Bisnis & Ekonomi

GOTO Angkat Bicara Setelah Saham Kembali Melemah di Perdagangan Pagi Ini

×

GOTO Angkat Bicara Setelah Saham Kembali Melemah di Perdagangan Pagi Ini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tanggapan GOTO Usai Saham Kembali Melemah - Market

jurnalistik.co.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menyampaikan tanggapan setelah harga sahamnya kembali melemah dan tertekan di lantai bursa pada perdagangan pagi ini, Senin (28/9/2026). Dalam penjelasan yang disampaikan, manajemen menyebut penurunan harga tersebut belum merefleksikan kondisi bisnis perseroan yang menurut mereka terus menguat.

Head of Corporate Affairs GOTO, Audrey Petriny, menegaskan bahwa pergerakan harga saham saat ini tidak menggambarkan fundamental perusahaan. Penilaian itu disampaikan saat aktivitas perdagangan pada awal sesi menunjukkan tekanan jual yang cukup besar di papan.

Berdasarkan data perdagangan, saham GOTO kembali menyentuh level auto reject bawah (ARB) di harga Rp43 per saham. Di saat yang sama, tercatat antrean jual mencapai 1 miliar lot, yang memperlihatkan adanya dorongan distribusi berlebih dari pelaku pasar pada momen tersebut.

Merespons kondisi itu, GOTO mengaitkan kinerja saham yang tengah tertekan dengan ketidaksesuaian antara harga di perdagangan dan daya dukung fundamental perseroan. Perusahaan juga mengingatkan bahwa setelah pencatatan saham perdana pada April 2022, GOTO pernah menjadi salah satu emiten dengan valuasi yang sempat menembus kapitalisasi sekitar US$32 miliar.

Pergerakan Saham dan Pengaruhnya terhadap IHSG

Koreksi yang terjadi pada saham GOTO kemudian turut memberi dampak ke pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada lanjutan perdagangan, tekanan dari saham tersebut disebut menekan IHSG hingga 12,9 poin.

Saham GOTO memiliki bobot yang relatif besar terhadap indeks komposit, sehingga perubahan harga pada saham ini berpotensi ikut mengarahkan arah pergerakan IHSG. Ketika harga melemah dan mengikuti mekanisme auto reject bawah, efeknya dapat terbaca pada perhitungan indeks secara agregat.

Di sisi lain, manajemen tetap menjaga narasi bahwa kenaikan atau penguatan fundamental perusahaan seharusnya menjadi pertimbangan utama, meskipun dinamika pasar di sesi pagi sedang bergerak ke arah yang sebaliknya. Dengan latar tersebut, perusahaan menyampaikan bahwa harga saham yang kembali melemah tidak sejalan dengan perkembangan bisnis yang mereka tekankan.

Periode ini menjadi ujian tersendiri bagi sentimen pasar terhadap GOTO, terutama ketika antrean jual yang tercatat begitu besar dan harga langsung menyentuh batas ARB. Kendati demikian, penjelasan dari GOTO menempatkan isu fundamental sebagai rujukan, sekaligus menyatakan keyakinan bahwa nilai perusahaan tidak hanya dapat dilihat dari satu titik pergerakan harga di lantai bursa.

Seiring perdagangan berlanjut, pasar akan menilai apakah tekanan jual dapat mereda atau justru berlanjut. Namun, dari informasi yang disampaikan GOTO pada awal sesi, fokus perusahaan tetap pada keterkaitan antara fundamental bisnis dan penilaian investor, serta pada ketidaksesuaian yang mereka anggap terjadi saat saham kembali tertekan.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan memposisikan penurunan harga sebagai fenomena yang lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika transaksi jangka pendek. Manajemen menilai bahwa respons investor di lantai bursa pada awal sesi belum cukup untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi di perseroan, sehingga pembacaan pasar dinilai perlu melihat konteks bisnis yang terus berjalan dan menguat.

Selain itu, catatan aktivitas perdagangan yang menunjukkan dorongan distribusi berlebih ikut mempertegas bahwa tekanan yang muncul cenderung bersifat mekanistik. Ketika harga kembali menyentuh batas auto reject bawah, sinyal di papan dapat menjadi pemicu lanjutan untuk pergerakan berikutnya, termasuk bagi saham-saham yang memiliki peran dalam perhitungan indeks komposit.

Ke depan, fokus penilaian pasar dapat bergeser dari sekadar reaksi sesaat menuju evaluasi berkelanjutan atas kesesuaian antara harga saham dan narasi fundamental yang disampaikan manajemen. Dengan menempatkan fundamental sebagai rujukan, GOTO berharap sentimen tidak hanya ditarik dari satu momen pergerakan, melainkan mempertimbangkan arah bisnis yang mereka yakini tetap kuat.