Bisnis & Ekonomi

Kemarau Berbulan-bulan Dorong Inflasi Gorontalo 5,64% pada September 2026

×

Kemarau Berbulan-bulan Dorong Inflasi Gorontalo 5,64% pada September 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemarau Panjang Picu Inflasi Gorontalo 5,64 Persen

jurnalistik.co.id – Kemarau panjang yang berlangsung lebih dari empat bulan telah memunculkan tekanan harga di Gorontalo, khususnya pada periode September 2026. Dampaknya, inflasi Kota Gorontalo pada bulan tersebut tercatat sebesar 5,64%.

Angka 5,64% itu juga disebut menjadi capaian tertinggi ketiga secara nasional. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Biro Pengendalian Ekonomi dan Pembangunan Debby Habibie dalam paparan terkait kondisi inflasi di daerah.

Debby menjelaskan bahwa beberapa komoditas menjadi pemicu utama kenaikan inflasi. Produk yang disebut berkontribusi antara lain cabe merah, cabe keriting, beras, telur, serta daging ayam.

Di antara komoditas tersebut, cabe keriting disebut sudah menembus harga Rp140 ribu per kilogram. Lonjakan harga cabai jenis ini turut memperkuat tekanan inflasi karena berpengaruh pada kebutuhan konsumsi harian masyarakat.

Debby menegaskan bahwa kondisi inflasi tersebut mendapat perhatian pemerintah provinsi. Ia menyatakan, “Inflasi ini menjadi atensi pemerintah provinsi. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan mengambil langkah-langkah strategis untuk kembali menekan sebaik mungkin,” kata Debby pada Rabu (14/10/2026).

Menurut Debby, kemarau panjang tidak hanya berdampak pada sektor produksi, tetapi juga mengganggu ritme musim panen. Ketika proses produksi dan panen terganggu, ketersediaan barang di pasar cenderung menurun dan mendorong harga bergerak naik.

Dalam kondisi pasokan yang berkurang, harga di tingkat konsumen menjadi lebih sulit dikendalikan. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi daya beli warga, karena pengeluaran harian harus menyesuaikan dengan harga yang meningkat.

Gangguan pasokan dan tekanan harga

Debby menyebut bahwa masalah pasokan menjadi salah satu rangkaian yang memperjelas kenapa inflasi dapat meningkat. Saat pasokan komoditas tertentu menurun, pasar akan merespons dengan penyesuaian harga, terutama pada barang yang permintaannya relatif stabil.

Situasi ini berkaitan langsung dengan periode kemarau yang telah berjalan lebih dari empat bulan. Dampak cuaca mengurangi optimalisasi produksi, sehingga pasokan komoditas pangan seperti beras, telur, dan daging ayam ikut merasakan efek keterlambatan atau penurunan ketersediaan.

Selain pangan, komoditas sayur yang harganya sensitif terhadap perubahan cuaca juga mengalami tekanan. Cabe merah dan cabe keriting menjadi contoh yang paling menonjol karena keduanya sangat dipengaruhi oleh kondisi produksi dan ketersediaan pasokan.

Kenaikan pada komoditas-komoditas tersebut akhirnya memperluas dampak ke inflasi secara keseluruhan. Ketika beberapa komponen harga bergerak bersamaan, tekanan inflasi cenderung semakin terasa di periode yang sama.

Langkah penekanan inflasi dari Pemprov Gorontalo

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah provinsi menyatakan akan menyiapkan langkah-langkah strategis. Fokusnya adalah menekan laju inflasi agar harga-harga kebutuhan pokok kembali lebih terkendali.

Langkah pertama yang disebut adalah menggelar pasar murah bersubsidi di sejumlah lokasi. Kebijakan ini diarahkan agar masyarakat dapat memperoleh komoditas dengan harga yang lebih terjangkau, terutama pada masa ketika pasokan berpotensi masih terbatas.

Selain pasar murah, pemerintah provinsi juga akan menyerahkan Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo, atau BLP3G. Program bantuan tersebut diposisikan sebagai dukungan yang membantu mengurangi tekanan biaya hidup yang muncul akibat kenaikan harga di pasar.

Dalam skema pengendalian inflasi, TPID akan mengambil langkah-langkah strategis sesuai penekanan yang disampaikan Debby. Upaya tersebut diharapkan dapat mengembalikan kondisi harga ke arah yang lebih stabil melalui kombinasi intervensi pasokan dan dukungan daya beli.

Dengan latar belakang kemarau yang telah berlangsung lebih dari empat bulan, tantangan utamanya adalah memulihkan ketersediaan komoditas. Ketika suplai mulai kembali, harga berpotensi turun atau setidaknya tidak terus mengalami kenaikan signifikan.

Di sisi lain, penanganan juga perlu mempertimbangkan karakter komoditas pemicu inflasi yang disebut, mulai dari cabai hingga bahan pangan. Perpaduan respons cepat pada kebutuhan yang paling terasa dampaknya bagi warga dinilai penting agar inflasi September 2026 tidak berlanjut menjadi tekanan yang lebih panjang.

Secara keseluruhan, inflasi Kota Gorontalo pada September 2026 yang mencapai 5,64% menjadi indikator bahwa gangguan kemarau berdampak pada ekonomi rumah tangga. Pergerakan harga pada cabe merah, cabe keriting, beras, telur, dan daging ayam menjadi faktor yang memperjelas arah tekanan inflasi saat itu.

Dengan angka yang disebut tertinggi ketiga secara nasional, respons pemerintah provinsi diharapkan bisa berjalan terukur. Melalui pasar murah bersubsidi serta penyaluran BLP3G, Pemprov Gorontalo menargetkan penurunan tekanan harga sehingga daya beli masyarakat dapat kembali terjaga.