di Tengah Perbedaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perjalanan Sunyi 16 Biksu Thudong di Demak, Menebar Damai di Tengah Perbedaan

jurnalistik.co.id – Suasana tenang menyelimuti kawasan Alun-alun Demak, Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026) sore, ketika 16 biksu thudong tiba setelah menempuh perjalanan kaki dari Jepara. Dengan jubah yang tampak kontras di tengah hiruk pikuk kota, rombongan itu singgah di Klenteng Poo An Bio sebelum melanjutkan perjalanan spiritual menuju Candi Sewu, Klaten.

Kedatangan para biksu ini menjadi bagian dari perjalanan suci dalam rangka peringatan Hari Tri Suci Waisak 2570 BE tahun 2026. Rombongan berangkat dari kawasan Candi Sima, Jepara, dan bergerak menuju Candi Sewu dengan berjalan kaki melalui sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Panitia kegiatan thudong, Sundoko, mengatakan rangkaian perjalanan itu dirancang berlangsung sekitar 11 hari dengan jarak tempuh kurang lebih 220 kilometer. Rute tersebut dimulai dari Jepara dan berakhir di Candi Sewu, Klaten.

“Kegiatan ini nanti kurang lebih akan berlangsung selama 11 hari dengan menempuh jarak kurang lebih 220 km,” kata Sundoko saat ditemui di Klenteng Poo An Bio Demak, Sabtu sore.

Para peserta thudong sendiri datang dari beragam daerah di Indonesia. Tidak hanya dari Jawa Tengah, tetapi juga dari luar pulau Jawa. Sundoko menyebut rombongan diikuti 16 biksu yang berasal dari Jateng, Boyolali, Semarang, Purwokerto, Mojokerto, Medan, Papua, dan Lampung.

“Diikuti 16 bikhu, ada dari Jateng, Boyolali, Semarang, Purwokerto, ada yang dari Mojokerto, ada juga yang dari Medan, ada dari Papua, dari Lampung, tapi semua Indonesia,” paparnya.

Bagi Sundoko, perjalanan thudong bukan semata-mata ritual spiritual. Di balik langkah panjang yang mereka tempuh, tersimpan harapan agar perjalanan ini ikut menebarkan pesan damai di tengah situasi yang menurutnya sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja.

“Harapnya kita menebarkan toleransi antar umat beragama, dan menebarkan kedamaian di tengah-tengah dunia yang saat ini mungkin agak sedikit kacau,” tuturnya.

Ia juga menyoroti sambutan masyarakat di sepanjang perjalanan sebagai cerminan bahwa toleransi masih hidup di tengah masyarakat. Di Demak, kata dia, warga dari berbagai latar belakang agama ikut menyambut para biksu dan memberikan bekal untuk melanjutkan perjalanan.

“Itu merupakan salah satu bentuk toleransi dari umat beragama, dari ummat Islam, Kristen, kita semua mendukung, untuk memberikan bekal terutama minuman dan sambutan-sambutan hangat di setiap perjalanan,” ungkapnya.

Setelah bermalam di Demak, para biksu dijadwalkan kembali melanjutkan perjalanan pada Minggu (24/5/2026) pagi. Dari Demak, rute berikutnya akan membawa mereka melewati Semarang, Ungaran, Salatiga, hingga Boyolali sebelum akhirnya tiba di tujuan akhir, Candi Sewu, Klaten.

Di tengah langkah yang sunyi dan panjang itu, thudong di Demak menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat: perjalanan spiritual bisa menjadi ruang untuk merawat toleransi, menyapa perbedaan, dan menebar kedamaian di tengah masyarakat.

Di sela perjalanan yang menuntut ketahanan fisik itu, singgah sejenak di Demak menjadi ruang bagi para biksu untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melangkah. Momen berhenti di Klenteng Poo An Bio juga memperlihatkan bahwa perjalanan thudong tidak hanya dibaca sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai perjalanan yang menghadirkan perjumpaan dengan masyarakat di lintasan yang mereka lewati.

Keramaian kecil yang muncul saat rombongan tiba menunjukkan bahwa perhatian warga terhadap thudong cukup besar. Meski para biksu berjalan dalam suasana hening dan tertib, kehadiran mereka tetap menarik atensi publik karena perjalanan ini membawa pesan yang jauh melampaui jarak tempuh. Di titik inilah thudong menjadi simbol kesederhanaan, ketekunan, dan sikap saling menghormati di tengah keberagaman.

Rute yang masih panjang pun menegaskan bahwa perjalanan ini membutuhkan konsistensi dari awal hingga akhir. Setelah bermalam di Demak dan melanjutkan etape berikutnya pada pagi hari, langkah para biksu akan terus bergerak melewati kota-kota yang telah tercatat dalam rangkaian perjalanan. Dari satu daerah ke daerah lain, semangat yang mereka bawa tetap sama: berjalan bersama dalam damai, menjaga toleransi, dan menyalurkan pesan kebersamaan kepada siapa pun yang mereka jumpai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *