jurnalistik.co.id – Bitcoin kembali berada dalam tekanan di tengah kekhawatiran pasar menjelang potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Pergerakan ini ikut “gerogoti” sentimen kripto, terutama ketika pelaku pasar menunggu keputusan rapat FOMC dalam waktu dekat.
Pada Rabu, pasar mata uang kripto menghadapi dorongan negatif setelah Amerika Serikat gagal mengesahkan rancangan undang-undang regulasi penting. Kegagalan tersebut membuat industri kripto kehilangan dukungan sentimen, sehingga harga-harga cenderung sulit menguat.
Di awal perdagangan New York, Bitcoin terlihat relatif stabil di kisaran US$75.900. Kendati begitu, performa itu datang setelah penurunan hingga 5% pada sesi sebelumnya, yang memperlihatkan risiko masih melekat pada aset berisiko.
Secara umum, mata uang kripto lainnya juga bergerak pada level yang tidak jauh berbeda. Setelah mengalami penurunan tajam sehari sebelumnya, pasar tampak memilih sikap menunggu ketimbang mengejar kenaikan yang cepat.
Sejumlah investor sebelumnya menggantungkan harapan pada Clarity Act, sebuah rancangan undang-undang yang membentuk kerangka pasar kripto. RUU tersebut telah dibahas lebih dari setahun dan sempat dipandang bisa membantu pasar keluar dari kelesuan selama 11 bulan.
Namun, harapan itu menghadapi hambatan besar. RUU tersebut dinilai memiliki peluang kecil untuk dilanjutkan di Senat minggu ini, terutama di tengah perselisihan politik yang masih berlangsung.
Inflasi dan imbal hasil obligasi jadi pemicu kekhawatiran Kini, perhatian pasar bergeser ke faktor makro yang berpotensi mengubah ekspektasi kebijakan. Kekhawatiran inflasi dan melonjaknya imbal hasil obligasi AS diperkirakan akan menekan selera risiko investor.
Dalam skenario itu, Ketua Fed Kevin Warsh diproyeksikan mengambil langkah menaikkan suku bunga pada hari Rabu. Ekspektasi tersebut menjadi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat kembali meningkat, yang biasanya tidak menguntungkan aset berisiko seperti Bitcoin.
Berita Terkait
Tekanan terhadap Bitcoin bukan hanya soal arah harga harian, melainkan juga persepsi pasar terhadap prospek permintaan. Ketika suku bunga diperkirakan naik, pasar cenderung menilai aset volatil akan menghadapi tantangan dalam menarik arus dana.
Dengan demikian, lonjakan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran inflasi bekerja sebagai latar yang membuat pergerakan kripto cenderung lebih sensitif terhadap kabar ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, sentimen regulasi yang sebelumnya dinanti ikut bertabrakan dengan bayang-bayang pengetatan moneter.
Di sisi lain, kegagalan pengesahan regulasi di AS mempertegas bahwa agenda pembuat kebijakan juga belum memberikan kepastian. Ketidakpastian semacam itu sering membuat pelaku pasar menahan posisi, sehingga likuiditas dan minat pembelian bisa tidak langsung pulih.
Sementara itu, posisi Bitcoin yang bertahan di sekitar US$75.900 tetap mencerminkan sikap “tunggu dulu” pasar. Setelah sempat turun hingga 5% di sesi sebelumnya, pergerakan yang tampak stabil di awal perdagangan New York menunjukkan upaya mempertahankan level, tetapi tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi menentukan arah berikutnya.
Menjelang rapat FOMC, pelaku pasar cenderung menahan diri karena setiap sinyal kebijakan berpotensi langsung memengaruhi ekspektasi suku bunga. Dalam situasi seperti ini, fluktuasi harga sering tidak semata dipicu oleh aksi beli baru, melainkan oleh penyesuaian posisi berdasarkan perkiraan skenario.
Ketika ketegangan antara faktor regulasi dan faktor moneter bertemu, pasar kripto bisa menjadi lebih selektif. Regulasi yang tak kunjung memberikan kepastian membuat ruang optimisme menyempit, sementara perhatian yang meningkat pada inflasi dan imbal hasil obligasi menambah kehati-hatian investor dalam menanggung risiko volatilitas.
Selain Bitcoin, pergerakan mata uang kripto lain juga menunjukkan pola yang sejalan: kecenderungan menunggu setelah penurunan sebelumnya, dengan respon yang lebih berhati-hati terhadap kabar ekonomi. Bagi sebagian pelaku, menunggu kejelasan merupakan strategi untuk menghindari keputusan cepat sebelum arah pasar benar-benar terbentuk.
Dengan Bitcoin masih berada di kisaran yang relatif sama pasca penurunan sesi sebelumnya, pasar seperti sedang “mengukur” reaksi terhadap perkembangan terbaru. Apabila ekspektasi kenaikan suku bunga menguat, tekanan terhadap aset berisiko dapat kembali meningkat, sedangkan bila situasi mereda, ruang pemulihan sentimen berpotensi muncul secara bertahap.












