jurnalistik.co.id – JAKARTA — Dollar Amerika Serikat (AS) terus menguat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik dunia. Dalam kondisi seperti ini, nilai tukar rupiah juga kerap bergeser, bahkan sempat menyentuh sekitar Rp 17.600 per dollar AS. Situasi tersebut membuat banyak orang mempertimbangkan ulang apakah perlu mulai memiliki tabungan dalam dollar AS, atau justru menunda keputusan agar tidak terlanjur terbawa suasana, termasuk rasa takut ketinggalan tren (FOMO).
Menguatnya dolar dan logika tabungan valas
Tabungan dollar AS memang kerap diposisikan sebagai salah satu cara untuk menjaga nilai aset ketika rupiah melemah. Secara sederhana, perbedaan mata uang dapat membantu meredam dampak perubahan kurs terhadap rencana finansial seseorang. Namun, perencana keuangan Andi Nugroho menegaskan bahwa niat menaruh dana pada instrumen valas tidak semestinya hanya mengikuti arus yang sedang ramai, karena “harga yang naik” belum tentu berarti keputusan yang tepat untuk tujuan masing-masing.
Menurut dia, keputusan memiliki dollar AS sebaiknya ditempatkan dalam kerangka lindung nilai (hedging). Jadi, dollar AS dipakai untuk membantu mengurangi risiko fluktuasi kurs, bukan dijadikan target tunggal agar keuntungan bisa diperoleh dalam waktu cepat. Karena itu, jawaban “boleh atau tidak” tidak bisa disamakan untuk semua orang. Andi menyebutnya sangat bergantung pada kebutuhan, profil risiko, sekaligus kesiapan seseorang dalam menghadapi dinamika nilai tukar.
Ia juga menggarisbawahi bahwa tidak semua orang merasa nyaman menempatkan dananya dalam dollar AS. Ada yang memilih diversifikasi agar portofolio lebih seimbang, tetapi ada pula yang menilai kondisi tersebut belum sesuai dengan rencana keuangan yang sedang disusun. Karena itu, sebelum membeli, seseorang perlu memastikan dulu bahwa kepemilikan valas memang masuk akal untuk kebutuhan dan rencana jangka menengah hingga panjang.
Jangan terseret FOMO saat dollar naik
Andi mengingatkan agar keputusan tidak dibuat hanya karena dollar AS terlihat terus menguat. Ketika pilihan didorong oleh ketakutan ketinggalan tren, seseorang berisiko mengabaikan kesesuaian antara instrumen yang dipilih dengan tujuan serta kemampuan menanggung fluktuasi. Ia menilai investasi valas lebih cocok untuk horizon menengah sampai panjang, sehingga pendekatan yang mencari keuntungan instan dalam waktu singkat cenderung tidak sejalan dengan karakter investasi tersebut.
Logikanya sederhana: jika seseorang membeli dollar AS hanya karena mengikuti kenaikan kurs, sementara rencana keuangannya tidak mendukung, hasil yang diperoleh bisa melenceng dari harapan. Penguatan nilai tukar tidak selalu berlanjut; bisa juga terjadi perubahan arah yang membuat nilai dana yang sempat bertambah menjadi lebih tidak nyaman. Dengan kata lain, yang menentukan bukan sekadar tren saat ini, melainkan rencana dan kemampuan menghadapi skenario yang mungkin terjadi.
Andi juga menekankan bahwa kondisi beberapa bulan ke depan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kalau pada akhirnya seseorang mendapatkan cuan, itu tentu menjadi hasil yang diinginkan. Tetapi bila cuan tidak datang sesuai ekspektasi, maka konsekuensinya adalah kesiapan untuk menahan lebih lama dari rencana awal, sembari menunggu pergerakan kurs yang lebih sesuai.
Strategi bertahap untuk mengurangi risiko fluktuasi
Jika seseorang tetap ingin memulai pembelian dollar AS, Andi menyarankan agar pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Strategi ini dikenal sebagai dollar cost averaging, yaitu membeli dalam jumlah yang lebih kecil secara berkala, bukan menghabiskan seluruh dana pada satu waktu tertentu. Cara bertahap semacam ini bertujuan memecah risiko fluktuasi nilai tukar, sehingga nilai rata-rata perolehan tidak sepenuhnya ditentukan oleh satu harga masuk.
Ia memberi gambaran praktiknya: bila seseorang memiliki uang dingin dan hendak membeli dollar AS, tidak perlu langsung membeli semuanya sekaligus. Misalnya, pekan ini dapat dilakukan lebih dulu sekitar 30 persen, lalu pada minggu berikutnya menambah pembelian lagi sesuai jadwal yang sudah dipikirkan. Dengan pola seperti ini, seseorang membangun keputusan yang lebih terukur, karena ada ruang untuk penyesuaian berdasarkan pergerakan kurs yang terjadi.
Selain teknik pembelian bertahap, Andi juga mengingatkan pentingnya menyiapkan waktu investasi. Ia menyebutkan investor setidaknya perlu memberi rentang sekitar satu hingga tiga tahun agar potensi hasil dapat dikelola dengan lebih optimal. Pada akhirnya, penguatan dollar AS memang dapat memengaruhi persepsi pasar, tetapi keputusan tetap perlu berangkat dari tujuan, toleransi risiko, dan waktu yang tersedia, agar tabungan valas tidak berubah menjadi reaksi spontan terhadap tren jangka pendek.






