jurnalistik.co.id – Aberdeen, kota pelabuhan di Skotlandia, sedang menjalankan rencana yang terbilang ambisius untuk menghidupkan pusat kota dan high street. Langkah itu diarahkan untuk mengisi etalase yang kosong sekaligus memanfaatkan kembali lantai atas bangunan yang selama ini terbengkalai.
Jika Anda datang melalui stasiun dan masuk ke area pusat, bangunan kosong bekas Marks & Spencer adalah salah satu pemandangan pertama yang langsung terlihat. Papan nama sudah tidak ada, namun bentuk hurufnya masih tersisa; jendela tampak gelap, sementara pintu ditutup papan.
Kondisi seperti itu, menurut penulis di BBC, menjadi gambaran tentang perubahan yang dialami high street. Di masa remaja, Union Street—jalur utama yang juga dijuluki “Granite Mile” karena batu granit abu-abu perak setempat—adalah tempat mencoba busana terbaru dari berbagai merek.
Namun kini, Union Street dipenuhi toko yang tutup. Marie Sim, warga Aberdeen yang telah lama tinggal di sana, mengeluhkan bahwa “I come to Union Street to take a bus somewhere else… there’s nothing to shop for now… it’s horrendous.” Ia menggambarkan rutinitas yang berubah karena tidak ada lagi pilihan belanja yang menarik di sana.
Secara nasional, pola kemunduran serupa terlihat: high street yang dulu ramai mulai tertekan oleh pusat ritel di luar kota, lalu oleh perdagangan daring. Aberdeen berada di “titik tengah” rencana pemulihan yang mencoba memutus siklus tersebut dengan pendekatan yang sangat langsung.
Pemerintah kota menyebut persoalan toko kosong sebagai sesuatu yang perlu diperangi, dan mengambil cara yang tidak hanya menunggu pasar bergerak. Mereka berupaya mengisi unit-unit yang kosong serta menghidupkan kembali ruang-ruang atas yang sebelumnya jarang disentuh.
Selain itu, dana publik juga diarahkan untuk membuat pusat kota kembali menjadi tujuan. Seperti banyak wilayah lain, Aberdeen memaksimalkan konsep “experience economy”, termasuk pasar indoor untuk makanan dan minuman serta proyek besar pengembangan area tepi laut.
Masalahnya, kekosongan etalase dan coretan di dinding bisa membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pengunjung jadi enggan datang, investasi melambat, dan pada akhirnya perilaku antisosial pun bisa meningkat—sebuah tantangan yang membuat pembaruan kota menjadi isu lama yang terus dicari jalan keluarnya.
Di Inggris, angka kesenjangan ruang ritel juga tetap tinggi. Green Street mencatat sekitar satu dari delapan properti di high street saat ini dalam kondisi kosong, dan untuk bertahun-tahun angkanya sulit turun.
Hambatan besar lain datang dari kepemilikan yang terpecah-pecah. Toko dan bangunan sering kali dimiliki oleh banyak pihak berbeda, kadang melalui perusahaan offshore atau struktur yang rumit, sehingga keputusan untuk meremajakan area menjadi lebih lambat dan pemulihan skala besar sulit bergerak.
Walaupun unit kosong tersedia, tidak otomatis berarti ada pihak yang bersedia mengambil alih dan mengelolanya. Banyak bangunan berusia lama sehingga perlu modernisasi, sementara biaya menjalankan bisnis juga naik, mulai dari biaya tenaga kerja yang lebih tinggi hingga beban business rates.
Untuk urusan menarik pelanggan, tantangan lainnya adalah penurunan arus kunjungan (footfall) dalam jangka panjang. Ketika aktivitas belanja dan layanan berpindah ke platform online, pergeseran struktural itu belum sepenuhnya selesai dan dampaknya terus terasa di banyak high street.
Survei dari organisasi ritel Revo dan konsultan properti Lambert Smith Hampton menunjukkan pandangan yang cukup tegas: dua pertiga ahli pusat kota menilai masih ada kelebihan ruang ritel sekitar 20% hingga 40%. Dengan kata lain, masalahnya tidak hanya soal toko kosong, tetapi juga soal keseimbangan kebutuhan dan kapasitas ritel yang tersedia.
Di Aberdeen, ingatan tentang masa kejayaan ikut membentuk cara melihat perubahan. Saat era minyak Laut Utara menguat—sekitar akhir 1970-an hingga awal 2010-an—hotel dan restoran tetap terisi tanpa harus terlalu “berjuang” keras, karena kekayaan industri energi mengalir ke kota.
Penulis menuturkan pengalaman saat akhir pekan di masa remaja: menghabiskan uang bersama teman di gerai fashion dan toko sepatu. Setelah itu, suasananya beralih ke pub, berpindah bar, serta kunjungan ke Capitol Theatre bergaya art deco yang kini berubah menjadi ruang kantor.
Namun pada akhir 2022, Union Street berada pada titik terendah. Bob Keiller, kepala Our Union Street coalition, mengatakan warga lama “mengalihkan” perhatian ke pusat perbelanjaan baru yang dibuka pada 2009 di dekat stasiun kereta.
Keiller menjelaskan bahwa kelompoknya terbentuk setelah pertemuan darurat untuk membalik penurunan tersebut. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mendengarkan apa yang dibutuhkan warga, melalui ribuan masukan yang diterima.
Keberanian untuk memulihkan kebanggaan sipil dan mengisi unit kosong menjadi fokus utama. Upaya itu melibatkan agen properti, pemerintah kota, para pemilik bangunan, pelaku usaha, serta tim relawan besar yang dipimpin Keiller—seorang mantan CEO FTSE 100 yang tidak menerima bayaran.
Berita Terkait
Di ruang kerjanya, ada peta yang memetakan status setiap properti dari unit ke unit, lengkap dengan catatan warna dari Post-it. Mereka mengaudit jalan, melacak pemilik yang tidak hadir, serta mencatat apa yang kosong dan alasannya.
Relawan juga menawarkan bantuan membersihkan properti kosong dan mengecatnya agar lebih menarik untuk disewakan. Di tingkat jalan, mereka ikut merapikan lingkungan: mengambil sampah, menyiangi rumput liar, hingga mengecat tempat sampah.
Sebuah tim kecil masih turun ke lapangan setiap dua minggu sekali. Keiller juga menyiapkan satu laman yang menghimpun seluruh properti yang tersedia, sekaligus menampilkan insentif keuangan yang ada, termasuk hibah untuk biaya tata ruang (fit-out) ketika bisnis baru mendekorasi tempat usaha, serta diskon business rates selama dua tahun.
Tercatat bahwa pada 2023, dari 198 unit di Union Street, 57 di antaranya masih kosong. “As of today,” 33 unit sudah terisi, sementara 14 unit lainnya masih dalam proses disewakan, tetapi inisiatif ini juga membuat sekitar 20 unit lain kembali kosong sejak mulai berjalan.
Dalam situasi seperti “permainan whack-a-mole” itu, Keiller menekankan satu kunci: “The key thing is, we’re filling quicker than emptying.” David McKeith, direktur operasional Keiller, menggambarkan pendekatan mereka sebagai merangkul pihak yang bisa dibantu, sekaligus menjadi “wasp in the ear” bagi mereka yang selalu menolak.
Di ujung kantor, tim muda yang masih kecil juga memproduksi konten media sosial. Mereka menghubungkan pengunjung dan warga lewat aplikasi Our Aberdeen, menunjukkan apa saja yang bisa ditawarkan kota tersebut.
Bagi Keiller, perbaikan kecil seperti membersihkan coretan menjadi bagian dari perubahan persepsi publik. Ia menyatakan bahwa “We’ve realised the psychology is not to do it once but be prepared to do it two or three times before people that do these things eventually say, ‘there’s no point in putting it there because somebody’s going to paint over it.’”
Selain etalase yang kosong, perhatian juga mengarah pada masalah lantai atas yang sering terlupakan. Dalam inisiatif lain, para ahli mencoba masuk ke ruang-ruang tinggi yang kosong untuk mengidentifikasi hambatan yang membuat tempat itu sulit digunakan kembali.
Aberdeen mencari bantuan “High Street troubleshooter”, Iain Nicholson, yang telah bekerja dengan puluhan kota dan wilayah lewat Vacant Shops Academy. Dari lebih dari 1.000 unit kosong yang pernah ia bantu audit secara nasional, rata-ratanya lebih dari separuh unit tidak memiliki agen penyewaan yang secara aktif memasarkan properti tersebut.
Menurut Nicholson, beberapa dewan bahkan tidak tahu siapa pemilik bangunan yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa toko kosong tidak akan semuanya terisi hanya oleh mekanisme pasar, sehingga kota perlu mendorong berbagai jenis penyewa—mulai dari seni dan budaya, hingga hiburan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Yang menonjol dari Aberdeen, menurut Nicholson, adalah pendekatannya yang terkoordinasi dan upaya untuk “rolled up their sleeves” serta mengatasi perbedaan. Ia menambahkan, “That’s not something you can yet say about everywhere.”
Bagi kota lain yang ingin belajar, tantangan tiap tempat tidak selalu sama. Nicholson juga membantu Crewe di Cheshire, yang kini memusatkan perhatian pada seni, budaya, dan komunitas, dengan pembukaan pusat khusus perempuan pada bulan ini.
Kemudian, pemerintah Inggris mendorong otoritas kota agar berperan lebih intervensif. Kebijakan ini memungkinkan memaksa unit komersial kosong yang sudah tidak dipakai setidaknya selama setahun untuk ditawarkan kepada penyewa melalui High Street Rental Auction, meski pemiliknya tidak ingin menyewakan.
Memang masih terlalu dini untuk menilai dampak jangka panjang. Namun prospek kehilangan kendali atas properti sudah menghasilkan beberapa perubahan, dan Bassetlaw Council di Nottinghamshire—yang lebih dulu mengadopsi skema ini—melaporkan lebih dari 30 toko di wilayahnya telah disewakan atau sedang dalam penawaran.
Meski mengisi unit kosong adalah bagian penting, pertanyaan yang lebih besar adalah apa sebenarnya fungsi pusat kota. Karena perubahan kebiasaan, kebutuhan akan toko mungkin tidak lagi sebanyak dulu, sehingga pusat kota perlu menampung lebih banyak orang yang tinggal dan bekerja di sana.
Gagasan yang muncul adalah menghadirkan hunian baru dan ruang kantor berdampingan dengan layanan yang tidak bisa dikerjakan secara online. Dengan populasi yang menua, misalnya, membawa pusat layanan kesehatan NHS ke jantung kota bisa menjadi peluang besar.
Di Aberdeen, bangunan yang dulu menjadi rumah BHS—sebuah department store yang tutup pada 2016—sedang diubah menjadi plaza pintu masuk untuk pasar makanan dan minuman baru. Perubahan fisik di Union Street juga berlangsung: sebagian trotoar dilebarkan agar area lebih nyaman untuk didatangi.
Walau begitu, tidak semua warga menyambut proyek ini dengan antusias. Banyak orang di Aberdeen merasa terganggu oleh proses pembangunan, sekaligus oleh pembatasan lalu lintas baru yang menyertai pembenahan tersebut.









