jurnalistik.co.id – Big Bang resmi kembali ke panggung besar di Tottenham Hotspur Stadium, London, Sabtu lalu, dalam rangka tur ulang tahun ke-20 mereka. Empat belas tahun setelah penampilan besar Eropa pertama, reuni ini terasa seperti perayaan yang telah lama ditunggu para penggemar.
Di dalam stadion yang hampir penuh, suasana langsung meledak saat denting intro khas “Fantastic Baby” mengguncang udara. Ribuan penonton meneriakkan yel-yel dalam bahasa Korea, sementara lampu berbentuk mahkota kuning bersinar seragam, menciptakan pemandangan “lautan mahkota” yang sulit dilupakan.
Bukan sekadar konser tur biasa, penampilan mereka juga menjadi penanda penting dalam sejarah K-pop. Saat Big Bang muncul dengan gaya berbusana tinggi ala mereka—berkilau, berani, dan penuh identitas—khalayak tampak tidak hanya menonton, tetapi turut “masuk” ke momen bersama.
Bagi banyak penggemar, ini adalah reuni yang emosional. Namun, makna kembalinya Big Bang jauh melampaui nostalgia. Sebelum BTS menggelar konser demi konser di panggung-panggung besar Barat, dan sebelum Blackpink menjadi headline di Hyde Park, Big Bang telah lebih dulu menunjukkan bahwa musik pop Korea bisa meraih perhatian luas di luar Asia.
Grup ini pernah mengisi ruang-ruang konser besar di berbagai negara Barat, berkolaborasi dengan nama-nama besar dari Amerika Serikat, serta mencoba perpaduan hip-hop dan musik elektronik. Mereka juga menjadikan fashion dan identitas kreatif sebagai bagian dari daya tarik yang terus melekat pada penggemar sejak awal.
Dari sisi ritme pertunjukan, perubahan nuansanya sangat terasa. Penampilan ulang mereka kini datang sebagai trio—G-Dragon, Taeyang, dan Daesung—setelah perjalanan panjang yang menyinggung masa wajib militer, kepergian anggota, hingga sejumlah skandal hukum. Dengan susunan itu, mereka merakit pertunjukan yang tetap menghormati materi lama, sekaligus menyesuaikan bagian-bagian yang tidak bisa dihadirkan sepenuhnya oleh formasi lengkap.
Alih-alih mengandalkan skema panggung yang rumit, Big Bang menyusun malam itu dengan cara yang mereka kuasai: pyrotechnics, band live khas mereka, dan kehadiran panggung yang kuat. Beberapa lagu klasik ditata ulang, dan sejumlah materi di-remix agar tetap mengalir meski ada anggota yang tidak tampil.
Hasilnya adalah reuni yang terasa hangat, tetapi juga berakar pada karakter mereka sendiri—rayuan estetika dan energi kolektif yang berjalan natural, bukan sekadar “nostalgia yang dipaksa”.
Jejak menuju “Kings of K-pop”
Pada 2011, Big Bang mencetak catatan bersejarah sebagai grup K-pop pertama yang memenangkan penghargaan besar di dunia musik Barat. Mereka meraih Worldwide Act prize di ajang MTV Europe Music Awards yang baru saja dibentuk saat itu.
Ketika Big Bang melakukan debut Eropa di Wembley Arena pada Desember 2012, promotor menambah satu pertunjukan lagi setelah konser pertama ludes terjual dalam waktu kurang dari dua jam. Pada titik ini, mereka bukan hanya mengisi agenda hiburan, tetapi juga memimpin generasi yang membuktikan bahwa “crossover global” benar-benar mungkin terjadi.
Tahun 2016, Forbes memperkirakan Big Bang mengantongi 44 juta dolar AS (setara 33,2 juta poundsterling) selama setahun sebelumnya. Angka itu menempatkan mereka sebagai artis K-pop pertama yang masuk dalam Celebrity 100 List versi Forbes.
Dr Haekyung Um, dosen senior musik di University of Liverpool, merangkum kontribusi mereka di pasar global. Ia mengatakan, “When it comes to the global market for K-pop, there is no doubt Big Bang made a huge contribution.” Um menambahkan, “Earlier acts were popular within Asian markets, but Big Bang were true international stars. I would call them the Kings of K-pop, just as we call Michael Jackson the King of Pop.” Menurutnya, “Big Bang’s success really was an early signal of how successful a K-pop stadium tour in the West could truly be.”
Dengan kata lain, Big Bang tidak hanya membuka jalan, tetapi juga membentuk cara industri memandang peluang konser stadion di Barat untuk genre yang sebelumnya sering dianggap terlalu “diatur” oleh agensi.
Kenapa mereka berbeda
Sebelum era BTS dan dominasi tren masa kini, kelompok-kelompok K-pop kerap dipandang sebagai produk yang sangat “dibuat” lewat sistem agensi. Akan tetapi, para kritikus musik menilai Big Bang memecahkan cetakan itu. Mereka menulis dan memproduksi lagu mereka sendiri, membentuk citra streetwear, serta menyatukan beragam genre—mulai hip-hop dan R&B hingga trot, yakni genre musik rakyat tradisional Korea Selatan.
Untuk sebagian penonton yang hadir pada Sabtu itu, konser Big Bang menjadi semacam pelajaran langsung tentang garis keturunan K-pop. Sharon, yang datang ke London dari Singapura, menilai perbedaan mereka melalui pengalaman melihat grup ini secara langsung. Ia berkata, “They were different because they didn’t follow the uniform K-pop cookie-cutter pretty boy phase.” Sharon melanjutkan, “They went harder on their music, a bit more hip-hop. They did what they had to do, and they are the absolute OGs for me.” Ia menilai pergeseran gaya itu membuat Big Bang menonjol tidak hanya di Asia, tetapi juga ikut membentuk cetak biru untuk aksi modern yang cenderung bersifat self-produced, termasuk BTS.
Di luar musik, ada simbol yang sulit terlewat: lampu berbentuk mahkota kuning yang dikenal sebagai Bang Bong. Di masa awal K-pop, dukungan penggemar sering dilakukan dengan melambaikan balon berwarna atau glow stick generik. Namun, untuk memberi identitas yang berbeda dan permanen bagi komunitasnya—dikenal sebagai “VIPs”—G-Dragon mengusulkan mahkota kuning genggam. Usulan itu lalu menjadi pola untuk beragam merchandise konser yang dikustomisasi.
Berita Terkait
Um menjelaskan bahwa keterlibatan penggemar sebenarnya memiliki akar panjang dalam sejarah musik Korea. Ia berkata, “Fan engagement and coordinated chants have deep roots in Korean music history.” Tetapi, menurutnya, Big Bang membantu memodernisasi perangkat fisik: “But Big Bang helped modernise the physical technology.”
Bang Bong kemudian menjadi model bagi lightstick dan merchandise fandom dengan desain khusus—pola yang kini banyak diikuti oleh grup-grup K-pop modern. Energi yang dipimpin penggemar itu pun tidak berhenti di dalam venue. Di luar stadion, para penonton saling bertukar hadiah buatan tangan dan photo card, sebuah ritual yang belakangan juga menyebar ke tur arena di Barat.
Kelompok relawan VIP membagikan sekitar 35.000 spanduk kustom di seluruh stadion, lalu mengoordinasikan gerakan penghormatan massal yang diangkat serentak selama pertunjukan pada momen-momen tertentu.
Perjalanan yang tidak sederhana
Kisah Big Bang, bagaimanapun, tidak sesederhana narasi sukses semata. Korea Selatan mewajibkan pria berbadan sehat menjalani wajib militer. Karena itu, anggota Big Bang menjalani tugas mereka pada waktu yang berbeda selama masa jeda grup.
Setelah itu, muncul pula skandal yang mengguncang perjalanan mereka. Pada 2017, mantan anggota T.O.P divonis bersalah terkait penggunaan marijuana. Pelanggaran tersebut sangat dikriminalisasi dan dianggap tabu secara sosial di Korea Selatan. Dalam masa wajib militernya, T.O.P menerima vonis penjara bersyarat. Kemudian, ia secara resmi meninggalkan grup.
Lalu pada 2019, anggota termuda Seungri memutuskan pensiun permanen dari dunia hiburan di tengah skandal “Burning Sun”. Skandal itu berawal dari penyelidikan polisi terhadap klub malam di Seoul dengan nama yang sama. Penyelidikan tersebut kemudian mengungkap jaringan perdagangan seks, suap, dan rekaman ilegal yang melibatkan sejumlah bintang K-pop pria.
Mahkamah Agung Korea Selatan kemudian menguatkan vonis penjara 18 bulan untuk Seungri pada 2022. Vonis itu terkait sejumlah tuduhan, termasuk mediasi prostitusi, perjudian luar negeri, dan penggelapan.
Dalam konser Sabtu itu, formasi panggung tidak secara terbuka menyinggung kepergian dua mantan anggota, tetapi ketidakhadiran mereka terasa jelas bagi penggemar lama. Meski demikian, tidak mengurangi makna bagi penggemar seperti Annie, yang terbang dari New York untuk menonton bersama teman-temannya. Ia menyatakan, “Big Bang was my starter.” Annie menambahkan, “I love how they move through the obstacles – it gives me hope. After years of hiatus, it’s amazing they’re coming back. They are the OGs.”
Pada bagian pembukaan, sorak penonton meledak ketika chant “Bang Bang Bang” bergema bahkan sebelum para personel tampil. Sementara itu, balada ikonik “Haru Haru” yang dirilis pada 2008 memicu singalong massal di seluruh stadion.
Generasi lama dan pendengar baru
Industri K-pop yang dibangun Big Bang telah berubah hampir di luar jangkauan. Namun, kemunculan kembali mereka justru menghadirkan campuran menarik antara penggemar generasi kedua yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka dan pendengar Gen Z yang bahkan belum lahir saat grup ini memulai debut.
Penggemar lama mungkin tumbuh bersama ritme Big Bang, tetapi generasi baru banyak mengenal mereka lewat arsip digital, serta kemunculan lintas media. Gemma dan putrinya, Casey, datang dari Edinburgh sambil mengenakan jaket hasil karya buatan tangan. Gemma menceritakan bahwa ia pertama kali mengetahui Big Bang melalui T.O.P dalam Squid Game, lalu terseret ke “rabbit hole”. Ia menambahkan, “I’ve converted so many of my friends to K-pop now. It’s all about the energy.”
Bagi penggemar diaspora Korea, konser ini juga memuat resonansi budaya yang lebih dalam. Kevin mengatakan ia mulai tertarik pada Big Bang saat merilis Alive EP pada 2012, karena ia merasa grup itu cukup revolusioner. Ia menuturkan bahwa sebelum itu ia merasa banyak artis Korea meniru apa yang terjadi di Barat, tetapi kali ini Big Bang mengambil kepemilikan penuh atas identitas unik mereka. Kevin menambahkan, “It’s very rare in K-pop that you have a band around for 20 years, and they definitely played a part in making K-pop mainstream.”
Tarikan lintas generasi itu banyak didorong oleh rekaman konser lama, penampilan televisi, dan video musik klasik yang beredar luas di media sosial seperti TikTok dan YouTube. Um menilai nostalgia bisa tumbuh bahkan tanpa pengalaman langsung pada masa tersebut. Ia berkata, “Nostalgia can be built upon something people didn’t even experience personally at the time.” Um menegaskan, “It comes through shared digital memory.” Ia juga menyebut bahwa YG Entertainment sejak awal memanfaatkan platform digital seperti YouTube. Menurutnya, hal itu membangun fondasi penggemar global yang kemudian bertambah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Momen puncak di “Still Life”
Walau Big Bang tidak banyak membahas sejarah mereka secara eksplisit di atas panggung, bobot emosional dari perjalanan itu memuncak pada bagian penutup, “Still Life”. Saat suara bariton T.O.P terdengar jelas lewat rekaman di stadion, terlihat gelombang emosi menyapu penonton.
Dalam encore, G-Dragon muncul dengan ekspresi yang tampak jelas tergerak. Ia mengakui bahwa mereka tidak pernah menyangka musik Big Bang akan meninggalkan jejak global yang bertahan, 14 tahun setelah debut mereka di London.
Ketika kembang api menyala menerangi langit malam, ketiga anggota saling merapatkan tangan dan membungkuk dalam-dalam—sebuah momen kemenangan untuk grup yang luas dipercaya telah membantu membentuk K-pop modern.












