jurnalistik.co.id – Dalam rutinitas harian, banyak orang tua menjadikan gawai sebagai jalan cepat untuk menenangkan anak saat rewel. Kebiasaan ini sering dimulai dari hal yang dianggap “aman”, misalnya membiarkan anak menonton video agar duduk tenang.
Namun, bila dilakukan terlalu sering pada masa awal tumbuh kembang, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi pada keterlambatan bicara (speech delay). Pasalnya, pada usia dini perkembangan bahasa masih sangat bergantung pada interaksi manusia yang nyata.
Pada fase yang kerap disebut masa emas (golden age), otak anak menyerap informasi dalam ritme yang masih sangat sensitif. Di periode ini, belajar bahasa tidak terutama terjadi dari mesin atau layar, melainkan dari cara anak berhubungan dan merespons orang di sekitarnya.
Dilansir dari laman Paudpedia Kemendikdasmen pada Rabu (19/8/2026), penggunaan gawai pada anak usia dini dapat mengganggu kemampuan bicara karena beberapa faktor yang saling berkaitan.
Komunikasi berubah jadi satu arah
Saat anak menonton video melalui ponsel atau gawai, alurnya cenderung berlangsung satu arah. Anak menjadi penerima informasi pasif, sementara layar tidak mampu menanggapi celotehan atau pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
Padahal, perkembangan bicara membutuhkan komunikasi dua arah. Anak belajar bahasa dengan mengamati gerak bibir secara langsung, membaca ekspresi wajah, lalu merespons suara yang datang dari orang tua atau pengasuh.
Jika umpan balik tersebut tidak muncul, latihan bahasa yang seharusnya terbangun dari percakapan harian menjadi lebih terbatas. Pada akhirnya, anak lebih sering “menyimak” ketimbang “berinteraksi”.
Waktu berlatih bicara makin berkurang
Alasan berikutnya berkaitan dengan berkurangnya kesempatan anak untuk mencoba mengucapkan kata. Anak yang terlalu asyik menatap layar sering menjadi lebih diam, terhipnotis oleh tayangan yang bergerak cepat, dan tidak terdorong untuk mengeluarkan suara.
Dalam kondisi seperti ini, organ pengucapan—seperti lidah dan bibir—kurang terlatih karena terlalu sedikit praktik. Semakin lama waktu yang dihabiskan bersama gawai, semakin menyusut pula kesempatan untuk merangkai kata saat berada di rumah bersama keluarga.
Berita Terkait
Bicara pada anak bukan sekadar kemampuan mengingat bunyi, melainkan juga proses membangun kebiasaan berujar dalam situasi nyata. Tanpa ruang latihan yang cukup, kemampuan tersebut dapat berkembang lebih lambat.
Interaksi nyata dan bermakna ikut hilang
Pembelajaran berbicara juga menuntut konteks yang bermakna. Berbicara bukan hanya soal menghafal suara, tetapi memahami arti di balik kata-kata yang digunakan dalam situasi sehari-hari.
Ketika orang tua melibatkan anak dalam interaksi langsung—misalnya bermain bola atau makan bersama—anak memperoleh kosakata baru yang langsung terhubung dengan dunia nyata. Dalam momen seperti ini, anak dapat merespons, mengamati, dan menyesuaikan cara bicara berdasarkan tanggapan yang benar-benar terjadi.
Karena itu, interaksi langsung yang hangat dan penuh perhatian dinilai lebih efektif dalam merangsang saraf bahasa anak dibandingkan tontonan digital mana pun. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut berada dalam percakapan yang hidup.
Di tengah tingginya penggunaan ponsel, Wihaji juga mengingatkan pentingnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak. Kehadiran figur ayah menjadi bagian dari dukungan interaksi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dalam aspek komunikasi.
Wihaji menyoroti bahwa penggunaan ponsel kini dapat mencapai hampir 10 jam per hari. Bila waktu tersebut banyak dihabiskan untuk tayangan pada anak, porsi interaksi tatap muka bisa semakin tertinggal dari jadwal layar.
Orang tua perlu lebih bijak menentukan porsi gawai
Meski gawai bisa membantu orang tua mengatur momen tertentu, penggunaannya tetap perlu disiasati agar tidak menggantikan ruang belajar bahasa yang paling penting. Untuk mencegah keterlambatan bicara, orang tua disarankan memperbanyak kegiatan yang melibatkan komunikasi dua arah.
Interaksi sederhana seperti mengobrol, memberi kesempatan anak menanggapi, dan mengajak anak beraktivitas bersama dapat menjadi “latihan” yang lebih bermakna daripada tontonan yang berlangsung terus menerus. Saat anak merasa didengar dan mendapat respons, ia lebih terdorong untuk mencoba berbicara.
Dengan demikian, tujuan utama bukan semata-mata membatasi, melainkan memastikan masa emas anak tetap dipenuhi hubungan manusia yang nyata. Ketika waktu layar ditekan dan interaksi ditambah, perkembangan kemampuan bicara memiliki peluang berkembang dengan lebih baik.
Pada akhirnya, kualitas hubungan dalam keluarga—cara orang tua mendampingi, merespons, dan mengajak anak terlibat—akan sangat menentukan apakah proses belajar bahasa berjalan seimbang. Itulah dasar yang dapat membantu anak menghindari risiko speech delay akibat kebiasaan menonton gawai terlalu sering.












