jurnalistik.co.id – Sudono Salim, yang dikenal juga sebagai Liem Sioe Liong, meninggalkan jejak panjang sebagai salah satu konglomerat terbesar Indonesia. Di balik bangunan bisnisnya yang luas, ia menyimpan kebiasaan lain yang jarang dibicarakan: rutinitas mencari petunjuk spiritual di Gunung Kawi, Jawa Timur.
Bagi Salim, perjalanan yang berulang dari Surabaya ke Gunung Kawi tidak diposisikan sebagai ziarah biasa. Ia datang dengan keyakinan bahwa keputusan-keputusan penting akan lebih tepat bila selaras dengan bisikan gaib dan arahan spiritual yang diyakini datang dari peramal.
Gunung Kawi sendiri dikenal sebagai kawasan yang melegenda dalam tradisi ritual untuk permohonan petunjuk dan ramalan. Dalam kerangka itu, Salim menempatkan ritual di lokasi tersebut sebagai bagian dari cara berpikir sebelum melangkah lebih jauh dalam proyek-proyek berisiko besar.
Catatan literatur Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebut bahwa Salim secara rutin menjalani perjalanan darat selama tiga jam untuk menempuh rute Surabaya–Gunung Kawi. Kebiasaan itu tercatat dilakukan sebanyak tiga hingga lima kali dalam setahun, dengan penekanan pada kesiapan mental sebelum memulai langkah bisnis berikutnya.
Ketika sudah tiba di lokasi, ia lazimnya berdiam di sebuah kuil Tionghoa. Di sana, ia menjalani ritual dan meminta fatwa peramal sebelum meluncurkan atau mengarahkan proyek-proyek mega-korporasi yang ia rencanakan.
Dalam deskripsi yang dihimpun Borsuk dan Chng, cara-cara gaib kerap menjadi sandaran Liem saat mencari keputusan yang dinilai tepat. Salah satu praktik yang disebut adalah menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi lidi-lidi dengan tulisan tertentu, hingga sebatang lidi keluar. Tulisan pada lidi tersebut kemudian dibaca dan ditafsirkan oleh rahib atau peramal.
Nasihat dari peramal itu tidak ditempatkan sebagai referensi biasa. Salim dikisahkan menelan pesan tersebut mentah-mentah dan meyakininya secara mutlak, seolah mengabaikannya berarti membuka jalan bagi keputusan yang berpotensi salah hingga berujung pada kebangkrutan.
Keyakinan serupa juga disebut ikut memandu urusan yang lebih teknis, seperti penentuan letak dan spesifikasi fisik kantor yang diyakini dapat membawa hoki. Dengan kata lain, keputusan spiritualnya tidak berhenti pada langkah besar, tetapi merembet ke detail operasional yang dianggap menentukan.
Kisah ini juga terikat pada sejumlah momen historis yang memperlihatkan cara Salim membangun jaringan. Salah satu bagian penting terjadi pada 1975, ketika ia bertemu Mochtar Riady secara tidak sengaja dalam penerbangan menuju Hong Kong.
Berita Terkait
Dalam perbincangan itu, Riady menyampaikan ambisinya untuk mendirikan bank baru. Pada saat yang sama, Salim tengah memikirkan figur yang dinilai mampu mengelola Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan Bank Central Asia (BCA).
Melihat kapasitas Riady yang dinilai mumpuni, Salim kemudian mengajak dan mengupayakan kolaborasi. Dari titik itulah, kesamaan visi disebut menjadi batu loncatan yang mendorong BCA tumbuh pesat menjadi bank swasta terbesar di Indonesia sejak dekade 1980-an hingga hari ini.
Dalam pandangan yang disajikan, rangkaian pilihan itu tidak semata lahir dari kalkulasi bisnis yang dingin. Ada dorongan lain yang datang dari keyakinan spiritual yang menyertai perhitungan strategisnya.
Salim dalam kutipan yang disebutkan menyatakan bahwa, “Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau ‘aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mochtar’.” Kalimat tersebut menjadi pengikat narasi bahwa arahan spiritualnya seolah menuntun arah investasi dan kemitraan yang kemudian menentukan jalur bisnis.
Kepercayaan atas petunjuk itu, dalam cerita yang sama, juga muncul pada fase yang lebih awal. Sebuah episode legendaris disebut terpatri pada 1968, saat Salim bersiap merintis usaha bersama dengan kelompok elit konglomerat yang dijuluki Gang of Four.
Gang of Four dalam catatan tersebut beranggotakan Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad. Alih-alih meniru pola umum konglomerat yang cenderung memilih ruang kantor mewah dan lapang, Salim disebut justru bersikeras menentukan kantor dengan ukuran sempit.
Di tempat itu hanya tersedia satu meja, satu unit telepon, dua buah kursi, serta tanpa pendingin udara (AC). Alasan yang dikemukakan sederhana: lokasi tersebut memiliki feng shui yang diyakini membawa tuah keberuntungan.
Apakah hasilnya benar-benar sesuai keyakinan atau tidak, waktu yang pada akhirnya menjawab. Kongsi bisnis yang dirintis bersama Gang of Four kemudian tumbuh menggurita dan bertransformasi menjadi fondasi kokoh bagi ekspansi seluruh lini bisnis Salim Group.
Melalui rangkaian kisah tersebut, gambaran yang muncul adalah potret seorang pelaku usaha yang tidak memisahkan dunia angka dengan dunia keyakinan. Rutinitas bolak-balik ke Gunung Kawi, ritual di kuil Tionghoa, cara menafsirkan lidi hingga keputusan menit-menit akhir, semuanya digambarkan sebagai bagian dari cara Salim membaca arah perjalanan bisnisnya.
Pada akhirnya, apa pun penilaiannya dari sisi rasionalitas, narasi yang tersisa memperlihatkan bagaimana Salim menjalankan keyakinan spiritual sebagai kompas sebelum keputusan besar diambil. Tradisi itu terus menyertai langkahnya, dari pertemuan yang membentuk kemitraan hingga detail ruang kerja yang diyakini membawa hoki.







