Daerah

Warga Cikarang Utara Bekasi Terpaksa Pakai Air Kali Tercemar, Keluhkan Gatal hingga Diare

3
×

Warga Cikarang Utara Bekasi Terpaksa Pakai Air Kali Tercemar, Keluhkan Gatal hingga Diare

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mandi-Cuci Pakai Air Kali Tercemar, Warga Cikarang Bekasi Alami Gatal hingga Diare

jurnalistik.co.id – BEKASI, warga Kampung Cabang Pintu Air, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, masih bertahan menggunakan air kali yang tercemar untuk kebutuhan sehari-hari. Air itu dipakai untuk mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, mandi, bahkan menjadi tempat bermain anak-anak, meski kondisi air disebut kotor, berbau, dan memicu gatal-gatal hingga diare.

Di permukiman yang berada tepat di dekat aliran kali dan pintu air itu, akses air bersih masih menjadi persoalan lama. Salah satu warga, Rohaya (50), mengatakan dirinya dan keluarga terpaksa tetap memakai air kali karena tidak memiliki akses air bersih sejak puluhan tahun tinggal di wilayah tersebut.

“Udah 25 tahun tinggal di sininya. Kalau lagi airnya kotor banget kadang suka sedih. Terus juga kadang airnya bikin gatal. Kemarin keluarga saya pada diare,” ujar Rohaya saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat (22/5/2026).

Menurut Rohaya, warga biasanya mulai mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga sejak pukul 05.00 hingga 08.00 WIB di aliran kali yang berada tepat di depan permukiman mereka. Aktivitas itu sudah menjadi kebiasaan harian, meski air yang digunakan tidak selalu layak dan kadang berubah sangat keruh.

Rohaya mengaku sempat terkejut ketika melihat adanya aktivitas pembersihan sampah di kali pada Rabu (20/5/2026). Saat itu, ia tengah mencuci piring di tepi aliran air yang sama. “Posisinya saya lagi cuci piring. Emang biasanya warga nyuci kalau pagi,” kata dia.

Air keruh, bau menyengat, tapi tetap dipakai

Meski sudah terbiasa menjalani rutinitas dengan air kali, Rohaya mengaku kondisi air yang sangat kotor kerap menimbulkan keluhan. Saat air memburuk, bau yang muncul disebut menyengat seperti saluran limbah, sehingga membuat warga makin sulit menutup mata terhadap kondisi itu.

“Kalau lagi jelek airnya bau comberan, kayak air septic tan k gitu. Tapi ya tetap digunakan aja airnya. Habis mau bagaimana lagi. Emang kagak ada air, jadi pakai aja yang ada,” ujar Rohaya.

Untuk kebutuhan mandi, Rohaya terkadang harus menumpang di rumah saudara yang memiliki akses air bersih. Namun, untuk mencuci pakaian dan peralatan makan, ia tetap menggunakan air kali karena tidak ada pilihan lain yang bisa dijangkau setiap hari.

Di sisi lain, lingkungan sekitar kali juga dinilai semakin memprihatinkan karena sampah terus menumpuk. Kondisi itu disebut makin berat karena rumah warga berada dekat pintu air, sehingga aliran dan kebersihan kali mudah terdampak oleh tumpukan sampah yang datang berulang kali.

“Di sini mah sampahnya emang numpuk, ini aja baru dibersihkan kemarin udah ada lagi sampahnya. Apalagi ini posisinya di pintu air, emang sudah susah,” ujar dia.

Rohaya menyebut dirinya tetap bertahan tinggal di wilayah itu karena tidak memiliki tempat tinggal lain. Saat ini ia menempati rumah kontrakan di bantaran kali, meski hidup dalam keterbatasan dan bayang-bayang kondisi lingkungan yang serba tidak pasti.

“Masih bertahan karena memang enggak punya tempat. Di sini aja saya mau kena penggusuran,” kata Rohaya.

Keterbatasan ekonomi juga membuat keluarganya tidak mampu memasang pompa air atau membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, air kali yang tercemar tetap menjadi tumpuan utama, meski risikonya sudah mereka rasakan sendiri melalui gatal-gatal dan diare yang dialami anggota keluarga.

“Buat pasang pompa air juga kita enggak mampu buat bayarnya,” ujar Rohaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *