jurnalistik.co.id – Di banyak tempat, kepatuhan pada aturan lokal sering dianggap sederhana, tetapi di level negara aturannya bisa sangat spesifik—bahkan sampai terlihat “aneh” bagi pendatang. Namun, aturan itu biasanya disusun untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kepentingan publik.
Prinsipnya sejalan dengan pepatah, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”: setiap orang diharapkan menyesuaikan diri dengan ketentuan yang berlaku di wilayah yang ditempati. Di bawah ini sejumlah contoh peraturan lintas negara yang bentuknya tidak biasa, tetapi tetap memiliki konsekuensi hukum.
Singapura: denda bila menjual permen karet
Di Singapura, penjualan serta iklan untuk menjual permen karet pada dasarnya dilarang. Aturan ini merujuk pada Sale of Food (Prohibition of Chewing Gum) Regulations, dengan sanksi yang bisa mencapai 2.000 dolar Singapura bagi yang melanggar.
Meski demikian, larangan tersebut tidak berlaku untuk semua jenis permen karet. Produk yang sudah terdaftar, atau yang dikategorikan sebagai produk kesehatan sesuai ketentuan Health Products Act, mendapat pengecualian.
Denmark: pengaturan nama bayi
Denmark menerapkan mekanisme yang memberi orang tua waktu hingga 6 bulan setelah bayi lahir untuk menentukan nama. Pada tahap pencatatan, Agency of Family Law atau Familieretshuset terlibat untuk memenuhi daftar nama yang diinginkan agar dapat digunakan secara resmi.
Pemerintah Denmark menjalankan sistem ini dengan alasan memastikan nama yang diberikan memenuhi ketentuan yang berlaku. Di saat yang sama, proses tersebut ditujukan agar nama yang dipilih tidak berpotensi merugikan pihak yang bersangkutan di kemudian hari.
Jerman: denda bila bensin habis di Autobahn
Berita Terkait
Di Jerman, peraturan untuk situasi di Autobahn dibuat dengan pertimbangan keselamatan lalu lintas. Kendaraan yang harus berhenti karena kehabisan bensin di jalan tol tersebut dapat dikenai denda sebesar 70 euro.
Selain denda, pelanggar juga bisa mendapatkan satu poin di Flensburg. Pengaturan ini dikaitkan dengan karakter Autobahn yang dikenal sebagai ruas jalan berkecepatan tinggi, sehingga berhentinya kendaraan akibat kehabisan bahan bakar dipandang sebagai gangguan yang sebenarnya dapat dicegah.
Australia: pembatasan membawa buah dan sayur
Australia juga memiliki larangan yang berhubungan dengan pergerakan hasil pertanian. Negara ini melarang membawa buah dan sayur secara sembarangan dari satu lokasi ke lokasi lain.
Larangan tersebut mengedepankan alasan biosekuriti, yakni upaya melindungi pertanian serta lingkungan dari hama dan penyakit tanaman. Dengan membatasi perpindahan produk dari suatu tempat, Australia berusaha mencegah risiko penyebaran yang dapat merusak ekosistem dan ketahanan produksi pangan.
Meski terdengar tidak umum, inti dari setiap aturan di negara-negara tersebut relatif serupa: menjaga agar aktivitas masyarakat tetap selaras dengan standar yang diyakini paling aman dan paling melindungi kepentingan publik. Dari permen karet hingga kondisi darurat di jalan tol, semuanya diperlakukan sebagai bagian dari kepatuhan hukum yang tidak boleh diabaikan.
Walau contoh-contoh di atas terasa “tidak biasa”, pola yang sama terlihat pada cara negara membangun kepatuhan. Aturan biasanya tidak hadir tanpa tujuan: ada standar yang ingin dijaga, lalu pelanggaran diperlakukan sebagai gangguan terhadap ruang publik—baik dari sisi keamanan maupun perlindungan orang lain.
Pada praktiknya, sebagian larangan juga disertai batasan yang lebih rinci. Dalam kasus permen karet di Singapura, pengecualian menunjukkan bahwa regulator tidak hanya melarang secara umum, melainkan menilai jenis produk serta kategori yang dianggap memenuhi syarat, lengkap dengan konsekuensi denda untuk pelanggaran.
Di sisi administratif, Denmark menggambarkan pendekatan yang menekankan proses, bukan sekadar larangan. Orang tua diberi jangka waktu hingga 6 bulan setelah kelahiran, sementara keterlibatan lembaga keluarga bertujuan memastikan nama yang dipilih bisa dipakai secara resmi tanpa menimbulkan masalah di kemudian hari.
Sementara itu, Jerman dan Australia menegaskan hubungan langsung antara perilaku sehari-hari dengan tujuan keselamatan serta biosekuriti. Aturan terkait berhentinya kendaraan di Autobahn dipandang sebagai situasi yang dapat dicegah, sedangkan pembatasan membawa buah dan sayur mencegah risiko penyebaran hama dan penyakit yang berpotensi merusak ketahanan pangan.












