jurnalistik.co.id – Polisi Afrika Selatan mengonfirmasi penemuan tiga jenazah perempuan baru di wilayah Ekurhuleni, yang terletak di timur Johannesburg. Dengan temuan terbaru itu, total ada 12 jenazah perempuan yang ditemukan dalam kurun waktu sekitar dua bulan.
Penemuan berlangsung antara Sabtu hingga Senin pagi, menurut keterangan polisi setempat. Kejadian ini memicu kekhawatiran luas di sekitar Kempton Park, di tengah perhatian yang sudah lama menyorot tingginya kekerasan terhadap perempuan di negara tersebut.
Presiden Cyril Ramaphosa menyebut pembunuhan ini sebagai “noda bagi nurani nasional”. Polisi juga menyatakan belum dapat menyingkirkan kemungkinan pelaku berantai.
Rangkaian kasus yang sudah terdata
Salah satu temuan pertama terjadi pada 15 Juli 2026 di Kempton Park. Polisi menemukan Busisiwe Mahlangu dalam kondisi telanjang dengan tangan terikat menggunakan cable ties.
Dua hari setelah kematian Mahlangu, polisi menangkap seorang tersangka yang diyakini merupakan pasangannya. Polisi mengatakan tersangka tersebut berada dalam tahanan dan tidak terkait dengan kematian-kematian lain yang muncul setelahnya.
Kemudian, pada 3 Agustus 2026, polisi menemukan Itumeleng Kekana di area yang sama. Kekana menghilang pada Juli, lalu jasadnya ditemukan dengan luka memar yang parah, sebagian berpakaian, dan dibuang di sebuah jembatan di Kempton Park.
Hingga kini, belum ada penangkapan dalam kasus Kekana.
Kasus berikutnya menyusul pada 26 Agustus, juga di Kempton Park. Nomfesane Mjobo ditemukan dengan sedikit detail yang dipublikasikan, namun polisi menyebut dia ditemukan dalam keadaan sebagian atau seluruhnya telanjang dan mengalami memar.
Dalam perkara Mjobo, belum ada penangkapan.
Pada 7 September, polisi mengonfirmasi penemuan seorang perempuan yang identitasnya belum disebut. Perempuan tersebut, yang masih berusia belasan hingga dua puluhan, ditemukan mengapung di sungai Olifantsfontain dengan hanya mengenakan pakaian dalam.
Polisi tidak merilis informasi lanjutan mengenai kematiannya, dan belum ada penangkapan.
Korban yang ditemukan di sekitar Kempton Park
Pada 10 September, polisi menemukan Gracious Nkomo di area Kempton Park. Jasadnya ditemukan pada 10 September di dekat jalan, sekitar kawasan bandara tersibuk di Afrika Selatan.
Dalam kasus Nkomo, tidak ada penangkapan yang diumumkan.
Elizabeth “Tsontso” Moselakgomo kemudian menjadi salah satu nama yang menarik perhatian nasional. Pencariannya sempat menjadi sorotan luas setelah perempuan berusia 38 tahun itu dilaporkan hilang saat berlari di sekitar rumahnya di Kempton Park.
Jasad Moselakgomo ditemukan pada 12 September dengan memar parah dan kondisi berpakaian sebagian.
Menurut laporan, penemuan jenazah Moselakgomo turut memperkuat alarm terhadap rangkaian pembunuhan yang terjadi beruntun. Untuk kasus ini, polisi juga menyebut belum ada penangkapan.
Hanya dua hari setelah Moselakgomo ditemukan, polisi mengonfirmasi jenazah perempuan lain. Penemuan dilakukan di Olifantsfontein pada 14 September, tetapi nama korban dirahasiakan karena keluarga belum mendapat pemberitahuan.
Polisi menyatakan belum ada penangkapan terkait kasus tersebut.
Berita Terkait
Pada 15 September, Dineo Motapane, 38 tahun, ditemukan tidak lama setelah dia terakhir terlihat hidup. Jasadnya ditemukan di sisi jalan di Springs, bagian lain dari Ekurhuleni, dalam kondisi mengalami luka parah dan sebagian terbakar.
Motapane meninggalkan seorang anak yang masih kecil, dan hingga saat ini belum ada penangkapan dalam kasusnya.
Temuan di Boksburg dan Tembisa
Jenazah kesembilan ditemukan pada 17 September. Korban bernama Jabulile Ntimba, berada di usia tiga puluhan, ditemukan setengah telanjang dan dibungkus selembar kain di pinggir jalan di Boksburg.
Polisi menyebut dugaan penyebab kematian terkait kemungkinan adanya “love triangle”. Saat awal penyidikan, tiga orang—dua perempuan dan seorang laki-laki—ditangkap karena dugaan pembunuhan keji itu, namun pihak laki-laki kemudian dilepas karena dinilai bukti tidak cukup.
Polisi menyatakan dua perempuan yang tersisa kemudian didakwa melakukan pembunuhan berencana serta upaya menghalangi proses keadilan.
Pada 26 September, jenazah korban ke-10 ditemukan di sebuah pemakaman di lingkungan Tembisa, yang berada di timur laut pusat Johannesburg. Ntombifuthi Nxumalo ditemukan telanjang dengan cedera kepala yang serius, serta sejumlah batu ditemukan di dekat tubuhnya.
Temuan tersebut membuat polisi menduga Nxumalo mungkin tewas akibat dilempar batu. Seorang pria berusia 36 tahun ditangkap sehari setelah kematian Nxumalo, setelah dia bepergian ke provinsi lain, dan kini menghadapi tuduhan pembunuhan.
Pada hari Minggu, polisi melaporkan penemuan jenazah perempuan yang belum teridentifikasi di Springs. Temuan ini menjadi jenazah ke-11 di Ekurhuleni.
Jasad ditemukan di area lapangan terbuka oleh sebuah perusahaan keamanan yang melakukan patroli. Polisi belum merilis detail lanjutan, dan tidak ada penangkapan yang diumumkan.
Kasus ke-12 dan dugaan tidak terhubung
Kasus ke-12 terjadi pada Senin, ketika Boitumelo Gift Mashita ditembak hingga tewas di Tembisa, wilayah Ekurhuleni. Perempuan berusia 23 tahun itu sedang dalam perjalanan ke tempat kerja saat diserang, dan pelaku merampas barang miliknya.
Polisi mengatakan suami Mashita yang sudah berpisah (estranged husband) sempat menjadi dugaan sebagai pelaku, namun kemudian ditemukan meninggal di dalam kendaraan di Midrand.
Polisi menyatakan mereka belum menemukan hubungan apa pun antara kasus Mashita dan rangkaian penemuan jenazah lainnya.
Selain kasus-kasus di Ekurhuleni, polisi juga mengonfirmasi penemuan satu jenazah lain sekitar 39 mil atau 63 kilometer dari wilayah itu pada 20 September. Jasad perempuan muda yang diduga berada di usia dua puluhan ditemukan terbungkus selimut di sebuah bendungan di Soweto, bagian barat daya Johannesburg.
Saat ini belum jelas apakah pembunuhan tersebut memiliki keterkaitan dengan kasus-kasus di Ekurhuleni.
Angka kekerasan dan langkah penyidikan
Di sisi lain, Afrika Selatan dikenal memiliki angka pembunuhan yang tinggi. Laporan menyebut ada 5.427 orang yang dibunuh dalam periode April hingga Juni tahun ini.
Statistik polisi Afrika Selatan tidak membedakan korban berdasarkan gender, tetapi Komisi Hak Asasi Manusia Afrika Selatan menyatakan bahwa 569 perempuan tewas pada periode April hingga Juni tahun ini. Jika dirata-ratakan, angka tersebut setara dengan enam perempuan tewas setiap hari.
Polisi telah membentuk satu tim khusus untuk menyelidiki rangkaian pembunuhan tersebut. Mereka juga menawarkan imbalan 400.000 rand, setara sekitar 24.000 dolar AS atau 18.000 poundsterling, bagi informasi yang dapat mengarah pada penangkapan.












