jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai langkah pembukaan batas harga saham terendah atau floor price untuk saham berharga rendah (saham gocap) di pasar reguler dan tunai mulai hari ini.
Dari kebijakan itu, ambang Rp50 yang sebelumnya menjadi acuan untuk saham-saham yang berada di level tersebut kini dibuka. Dengan dibukanya batas tersebut, saham yang selama ini telah berada di posisi Rp50 di pasar reguler dan tunai berpotensi bergerak turun hingga menyentuh level Rp1.
Risiko penurunan tersebut bukan sekadar kemungkinan di atas kertas. Dalam kondisi pasar, potensi pembentukan harga menuju Rp1 kian terbuka lebar ketika antrean jual dalam jumlah besar muncul di bursa.
Pembukaan floor price Rp50
Secara spesifik, BEI membuka gembok batas harga saham terendah untuk saham gocap pada pasar reguler dan tunai. Artinya, mekanisme yang sebelumnya menahan pergerakan di level bawah Rp50 tidak lagi berlaku seperti saat batas masih ditutup.
Ketika batas harga terendah telah terbuka, saham-saham yang sudah “terparkir” di level Rp50 menjadi lebih berpeluang mengalami penurunan lanjutan. Dalam skenario ini, level Rp1 disebut sebagai titik yang masih mungkin terbentuk, mengikuti dinamika permintaan dan penawaran.
Untuk pasar seperti ini, pergerakan harga umumnya sangat dipengaruhi oleh kekuatan jual. Sumber menyebut bahwa potensi penurunan ke Rp1 makin besar apabila antrean jual besar mengisi pasar.
Dengan demikian, fokus perhatian bergeser dari sekadar status saham yang berada di batas Rp50, menuju bagaimana antrean jual terbentuk setelah pembukaan batas tersebut diberlakukan mulai hari ini.
Contoh pada DADA
Berita Terkait
Ilustrasi yang dipakai dalam laporan tersebut datang dari PT Diamond Citra Propertindo Tbk, yang diperdagangkan dengan kode DADA. Dalam penelusuran Tim Riset Bloomberg Technoz, disebutkan bahwa puluhan ribu investor ritel masih tercatat memegang saham DADA.
Keterkaitan antara komposisi pemegang saham dan dinamika perdagangan tampak dari aktivitas jual yang muncul setelah batas Rp50 dibuka. Pada DADA, antrean jual pada harga Rp50 per saham disebut membludak.
Antrean jual tepat di harga Rp50 per saham tercatat mencapai 2,48 juta lot. Angka ini menunjukkan besarnya tekanan dari sisi penawaran jual pada level harga tersebut.
Namun, tekanan jual yang besar tidak selalu diikuti dengan nilai perdagangan yang sama besarnya dalam satuan harian. Pada DADA, nilai transaksi harian disebut hanya Rp28 juta.
Perpaduan antara antrean jual yang besar dan nilai transaksi harian yang relatif terbatas menjadi konteks yang mendukung skenario pembentukan harga lebih rendah, selama pembukaan batas harga terendah memang sudah berjalan.
Karena itu, rujukan laporan mengaitkan kondisi bursa setelah hari ini dengan peluang penurunan lanjutan pada saham gocap yang sebelumnya bertumpu pada level floor Rp50.
Secara keseluruhan, laporan menempatkan pembukaan gembok batas harga saham gocap sebagai pemicu perubahan struktur pergerakan harga. Ketika batas terendah telah dibuka, saham pada level Rp50 tidak lagi “terkunci” seperti sebelumnya.
Dalam kerangka yang sama, potensi penurunan hingga Rp1 dinyatakan makin lebar bila antrean jual besar muncul. Pada contoh DADA, gambaran antrean jual 2,48 juta lot pada harga Rp50 memperlihatkan bahwa tekanan jual dapat menjadi faktor yang mendorong peluang pembentukan harga lebih rendah setelah pembukaan batas.
Mulai hari ini, pasar reguler dan tunai bergerak dengan acuan baru. Dengan floor price Rp50 yang dibuka, perhatian investor kemudian tertuju pada apakah dinamika antrean jual benar-benar menekan harga hingga mendekati level Rp1 pada saham-saham gocap yang berada di kisaran tersebut.












