jurnalistik.co.id – Keraton Solo menggelar prosesi Miyos Gongso Sekaten pada Rabu, 19 Agustus 2026. Dalam rangkaian kegiatan itu, gamelan Sekati/Sekaten dikeluarkan dan ditabuh selama tujuh hari.
Prosesi berlangsung dengan dua kubu yang menjalankan peran berbeda. Kubu PB XIV Hangabehi yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) menabuh gamelan selama tujuh hari, sementara Kubu PB XIV Purboyo membagikan inang dan telur asin.
Ketua LDA, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), menjelaskan bahwa ada dua perangkat gamelan yang ikut dikeluarkan saat Miyos Gongso. Dua perangkat tersebut adalah Gamelan Sekaten Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari.
Kedua gamelan sebelumnya berada di Pendapa Parangkrasa dan Museum Keraton Solo. Menurut Gusti Moeng, perangkat-perangkat itu kemudian dipindahkan ke Bangsal Handrawina karena adanya rencana revitalisasi, termasuk kondisi gedung yang dinilai sudah parah.
“Ada dua perangkat ya, Guntur Madu dan Guntur Sari. Ini memang sudah pindah ke sini dari tempat sana karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya, dan itu termasuk proyek revitalisasi nanti,” ujar Moeng di Solo, pada hari yang sama kegiatan berlangsung.
Dalam pelaksanaan Miyos Gongso, Kubu PB XIV Hangabehi lebih dulu membawa dua perangkat gamelan dari Bangsal Handrawina menuju Bangsal Pagongan Masjid Agung Keraton Solo sekitar pukul 09.30 WIB. Penempatan dilakukan dengan pembagian wilayah: Gamelan Kyai Guntur Sari diletakkan di Pagongan Lor (utara), sedangkan Kyai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan Kidul (selatan).
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa gamelan Kyai Guntur Madu lebih dahulu dibunyikan sekitar pukul 12.57 WIB di Pagongan Kidul. Setelah itu, giliran Kyai Guntur Sari dinyanyikan kembali dari Pagongan Lor.
Berita Terkait
Di area sekitar pagongan, warga terlihat berebut janur yang dipasang di kedua titik tersebut. Keramaian semacam ini menjadi bagian dari dinamika yang menyertai prosesi, sejak gamelan mulai ditata hingga permainan bergulir mengikuti jadwal.
Gusti Moeng menegaskan bahwa kedua perangkat gamelan Sekaten akan ditabuh selama tujuh hari, mulai pukul 10.00 WIB hingga 23.00 WIB. Penabuhan dilakukan secara bergantian oleh para penabuh sesuai pembagian waktunya.
Ia juga menyampaikan penyesuaian jadwal mengikuti hari Jumat. “Kalau besok itu hanya sampai jam 3 sore karena kan malam Jumat. Kalau setelah Asar itu kalau Kamis malam, malam Jumat itu libur. Dan kalau nanti Jumat, itu habis Jumatan baru ditabuh,” jelas Moeng.
Menurut penjelasan LDA, tradisi Miyos Gongso merupakan bagian dari cara Keraton Solo memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Penabuhan gamelan Sekaten selama tujuh hari dimaknai sebagai simbol bahwa Keraton Surakarta—sebagai keraton Islam—akan terus meneruskan apa yang telah dilakukan para leluhur dalam mensyiarkan agama Islam.
Dengan pola dua perangkat yang ditabuh bergantian serta penyesuaian jam menjelang malam Jumat, prosesi ini menggambarkan kesinambungan tradisi sekaligus pengaturan ritme kegiatan di dalam lingkungan Keraton Solo. Rangkaian pada hari pertama menunjukkan bagaimana setiap kubu menjalankan tanggung jawabnya, baik melalui penabuhan gamelan maupun pembagian inang dan telur asin bagi warga.
Dalam rangkaian Miyos Gongso, dua perangkat gamelan tidak langsung dibunyikan bersamaan, melainkan ditata terlebih dahulu di Bangsal Pagongan Masjid Agung Keraton Solo setelah dibawa dari Bangsal Handrawina. Penempatan di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul membuat dua wilayah itu menjadi titik yang berbeda untuk memulai giliran penabuhan sesuai peran masing-masing perangkat.
Selama tujuh hari, ritme penabuhan berjalan melalui pergantian waktu yang ditetapkan serta dilakukan secara bergantian oleh para penabuh sesuai pembagian jadwal. Pengaturan tersebut turut menyesuaikan momentum malam Jumat, ketika penabuhan dibatasi hingga sekitar pukul 3 sore karena malam Jumat, sedangkan Kamis malam setelah Asar dinyatakan libur, lalu penabuhan kembali dilakukan setelah Jumatan selesai.












