jurnalistik.co.id – Jerman menjadi salah satu lokasi uji coba penerapan pekan kerja empat hari, melalui proyek percontohan yang melibatkan 45 perusahaan sejak Februari. Kebijakan ini kembali mengemuka setelah pandemi COVID-19 mendorong pekerja dan pemberi kerja meninjau ulang pentingnya fleksibilitas serta tunjangan di tempat kerja.
Gagasan utamanya sederhana: karyawan bekerja empat hari dalam seminggu dengan gaji dan tunjangan yang sama, sekaligus tetap menuntaskan beban kerja yang setara. Dengan format tersebut, perusahaan diharapkan beroperasi dengan lebih sedikit rapat dan lebih banyak pekerjaan dilakukan secara mandiri.
Pendukung skema empat hari menilai model ini berpotensi mengangkat kepuasan pekerja sekaligus produktivitas. Di banyak wilayah Eropa, serikat pekerja juga mendesak pemerintah agar menempuh langkah serupa melalui kebijakan yang lebih luas.
Belgia
Belgia menjadi negara pertama di Eropa yang mengesahkan aturan mengenai pekan kerja empat hari. Pada Februari 2022, karyawan di negara tersebut memperoleh hak untuk menyelesaikan jam kerja mingguan penuh dalam empat hari, tanpa pengurangan gaji dibanding pola sebelumnya yang umumnya berjalan lima hari.
Aturan baru itu mulai berlaku pada 21 November tahun lalu. Warga kemudian dapat memilih untuk bekerja empat atau lima hari dalam seminggu, tetapi pilihannya tidak otomatis berarti waktu kerja menjadi lebih sedikit. Jam kerja yang dipadatkan tetap harus mencapai total mingguan penuh, hanya saja dikerjakan dalam jumlah hari yang lebih sedikit.
Pembenahan jadwal ini diposisikan untuk memberi ruang yang lebih besar bagi masyarakat dan perusahaan dalam mengatur waktu kerja. Perdana Menteri Belgia, Alexander de Croo, menyampaikan harapannya agar pasar tenaga kerja yang dinilai masih kaku bisa menjadi lebih fleksibel serta membantu masyarakat menyeimbangkan kehidupan keluarga dan karier.
“Tujuannya adalah memberikan kebebasan lebih besar bagi masyarakat dan perusahaan dalam mengatur waktu kerja,” ujarnya. “Jika dibandingkan dengan negara lain, kita sering kali terlihat jauh kurang dinamis.”
Di sisi lain, data Eurostat menunjukkan bahwa hanya sekitar 71 dari 100 warga Belgia berusia 20 hingga 64 tahun yang memiliki pekerjaan. Angka ini berada di bawah rata-rata zona euro yang mencapai sekitar 73, serta tertinggal hingga 10 poin persentase dari negara-negara tetangga seperti Belanda dan Jerman pada kuartal ketiga tahun 2021.
Berita Terkait
Kesepakatan koalisi federal tujuh partai kemudian menetapkan target tingkat partisipasi kerja sebesar 80 persen pada tahun 2030. Target tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pendanaan pensiun atau membiayai pemotongan pajak di masa depan.
Namun, gagasan pekan kerja empat hari tidak disambut seragam. Sebagian karyawan purnawaktu disebut tetap harus menjalani hari kerja yang sangat panjang bila memilih memadatkan jam kerja. Pada kelompok pekerja sistem sif, fleksibilitas seperti itu tidak tersedia.
Jerman
Jerman sudah memiliki salah satu rata-rata durasi minggu kerja terpendek di Eropa. Menurut World Economic Forum (WEF), rata-rata minggu kerja di negara ini adalah 34,2 jam.
Meski demikian, serikat pekerja terus mendesak pengurangan jam kerja lebih lanjut. Keinginan tersebut disebut mungkin akan terwujud, meskipun alasan yang melatarinya berkaitan dengan kekurangan tenaga kerja yang dialami negara.
Mulai 1 Februari, 45 perusahaan di Jerman mulai menguji coba sistem kerja empat hari dalam seminggu. Eksperimen tersebut berlangsung total enam bulan dan diperuntukkan bagi perusahaan dengan jenis pekerjaan yang dapat disesuaikan agar durasi minggu kerja lebih singkat.
Inisiatif ini dipimpin oleh konsultan manajemen berbasis di Berlin, Intraprenör, bekerja sama dengan organisasi nirlaba 4 Day Week Global (4DWG). Dalam konteks penerimaan, survei Forsa mencatat 71 persen pekerja di Jerman menginginkan adanya pilihan untuk bekerja hanya empat hari dalam seminggu.
Lebih dari tiga perempat responden menyatakan dukungan agar pemerintah menjajaki kemungkinan penerapan sistem kerja empat hari dalam seminggu. Di kalangan pemberi kerja, lebih dari dua dari tiga pihak juga mendukung gagasan tersebut.
Dari sisi penilaian manfaat, mayoritas besar (75 persen) meyakini sistem empat hari akan bermanfaat bagi karyawan. Pada saat yang sama, sebagian besar responden (59 persen) merasa skema tersebut juga dapat diterapkan oleh pemberi kerja.
Adapun tingkat kelayakan uji coba di tempat kerja, hampir separuh pemberi kerja (46 persen) menyatakan mereka memandang percobaan penerapan minggu kerja empat hari di tempat kerja mereka sebagai hal yang “layak dilakukan”.












