jurnalistik.co.id – Di ujung Indonesia, Kecamatan Serasan, Natuna, sebuah bangunan perpustakaan dengan dinding bercat putih dan merah berdiri sebagai tempat warga mencari bacaan. Letaknya berada di kawasan perbatasan yang menjadi konteks harian warga setempat, tepatnya di area PLBN Serasan.
Petugas perpustakaan, Jefrizal (39), menyambut kunjungan dan membuka pintu ruangan bagi pengunjung. Di dalam, suasana terasa tertata rapi: ada globe di atas rak, kemoceng menggantung, dan buku-buku tersusun pada rak-rak kayu.
Pada pandangan pertama, ruang rak memang masih menyisakan cukup tempat. Kolom-kolom rak terlihat memiliki ruang kosong yang kira-kira cukup untuk beberapa puluh, mungkin seratusan buku lagi.
Namun, kondisi ruang yang masih tersedia tidak berbanding lurus dengan ketersediaan buku baru. Jefrizal menjelaskan bahwa rak-rak tersebut seperti “menunggu” kedatangan koleksi terbaru.
Menurutnya, untuk buku baru, Perpustakaan Kecamatan Serasan mengalami jeda yang sudah cukup lama. Ia menyampaikan langsung keluhan itu dalam kutipan berikut: “Biasanya kita dari daerah Kabupaten Natuna, boleh dikatakan agak lama sudah enggak masuk buku baru. Biasa kami dapat buku dari Jakarta lewat pos, tapi ini sudah sekitar tiga bulanan tidak ada masuk lagi,” ujar Jefrizal kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026).
Ia juga menegaskan pola pengiriman yang selama ini berjalan. Buku-buku yang sampai ke Serasan, selama ini datang melalui pos dari Jakarta, tetapi sekitar tiga bulanan terakhir kiriman buku baru tidak masuk.
Minat baca dan tantangan bagi anak-anak
Selain persoalan ketersediaan buku, Jefrizal menyoroti rendahnya minat baca masyarakat, terutama di kalangan anak-anak. Ia menilai perkembangan teknologi ikut memengaruhi perubahan kebiasaan membaca.
“Untuk saat ini, khususnya di Kecamatan Serasan, minat anak-anak membaca agak berkurang. Mungkin karena faktor HP sekarang. Kami berharap ada kerja sama dari pihak kabupaten maupun provinsi untuk memperhatikan keadaan perpustakaan di sini,” lanjutnya.
Berita Terkait
Harapan untuk ada perhatian dan kerja sama dari pemerintah daerah dan provinsi tersebut muncul karena kondisi perpustakaan tidak berdiri sendiri. Pengurangan minat membaca dan keterbatasan pasokan buku sama-sama menjadi hambatan yang dirasakan dalam operasional harian.
Dalam laporan bulanan yang dijadikan rujukan pengelolaan perpustakaan, jumlah pengunjung tergolong rendah. Jefrizal menyebut angka pengunjung berada di kisaran 20 hingga 30 orang per bulan.
Ia memaparkan bahwa jumlah pengunjung yang tidak banyak itu tidak hanya dipengaruhi faktor minat, tetapi juga dipengaruhi faktor jarak serta aturan sekolah. Kendala geografis, menurutnya, membuat anak-anak sulit menjangkau perpustakaan.
“Anak sekolah jarak tempuhnya jauh. Di SMA pun, anak-anak tidak dibenarkan keluar untuk pergi ke perpustakaan karena sekolah dipagari,” jelas Jefrizal.
Kutipan tersebut menggambarkan pembatasan yang berperan dalam rendahnya kunjungan. Ketika aturan sekolah membatasi anak-anak untuk keluar, kesempatan belajar lewat perpustakaan ikut mengecil.
Jam layanan perpustakaan
Untuk melayani masyarakat, Perpustakaan Serasan menjalankan jadwal buka yang terstruktur. Lembaga ini beroperasi setiap hari Senin, dengan pembagian waktu layanan pada pukul 08.00–11.00 WIB, lalu buka kembali setelah istirahat pada pukul 13.00–16.00 WIB.
Dengan jadwal tersebut, pengunjung dapat memanfaatkan jam layanan yang disediakan, sementara pengelola menunggu kedatangan buku baru agar koleksi yang tersedia dapat bertambah. Kondisi rak yang masih menyisakan ruang untuk beberapa puluh hingga seratusan buku menunjukkan bahwa perpustakaan sebenarnya masih punya kapasitas, meski kebutuhan buku baru sedang mengalami jeda.
Keseluruhan penjelasan Jefrizal menempatkan dua hal utama sebagai titik berat: keterlambatan masuknya buku baru yang sudah sekitar tiga bulanan, serta menurunnya minat baca yang dipengaruhi teknologi, termasuk perangkat HP, ditambah hambatan jarak dan aturan sekolah.
Di tengah tantangan itu, Jefrizal juga menekankan agar ada kerja sama dari pihak kabupaten maupun provinsi untuk memperhatikan keadaan perpustakaan di Kecamatan Serasan. Upaya semacam itu diharapkan bisa menjawab persoalan pasokan bacaan sekaligus membantu memperluas kesempatan anak-anak untuk menjangkau layanan perpustakaan.












