Bisnis & Ekonomi

Net Sell Rp3 T, Investor Asing Lepas Saham Bank pada 21–25 September

×

Net Sell Rp3 T, Investor Asing Lepas Saham Bank pada 21–25 September

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Investor Asing Net Sell Rp 3 T Pekan Lalu, Saham Bank Dilepas - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan saham pada pekan 21–25 September 2026 mencatat tekanan di pasar ekuitas Indonesia. IHSG melemah 3,1% secara point-to-point ke level 6.241,9.

Pada periode yang sama, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp3 triliun. Arus dana tersebut turut memperbesar sentimen negatif di pasar reguler.

Jika ditarik ke akumulasi tahun berjalan, net sell investor asing di pasar reguler sepanjang 2026 telah mencapai Rp104,8 triliun. Dengan demikian, pekan tersebut menjadi salah satu periode yang menambah akumulasi arus keluar modal asing.

Arus asing berlanjut, IHSG ikut tertekan

Bank dan sejumlah emiten besar menjadi lokasi utama distribusi saham oleh investor asing pada periode 21–25 September. Pergerakan IHSG yang turun mencerminkan dominasi tekanan jual dibanding pembelian.

Di level emiten, pola pelepasan saham terlihat paling menonjol pada sektor perbankan. Nilai net sell terbesar berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp957,55 miliar.

Mandiri jadi kontributor net sell terbesar

BMRI mencatat pelemahan setelah tekanan jual investor asing. Saham BMRI turun 4,23% dan ditutup pada harga Rp4.080 per saham pada akhir perdagangan pekan yang dimaksud.

Besarnya net sell BMRI juga menguatkan gambaran bahwa investor asing memang mengurangi kepemilikan pada beberapa saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini turut membentuk komposisi pergerakan pasar selama rentang 21–25 September.

Selain BMRI, investor asing juga tercatat menekan sejumlah saham lain dengan nilai net sell yang besar. Dalam daftar 10 saham dengan net sell terbesar sepanjang perdagangan 21–25 September, urutannya dimulai dari BMRI (Rp957,55 miliar) disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp707,92 miliar.

Berikutnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat net sell Rp491,05 miliar, lalu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) Rp229,45 miliar. Setelah itu terdapat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp139,18 miliar dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) senilai Rp121,63 miliar.

Daftar berlanjut ke PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) dengan net sell Rp101,43 miliar, serta PT Indosat Tbk (ISAT) Rp100,27 miliar. Selanjutnya, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat net sell Rp79,2 miliar, sedangkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencapai Rp78,33 miliar.

Di tengah net sell, ada saham yang justru dibeli

Meskipun investor asing secara agregat melakukan net sell sebesar Rp3 triliun, terdapat juga emiten yang mengalami net buy pada periode yang sama. Pada 21–25 September, investor asing mencatat pembelian bersih terbesar pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) senilai Rp76,81 miliar.

Respons pasar mengikuti tren pembelian tersebut. Saham MDKA bergerak menguat 5,86% dan ditutup pada posisi Rp3.070 per saham.

Perbedaan antara saham yang dilepas dan yang dibeli bersih memberi gambaran bahwa penyesuaian portofolio investor asing tidak sepenuhnya seragam untuk seluruh emiten. Pada saat yang sama, arus keluar bersih secara total tetap mendominasi terhadap arah IHSG pekan tersebut.

Dengan IHSG yang melemah ke 6.241,9 serta net sell investor asing mencapai Rp3 triliun, perhatian pasar kemudian beralih pada kelanjutan seleksi saham oleh pelaku asing. Akumulasi net sell sepanjang 2026 yang telah mencapai Rp104,8 triliun menjadi latar penting untuk melihat kecenderungan arus modal pada periode berikutnya.

Melihat komposisi 10 saham dengan net sell terbesar, perbankan tampil sebagai salah satu sektor yang paling terdampak. BMRI menjadi yang terbesar dengan Rp957,55 miliar, sementara BBRI dan TLKM menyusul dengan net sell Rp707,92 miliar dan Rp491,05 miliar.

Di sisi lain, keberadaan MDKA yang mencatat net buy senilai Rp76,81 miliar menunjukkan adanya posisi yang justru diperbesar oleh investor asing. Kondisi tersebut menegaskan bahwa meski tekanan utama datang dari net sell, masih ada ruang pergerakan berbasis seleksi di tingkat saham.