Teknologi

Rui Pinto: Peretas Portugal yang memicu investigasi Manchester City

×

Rui Pinto: Peretas Portugal yang memicu investigasi Manchester City

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rui Pinto: The hacker who tried to take down Manchester City

jurnalistik.co.id – Di luar Stadion Etihad, menyebut nama Rui Pinto mungkin tidak langsung memicu reaksi apa pun pada sebagian pendukung Manchester City. Namun, banyak dari mereka tampak lebih paham dampak dari “pekerjaannya” ketimbang mengenal identitas pria di baliknya. Pinto adalah peretas asal Portugal yang berupaya mengguncang klub-klub sepak bola lewat kebocoran dokumen internal, dan jejaknya pada kasus sepak bola modern tetap meninggalkan kontroversi panjang.

Melalui situsnya, Football Leaks, Pinto memublikasikan kumpulan berkas rahasia milik klub. Di antara materi yang disebarkan terdapat email-email internal yang berkaitan dengan skema sponsor dan pembayaran. Rangkaian itu kemudian tersambung dengan dakwaan di Premier League terkait pelanggaran aturan keuangan, hingga kabar terbaru bahwa klub dinyatakan bersalah pada sebagian besar dari 115 tuduhan.

Bagi sebagian kalangan, pria berusia 37 tahun itu dipandang semata-mata sebagai pelaku kejahatan yang mencuri informasi. Bagi yang lain, ia justru diposisikan sebagai “penyibak kebenaran” yang membuka sisi gelap industri sepak bola. Perdebatan inilah yang mendorong BBC Sport menelusuri Jejak Pinto dari Eropa, mengulik berbagai sudut pandang dari orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya—termasuk guru sekolahnya, jurnalis yang mempublikasikan kebocoran, hingga satu mantan penasihat keuangan Manchester City.

Dalam salah satu momen persidangan terbaru, jurnalis BBC bahkan duduk tidak jauh dari Pinto. Dari sana, gambaran yang muncul bukan hanya tentang kasus hukum, melainkan juga tentang bagaimana sosok tersebut dilihat oleh orang-orang yang mengenalnya dari dekat.

Dari ruang kelas hingga Football Leaks

Di Portugal, Mario Falcao—mantan guru geografi Pinto—mengingat sang murid dengan nada hangat. Ia menggambarkan Pinto sebagai sosok yang sejak muda bisa bergaul dan tidak tampak seperti “orang yang kelak mengubah arah peristiwa besar”. Falcao mengatakan, “Rui was a perfectly normal pupil. He was nice, with his spiky hair, he was quite sociable but not extrovert,” lalu menambahkan bahwa hubungan Pinto dengan para guru baik, meski sang siswa sering melewatkan kelas.

Menurut Falcao, “His father was always on top of things, so in the end he passed quite easily.” Ia juga menilai Pinto sangat baik dalam pelajaran berbasis komputer. “Certainly he was very good in computers. All the work that he did for various courses were very good, when he put his mind to it,” ujarnya.

Falcao, yang kini sudah pensiun, mengingat Pinto berperilaku seperti teman-temannya. Pinto disebut biasa menjalani aktivitas sehari-hari seperti “go to the gym, go to McDonald’s.” Dari sisi latar keluarga, Pinto tumbuh di Vila Nova de Gaia, wilayah di seberang Sungai Douro dari Porto. Rumah-rumah di lingkungan tempat ia besar terlihat memiliki fasad dengan ubin dan atap berwarna terracotta.

Pendidikan Pinto berlangsung di Escola Secundaria Almeida Garrett, sekolah yang dihormati dan oleh warga lokal disebut “the university”. Ayahnya, Francisco, bekerja di pabrik sepatu sebelum kemudian beralih menjadi pedagang barang antik. Sementara itu, ibunya meninggal ketika Pinto berusia 11 tahun. Falcao mengaku tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi pada mantan muridnya. Ketika Pinto disebut sebagai pendiri Football Leaks pada 2019, ia mengatakan, “We were very surprised.” Ia juga menuturkan, “We weren’t imagining anything like this could happen, that he could have problems with justice.”

Bagi Falcao, ada kemungkinan keterkaitan antara masa muda dengan kemampuan teknis yang kemudian membentuk jalan hidup Pinto. “Perhaps it was a question of the excesses of youth, his ability with computers, and maybe an excess of club-ism,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa dukungan Pinto pada FC Porto mungkin mendorong tindakan tertentu, tetapi juga bisa berkaitan dengan dorongan “keadilan” yang sering dirasakan generasi muda. “So, you know, the fact that he supported FC Porto prompted him to commit some acts, but maybe he also felt the need for justice that young people very often do feel.”

Kesaksian jurnalis: dokumen bocor menjadi “informasi publik”

Football Leaks didirikan pada 2015. Antonio Varela, jurnalis asal Portugal yang menjadi orang pertama dihubungi Pinto, mengingat momen awalnya seperti kejadian “kemarin sore”. Varela menceritakan bahwa pada September 2015, ia menerima email dari Football Leaks saat berada di ruang redaksi surat kabar Record. Ia menyebut email itu terasa aneh, lalu segera mengakses situs tersebut. “I can’t believe there is lots of information that you never heard or read. We made the conclusion this is very, very important,” katanya.

Varela juga menekankan bahwa ketika Football Leaks memublikasikan materi hasil kebocoran, ia menghadapi dilema hukum dan etika. Ia mengatakan, “[Football Leaks] got the information illegally. But since the moment they publish the information on the site, that’s public information.” Menurutnya, persoalan etika menjadi rumit, tetapi kepentingan publik dianggap lebih utama. “Ethically, it’s complicated, but the public interest is more relevant than the ethical issue. That was the conclusion.”

Bukan hanya Manchester City yang menjadi sasaran. Kebocoran awal Football Leaks justru mengarah pada perkara yang lebih dekat dengan lingkungan Pinto, termasuk bocoran seputar Benfica dan bahkan sisi klub yang didukungnya, FC Porto. Belakangan, materi yang dibagikan meluas hingga melibatkan dokumen serta komunikasi yang berkaitan dengan sejumlah pemain, klub, dan agen paling terkenal, termasuk Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar.

Pinto kemudian bersedia bertemu jurnalis Rafael Buschmann dari majalah Jerman Der Spiegel. Setelah yakin bahwa Buschmann bisa dipercaya, Pinto berbagi puluhan juta dokumen. Dari markas Der Spiegel di Hamburg, tim jurnalis bekerja menelaahnya secara teliti dan menghasilkan sejumlah artikel yang disebut paling “meledak-ledak” dalam dunia sepak bola. Christoph Winterbach, jurnalis data bagian dari tim tersebut, menggambarkan prosesnya sebagai rasa kagum yang mirip “anak di toko permen”. Ia mengatakan, “in the beginning it was very much a fascinating feeling of like a child in a candy store.”

Winterbach menambahkan bahwa melihat dokumen asli memberi sudut pandang nyata tentang bagaimana negosiasi berjalan, bahkan “how things work” di balik layar. Ia menekankan kebutuhan verifikasi yang ketat: “It’s very important when you have this type of documents, this type of data, that you make a lot of cross checks.” Ia juga menjelaskan bahwa mereka memakai perangkat lunak untuk memberi konteks dan menilai reliabilitas materi. “We always need to make sure that it’s authentic material,” katanya, “and whenever we publish something about it, it needs to be in the public interest to start writing.”

Winterbach akhirnya bertemu Pinto langsung pada 2019 ketika Pinto sedang dipenjara di Lisbon menunggu proses persidangan. Ia juga melakukan wawancara lanjutan ketika Pinto berada dalam perlindungan saksi, di lokasi rahasia berpengamanan tinggi. Ia menggambarkan proses menuju lokasi itu seperti “Hollywood movie”. Dalam wawancaranya, Winterbach menyampaikan deskripsi Pinto: “Rui Pinto is not very tall. He has very distinctive hair, like spiky hair. He usually has red cheeks and he’s a youthful, cheeky, funny character. He’s friendly and warm when you meet him.”

Winterbach juga menilai Pinto sangat fokus dan cerdas, sekaligus idealistis terhadap topik yang diungkap. “He’s a very impressive character, he’s very focused, he’s very concentrated. He’s very, very intelligent. He’s very idealistic about the topics that he uncovered. He’s one of the most important whistleblowers that we have in Europe or maybe the world.”

Secara total, Pinto menyerahkan lebih dari tiga terabyte data—setara dengan sekitar 3.000 salinan Encyclopedia Britannica—kepada Der Spiegel dan outlet lain dalam konsorsium European Investigative Collaborations.

“Pahlawan” atau “pencuri”: perbedaan pandangan

Dalam perdebatan publik, persepsi terhadap Pinto sangat kontras tergantung siapa yang memandangnya. Ana Gomes, mantan politisi dan diplomat Portugal, juga pernah bertemu Pinto saat berada di penjara dan memberikan kesaksian untuk membelanya di salah satu persidangan. Gomes tegas pada keyakinan bahwa Pinto layak dilindungi, bukan dituntut. Ia mengatakan, “What he has exposed is very important.” Ia menambahkan, “In Portugal, definitely he is by far the most important whistleblower,” lalu menyatakan, “He should be made an ally of our judicial and criminal investigative authorities.” Gomes berpendapat Pinto membantu otoritas di negara-negara Eropa dalam mengejar pelaku korupsi dan kriminal, bukan menjadi sasaran penuntutan karena pilihan jaksa.

Ketika ditanya pendapatnya mengenai Manchester City—klub yang emailnya dibobol—Jawaban Gomes singkat dan tajam: “I couldn’t care less. If they have nothing to hide, what’s their problem?”

Sementara itu, Jose Carlos Freitas, jurnalis yang sudah pensiun, mengungkap bahwa pandangan Gomes tidak banyak dianut. Ia mengatakan, “For the majority of the people, they look at him as a thief.” Menurutnya, sebagian orang melihat Pinto sebagai pahlawan yang mirip Robin Hood karena membongkar sisi gelap bisnis banyak klub. Namun, ia menambahkan, “unfortunately for the majority of the people, he is not a good person.”

Varela memilih sikap yang lebih berada di tengah. Ia menilai Pinto mendapat informasi secara ilegal, sehingga ia cenderung menempatkannya di antara “whistleblower dan criminal hacker”. Akan tetapi, ia juga mengakui Pinto memberi gambaran tentang “dark view of European football” yang ia anggap sebagai kontribusi pada masyarakat, meski dicapai lewat tindakan yang melanggar hukum. “But he gave us, all of us, a view, a dark view of European football, so he did a job to the society illegally,” ucap Varela.

Di sisi lain, apa pun posisi dalam perdebatan itu, konsekuensi hukum tetap nyata. Winterbach merangkum bahwa Pinto “has powerful enemies through the work that he has done”.

Enam tahun hidup di luar normal

Selama sekitar enam tahun terakhir, kehidupan Pinto digambarkan jauh dari keadaan normal. Setelah ditangkap di Hongaria pada 2019, ia diekstradisi ke Portugal dan pada beberapa momen berada dalam isolasi, menjalani tahanan rumah, hingga masuk perlindungan saksi. Usai persidangan pertama di Portugal pada 2023, Pinto menerima vonis empat tahun yang ditangguhkan—setelah dinyatakan bersalah terkait percobaan pemerasan, akses ilegal terhadap data, dan pelanggaran korespondensi.