jurnalistik.co.id – Rupiah diproyeksikan bergerak cenderung defensif pada perdagangan Kamis (17/9/2026), mengikuti respons pasar terhadap langkah The Fed yang bersifat hawkish dan mengerek suku bunga acuan.
Tekanan terbesar datang dari dolar AS yang tetap memperoleh dukungan setelah keputusan kebijakan moneter tersebut diambil.
Di sisi komponen harga, minyak disebut sudah mengalami pemangkasan, sehingga sebagian sentimen penopang dolar tidak sepenuhnya tertahan oleh pergerakan komoditas.
Namun, pasar masih menilai ruang penurunan dolar terbatas, sebab ekspektasi suku bunga tetap menjadi penentu utama arus modal jangka pendek.
Pergerakan rupiah pada pasar Non-Deliverable Forward (NDF) relatif stabil pada sekitar pukul 06.11 WIB.
Pada fase awal itu, rupiah tercatat menguat terbatas sebesar 0,04% menjadi Rp17.769/US$.
Setelahnya, mata uang Garuda bergerak menguat tipis lagi sebesar 0,12% ke level Rp17.754/US$.
Perubahan yang tergolong incremental tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar menahan posisi, sambil menunggu sinyal lanjutan dari kebijakan The Fed.
Di saat yang sama, mata uang Asia di pasar yang sudah lebih dulu buka juga bergerak beragam, mencerminkan pergeseran sentimen regional yang tidak sepenuhnya seragam.
Pelemahan terbatas terjadi pada won Korea Selatan, diikuti pergerakan dolar Singapura yang cenderung melemah.
Sebaliknya, yuan China dan dolar Hong Kong cenderung lebih defensif, sehingga tidak ikut tertekan seperti dua mata uang lain.
Komposisi pergerakan tersebut menggambarkan bahwa perbedaan respons terhadap dolar AS lebih banyak dipengaruhi posisi masing-masing mata uang terhadap faktor global, bukan hanya faktor domestik.
Di tingkat global, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat hingga 100,25.
Berita Terkait
Penguatan itu terjadi setelah kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang sebelumnya sudah diperkirakan pelaku pasar.
Dengan kata lain, meski kenaikannya sudah tercakup dalam ekspektasi awal, dolar tetap mampu mempertahankan kekuatan karena pasar menilai jalur kebijakan selanjutnya masih cenderung mengarah pada suku bunga yang lebih tinggi untuk periode berjalan.
Besar kenaikan FFR diputuskan melalui Federal Open Market Committee (FOMC) yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75%-4%.
Rentang kisaran tersebut menjadi rujukan baru yang kemudian memengaruhi kalkulasi biaya dana dalam dolar serta daya tarik instrumen berbasis USD.
Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan, “Keputusan yang kami ambil hari ini adalah keputusan yang matang, serius, dan bertanggung jawab, yang telah kami persiapkan dan pikirkan selama seratus sepuluh atau dua puluh hari saya berada di sini,”
Kalimat tersebut dipandang pasar sebagai penegasan sikap kebijakan yang telah disiapkan secara matang, sekaligus menguatkan kesan bahwa perubahan arah kebijakan tidak terjadi secara mendadak.
Meski demikian, reaksi harian tetap terlihat dalam bentuk pergerakan yang tidak ekstrem, terutama pada rupiah di pasar NDF yang cenderung bergerak dalam koridor sempit.
Stabilitas relatif itu bisa terbaca sebagai fase konsolidasi, ketika pasar belum sepenuhnya beralih dari posisi defensif karena menunggu dampak lanjutan terhadap arus dana.
Dengan dolar AS yang indeksnya menguat dan suku bunga acuan berada di kisaran baru 3,75%-4%, prospek rupiah diproyeksikan tetap menghadapi tekanan, setidaknya sampai ada pemicu baru yang mampu mengubah ekspektasi pasar.
Dalam konteks tersebut, keputusan The Fed menjadi variabel dominan yang membuat sentimen nilai tukar lebih mudah bergerak mengikuti kekuatan dolar ketimbang memanfaatkan peluang pelemahan berkelanjutan pada mata uang AS.
Perdagangan yang cenderung “tahan posisi” itu juga terlihat dari cara pelaku pasar merespons penyesuaian imbal hasil dolar yang ikut terserap ke harga instrumen jangka pendek.
Karena arus dana masih dipandu ekspektasi atas kebijakan suku bunga lanjutan, pelemahan rupiah menjadi sulit muncul secara tajam, tetapi penguatan pun berjalan terbatas mengikuti ritme koreksi dolar di pasar.
Dengan demikian, pergerakan rupiah lebih menggambarkan dinamika konsolidasi—menunggu konfirmasi lanjutan—ketimbang menandai perubahan tren besar, terutama ketika indikator global seperti penguatan indeks dolar terus menjadi acuan utama.












