Hukum & Kriminal

Pimpinan Metropoliter Akui Kesalahan Terkait Simon Levy, Namun Tetap Membela Penyelidikan Pembunuhan

×

Pimpinan Metropoliter Akui Kesalahan Terkait Simon Levy, Namun Tetap Membela Penyelidikan Pembunuhan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Met chief accepts mistakes made over Simon Levy but defends investigation into murders

jurnalistik.co.id – Kepala Kepolisian Metropolitan London, Sir Mark Rowley, mengakui adanya kekeliruan dalam penanganan kasus Simon Levy. Namun, ia menegaskan penyelidikan terkait pembunuhan yang dilakukan Levy tetap perlu dipertahankan, dengan alasan agar perdebatan publik lebih “terinformasi” dan tidak disederhanakan.

Pernyataan Rowley muncul setelah kritik luas, termasuk dari anggota Parlemen dari Partai Buruh, Jess Phillips, yang menilai Met mengabaikan pembunuhan pertama Levy. Rowley menyatakan bahwa sejumlah klaim yang menyebut pihaknya tidak berupaya membangun perkara atas kematian pertama itu “tidak benar”.

Rowley mengatakan penyidik telah melakukan pekerjaan yang “serius”, tetapi pada saat itu penyidikan belum memiliki cukup bukti untuk sampai pada tuntutan pidana. Menurutnya, meski kematian Carmenza Valencia-Trujillo pada Maret 2025 merupakan situasi yang sangat mencurigakan, pemeriksaan medis tidak menghasilkan penetapan yang dapat langsung dijadikan dasar dakwaan.

Kasus ini berawal dari fakta bahwa Levy berada dalam status dibebaskan dengan jaminan dan dipantau polisi ketika ia membunuh Valencia-Trujillo pada Maret 2025, lalu membunuh Sheryl Wilkins lima bulan kemudian. Selain dua pembunuhan tersebut, Levy juga diputus bersalah terkait pemerkosaan terhadap seorang perempuan ketiga.

Met bersama Jaksa Penuntut Umum (CPS) menyampaikan permintaan maaf atas serangkaian keputusan yang membuat Levy—sebagai pelaku kejahatan seksual yang telah divonis—tetap bebas dan akhirnya menyerang para perempuan tersebut. Saat proses hukum berjalan, Independent Office for Police Conduct (IOPC) tengah memeriksa bagaimana Levy, yang berusia 40 tahun, dikelola selama periode empat tahun antara vonis pertamanya pada September 2021 hingga penangkapannya pada September 2025.

Di Pengadilan Old Bailey pada Rabu, Levy dijatuhi hukuman penjara seumur hidup penuh (whole life order), yang berarti ia tidak akan dibebaskan. Rowley juga menyebut bahwa ia telah melakukan permintaan maaf terkait bagian-bagian yang salah dalam penanganan Met.

Saat membahas hasil penyidikan, Rowley menekankan bahwa penilaian publik tidak sepenuhnya menangkap tingkat kompleksitas fakta. Ia menyatakan bahwa, meski kematian Valencia-Trujillo jelas menimbulkan kekhawatiran besar, penyebab kematian tidak dapat ditentukan secara meyakinkan oleh ahli patologi, sehingga Met tidak memiliki cukup bukti untuk melangkah ke dakwaan.

Rowley lantas menambahkan bahwa kemajuan perkara terjadi setelah pembunuhan Wilkins. Ia mengatakan barulah pada tahap itu pihaknya memiliki bukti gabungan yang cukup untuk bergerak maju. “Kesimpulan bahwa Met tidak mencoba pada kasus tersebut itu keliru; Met mencoba,” katanya.

Di sisi lain, Rowley mengakui ada kesalahan yang dibuat Met. Ia menyatakan keterlambatan bertindak menjadi salah satu masalah, karena penyelidikan atas dugaan kekerasan seksual terhadap seorang petugas perempuan di HMP Brixton pada April 2022 baru ditanyai setelah menunggu lima bulan. Ia juga menyebut perubahan penilaian risiko: pada Agustus 2024 Levy diturunkan statusnya dari pelaku berisiko tinggi menjadi berisiko menengah, yang berdampak pada kebutuhan pemantauan dan tingkat kontak yang lebih rendah.

“Itu adalah kesalahan kami, dan bagian dari kesalahan yang sedang diselidiki,” kata Rowley, seraya menegaskan bahwa permintaan maaf yang telah disampaikan mencakup kekeliruan-kekeliruan tersebut. Namun ia turut menggarisbawahi kegagalan pada institusi lain di luar Met.

Rowley menyinggung keputusan terkait masa pelepasan Levy. Ia mempertanyakan keputusan Layanan Penjara yang melepaskan Levy dengan izin menjalani sisa hukuman (licence) setelah pelaku telah melakukan serangan seksual di dalam penjara terhadap seseorang yang merupakan bagian dari institusi tersebut. “Saya tidak memahami keputusan itu,” ujarnya.

Dalam program Today di BBC Radio 4, kritik juga datang dari Jess Phillips. Phillips menyatakan bahwa pembunuhan kedua Levy bisa dicegah bila negara tidak gagal, serta menilai kasus ini menunjukkan rangkaian kegagalan yang panjang. Kritik tersebut, menurut Rowley, juga menguat di tengah perdebatan publik mengenai tanggung jawab lembaga.

Kritik serupa disuarakan Mina Smallman, ibu dari Nicole Smallman (27) dan Bibaa Henry (46) yang tewas ditikam di sebuah taman di London pada Juni 2020. Smallman menyoroti bahwa penanganan kasus tersebut juga pernah dipersoalkan, termasuk ketika dua mantan petugas Met kemudian dipenjara karena membagikan foto-foto tubuh kedua korban dalam grup WhatsApp.

Smallman pada kesempatan yang sama menyampaikan pandangannya mengenai bagaimana korban tertentu diperlakukan dalam sistem penegakan hukum. Ia menilai bahwa karena Valencia-Trujillo melakukan pekerjaan seks, ia tidak dipandang dengan serius oleh polisi. Ia menekankan bahwa pertanyaan bukan semata proses, melainkan juga siapa yang dianggap penting dalam praktik sehari-hari, dan bahwa kehidupan kedua perempuan tersebut memiliki arti bagi keluarga mereka.

Rowley juga mengaitkan seluruh persoalan dengan isu yang lebih luas. Ia menyebut “seluruh sistem” sedang kesulitan, dan menggambarkan kondisi itu sebagai bentuk pengurangan dukungan yang bersifat sistemik dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, meski Met kini berjumlah sekitar 4.000 orang lebih sedikit dibanding empat tahun lalu, jumlah pelaku kejahatan seksual terdaftar yang dipantau di ibu kota mencapai 10.800 orang dan terus bertambah sekitar 100 orang setiap tiga bulan.

Dalam penutup pernyataannya, Rowley menggarisbawahi bahwa permintaan maaf tidak menutup kebutuhan untuk memperbaiki kinerja, serta bahwa debat publik perlu berangkat dari fakta-fakta yang lebih utuh. Ia menegaskan bahwa kesalahan yang diakui Met akan menjadi bagian dari pemeriksaan, sementara keputusan lembaga lain juga harus ikut dipertanggungjawabkan.