jurnalistik.co.id – Harapan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mencetak terobosan dalam perang di Ukraina pada 2026 mulai dipertanyakan. Setelah lebih dari empat tahun invasi berlangsung, pasukan Moskow disebut belum mampu menembus garis pertahanan utama Ukraina dan juga belum berhasil merebut sepenuhnya wilayah-wilayah sengketa di timur negara itu.
Alih-alih Rusia yang terus maju, Ukraina justru dilaporkan meraih keuntungan teritorial bersih sepanjang tahun ini sambil tetap menimbulkan kerugian besar terhadap pasukan invasi Rusia. Dari berbagai estimasi Barat, korban di pihak Rusia kini berada pada level mendekati atau bahkan melebihi 30.000 hingga 40.000 tentara tewas dan luka setiap bulan. Angka itu dinilai luar biasa besar, terlebih karena hampir tidak ada kemajuan wilayah yang berhasil diraih Rusia di medan perang.
Secara keseluruhan, jumlah korban Rusia sejak invasi dimulai diperkirakan telah melampaui satu juta orang. Jumlah itu disebut tumbuh lebih cepat daripada kemampuan Moskow untuk mengganti personel militernya. Tekanan perang pun mulai terasa di dalam negeri Rusia sendiri, bahkan seorang anggota parlemen Rusia dalam beberapa hari terakhir secara terbuka memperingatkan bahwa ekonomi negara itu mungkin tidak mampu menopang perang berkepanjangan tanpa batas.
Peringatan tersebut muncul di saat belanja pertahanan Rusia terus melonjak dan distorsi ekonomi makin terasa. Putin sendiri baru-baru ini mengatakan perang bisa saja “mendekati akhir”. Pernyataan itu dianggap mengejutkan dari pemimpin yang selama ini menggambarkan konflik Ukraina sebagai perjuangan eksistensial yang membutuhkan pengorbanan tanpa batas waktu.
Perubahan besar di medan tempur
Salah satu faktor utama yang disebut mengubah arah konflik adalah pesatnya perkembangan teknologi drone Ukraina. Jika sebelumnya Ukraina dipandang hanya sebagai negara yang bertahan dari serangan Rusia, kini negara itu mulai dilihat sebagai inovator militer yang mengubah wajah peperangan modern lewat penggunaan sistem otonom produksi massal.
Teknologi drone disebut membalik asumsi awal perang bahwa keunggulan jumlah personel Rusia otomatis akan menentukan kemenangan. Di garis depan, Ukraina kini dikatakan berhasil membangun “zona pembunuhan” sepanjang 10 hingga 15 kilometer, yakni area tempat pasukan Rusia sulit bergerak maju tanpa terkena serangan drone secara terus-menerus.
Drone Ukraina juga rutin menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia. Sasarannya meliputi pangkalan udara militer, pabrik, infrastruktur energi, gudang amunisi, hingga pusat logistik. Kemampuan drone Ukraina mencapai Moskow bahkan disebut ikut memengaruhi ketertarikan Putin terhadap gencatan senjata sementara saat peringatan “Hari Kemenangan” di ibu kota Rusia, agar parade berlangsung tanpa ancaman serangan drone mendadak.
Sebagai pengakuan tidak langsung bahwa Ukraina kini mampu menjangkau Moskow, kantor berita pemerintah Rusia pekan ini melaporkan salah satu serangan drone Ukraina terbesar di dekat ibu kota. Serangan-serangan tersebut memaksa Rusia menyebarkan ulang sistem pertahanan udara, memindahkan pesawat, memperkuat perlindungan infrastruktur, serta mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pertahanan domestik.
Secara militer, Ukraina dinilai berhasil memperluas ruang tempur dan meningkatkan biaya perang bagi Moskow, sementara Rusia sendiri kesulitan memperoleh wilayah baru di medan perang. Tujuan awal perang Putin pun disebut makin jauh dari kenyataan. Saat invasi dimulai, Putin diketahui ingin menundukkan Ukraina sepenuhnya, melemahkan NATO, dan mengembalikan Rusia sebagai kekuatan dominan Eurasia. Kini, fokus pertempuran hanya berkisar di wilayah Donbas di Ukraina timur, tanpa peluang nyata bagi pasukan Rusia untuk merebut Kyiv yang menjadi target awal invasi.
Aliansi NATO juga justru membesar setelah Finlandia dan Swedia resmi bergabung. Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali melontarkan kritik retoris terhadap NATO, belanja pertahanan negara-negara Eropa anggota aliansi justru meningkat signifikan. Dengan kerugian yang terus membengkak, Putin dinilai memiliki sedikit hal konkret untuk ditunjukkan dari perang tersebut, sementara tren di medan tempur disebut terus memburuk dari bulan ke bulan.
Xi Jinping memantau, Trump menimbang
Situasi ini juga dipantau erat oleh Presiden China Xi Jinping, terutama terkait rencana jangka panjang Beijing terhadap Taiwan. Xi sebelumnya telah memerintahkan Tentara Pembebasan Rakyat China untuk siap melakukan operasi perebutan Taiwan pada 2027. Namun militer China hingga kini belum pernah benar-benar diuji dalam perang modern skala besar.
Perang Ukraina memperlihatkan betapa sulitnya mencapai keruntuhan politik cepat terhadap lawan yang memiliki tekad bertahan kuat. Dalam enam bulan ke depan, Xi disebut akan terus mempelajari perkembangan perang Ukraina untuk menimbang keuntungan dan risiko terkait ambisi Beijing terhadap Taiwan.
Amerika Serikat dinilai memiliki peluang memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat kehati-hatian China. Keunggulan Washington disebut terletak pada jaringan aliansi dan kemampuannya menghimpun komitmen negara-negara mitra untuk saling mempertahankan kepentingan bersama. Karena itu, langkah paling strategis saat ini dinilai adalah memperkuat NATO dan dukungan terhadap Ukraina guna menunjukkan kepada Putin bahwa Rusia tidak memiliki peluang membalikkan keadaan, sekaligus memberi pesan kepada Xi bahwa langkah terhadap Taiwan akan menghadapi respons terkoordinasi.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump terus menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mengakhiri perang melalui penyelesaian diplomatik. Kesepakatan damai kemungkinan akan mengharuskan Ukraina memberikan konsesi wilayah tertentu, disertai jaminan keamanan untuk mencegah agresi Rusia di masa depan. Namun diplomasi sejauh ini berjalan buntu.
Ukraina menolak menyerahkan wilayah yang diyakini masih dapat dipertahankan secara militer, sementara Rusia juga enggan menerima kesepakatan tanpa wilayah yang mereka rasa masih bisa direbut. Asumsi dasar diplomasi Trump selama ini adalah bahwa Ukraina sebagai pihak yang lebih kecil harus mengalah atau akan kalah di medan perang. Namun asumsi tersebut kini disebut tidak lagi relevan.
Perubahan situasi di medan tempur justru membuka peluang baru bagi diplomasi. Ukraina kini lebih percaya diri terhadap kemampuan pertahanannya sendiri dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada janji perlindungan Washington. Sebaliknya, Rusia menghadapi masa depan berupa korban perang yang terus meningkat dan tekanan ekonomi tanpa prospek terobosan militer berarti.
Perundingan resmi terakhir yang dimediasi Amerika Serikat berlangsung pada Februari lalu dan sejak itu nyaris tidak ada perkembangan besar. Namun situasi terbaru disebut bisa mengubah arah negosiasi. Bagi Trump, peluang terbaik untuk mengakhiri perang kini bukan lagi dengan menganggap Ukraina lemah, melainkan dengan menyadari meningkatnya kerentanan Rusia.
Tekanan tersebut dinilai bisa menjadi alat tawar baru untuk memaksa tercapainya penyelesaian yang dapat diterima Ukraina maupun Washington. Dalam lanskap yang terus berubah ini, Rusia disebut makin sulit membuktikan bahwa perang panjang tersebut masih bisa menghasilkan kemenangan strategis seperti yang diinginkan Putin sejak awal invasi.












