Teknologi

Gangguan Sistem Lumpuhkan Layanan Bank di Jepang dan Malaysia, ATM hingga Internet Banking Terganggu

×

Gangguan Sistem Lumpuhkan Layanan Bank di Jepang dan Malaysia, ATM hingga Internet Banking Terganggu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bank Kena Gangguan Berjamaah, ATM hingga Internet Banking Lumpuh

jurnalistik.co.id – Gangguan pada sistem perbankan kembali terjadi di beberapa negara, berdampak langsung pada layanan yang biasanya dipakai masyarakat untuk menarik uang, melakukan transaksi, hingga mengakses internet banking.

Menurut laporan media internasional, insiden serupa melanda industri perbankan di Jepang dan Malaysia, sementara di Eropa sejumlah bank juga menghadapi dampak serangan siber dengan skala kerugian yang signifikan.

Di Jepang, gangguan sistem dilaporkan menghambat layanan 128 bank kredit berbentuk shinkin. Bank-bank ini berada di wilayah Jepang bagian barat, yang meliputi kawasan Tokai.

Shinkin Central Bank, pihak yang mengoperasikan sistem inti bagi jaringan bank shinkin, menyebut gangguan mulai muncul sekitar pukul 13.30 waktu setempat pada 6 November 2025.

Akibat gangguan tersebut, nasabah tidak dapat menjalankan berbagai layanan dasar. Mulai dari penarikan uang tunai, penyetoran, hingga transaksi perbankan yang dilakukan secara daring.

Gangguan juga turut menekan layanan melalui ATM serta layanan di kantor cabang yang tersebar di 3.430 lokasi. Selain itu, layanan transfer melalui ATM serta aktivitas perbankan lain yang bergantung pada sistem inti dilaporkan terpaksa dihentikan sementara.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kapan layanan akan kembali pulih sepenuhnya. Pihak Shinkin Central Bank menyatakan proses pemulihan mengikuti evaluasi internal atas gangguan yang terjadi.

Dalam penjelasannya, Shinkin Central Bank mengaitkan kejadian itu dengan kegagalan komunikasi pada peralatan di West Japan Centre. Lembaga tersebut mengawasi jaringan perbankan di wilayah yang terdampak.

Bank juga menyampaikan bahwa mereka belum mendeteksi adanya akses tanpa izin. Selain itu, untuk sementara pihak bank tidak menduga insiden tersebut berkaitan dengan serangan siber.

Tak hanya Jepang, layanan perbankan daring juga menjadi sasaran di Malaysia. Dalam laporan disebutkan bahwa situs web Bank Rakyat mengalami peretasan.

Mengutip Malaymail.com, Menteri Komunikasi sekaligus juru bicara pemerintah Madani, Datuk Seri Fahmi Fadzil, menyatakan berbagai upaya peretasan yang terdeteksi sejauh ini tidak menyebabkan pencurian data maupun mengganggu operasional sistem perbankan daring.

Fahmi menjelaskan, “Kami telah mengidentifikasi upaya serangan siber oleh aktor non-negara, termasuk peretasan. Namun, sejauh ini tidak ada pencurian data ataupun gangguan terhadap sistem perbankan daring,” ujarnya, dikutip, Sabtu (7/11/2026).

Terkait insiden pada situs web Bank Rakyat, Fahmi menambahkan bahwa serangan tersebut hanya mengubah tampilan situs. Ia juga menyebut sasaran serangan berada pada situs yang dikelola oleh pihak ketiga.

Menurut keterangan Fahmi, Bank Rakyat kemudian memblokir akses ke server yang terdampak. Setelah itu, pengguna dialihkan ke situs i-Rakyat yang sepenuhnya dimiliki oleh bank tersebut.

Di Eropa, insiden siber juga menimbulkan dampak besar pada sektor keuangan. Sebuah bank regional di Prancis dilaporkan mengalami kerugian lebih dari €100 juta akibat serangan siber.

Meski demikian, laporan yang dikutip menyebut bank tersebut berhasil memulihkan sebagian dana. Kerugian yang terjadi dikaitkan dengan akses terhadap sistem dan perpindahan dana ke rekening lain.

Seorang pejabat senior pada Jumat (6/11/2026) mengatakan peretas mengakses sistem Credit Mutuel Arkea. Dalam serangan yang terungkap pada Rabu, dana dikabarkan dipindahkan ke rekening lain.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa dana milik nasabah tidak tersentuh dalam insiden itu. Artinya, meski terjadi perpindahan dana, nasabah tidak menjadi target langsung yang kehilangan dana.

Daniel Baal, Presiden Confederation Nationale du Credit Mutuel (CNCM), menyampaikan bahwa unit khusus pemberantasan kejahatan siber di Prancis sedang menyelidiki serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, Baal mengatakan, “Kami menghadapi serangan siber setiap hari. Untungnya, sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya, berhasil digagalkan,” ujar Baal.

Selain sektor perbankan, serangan siber juga dilaporkan menyasar sejumlah supermarket di setidaknya sembilan negara Eropa. Insiden ini disebut terjadi pada pekan yang sama.

Uni Eropa kemudian memperingatkan adanya upaya yang disengaja untuk mengganggu pasokan pangan. Pernyataan itu merujuk pada indikasi tindakan yang bertujuan menimbulkan gangguan terhadap rantai pasokan.

Rusia, yang telah lama dituduh kerap melancarkan serangan siber terhadap negara-negara Eropa, membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.

Sementara itu, kejadian di Jepang dan Malaysia memperlihatkan variasi dampak serangan maupun gangguan sistem terhadap layanan publik. Dari penonaktifan ATM dan internet banking hingga perubahan tampilan situs, respons masing-masing otoritas dan lembaga juga menjadi sorotan.

Di Jepang, Shinkin Central Bank menekankan gangguan bermula dari masalah komunikasi di peralatan West Japan Centre. Di Malaysia, pemerintah menyoroti tidak adanya pencurian data maupun gangguan operasional sistem daring, serta langkah pemblokiran server terdampak yang diikuti pengalihan pengguna.

Rentang insiden di berbagai wilayah tersebut juga menegaskan pentingnya pemulihan berlapis dan penguatan pengawasan pada infrastruktur digital perbankan. Dengan pola yang berbeda, dampaknya tetap dirasakan pada kelancaran transaksi masyarakat.