jurnalistik.co.id – Setelah sejumlah gelombang panas melanda Inggris dan saran keselamatan sudah berulang kali disampaikan, banyak orang tetap kesulitan menjaga suhu nyaman di dalam rumah—terutama saat cuaca ekstrem berlangsung lama. Kondisi ini kian mendesak karena lebih dari setengah rumah di Inggris sudah berada pada risiko mengalami kepanasan, dan angka itu diperkirakan naik menjadi 92% pada 2050 jika tidak ada penyesuaian.
Di London selatan, sebuah rumah peninggalan era 1960-an—rumah mantan dewan (ex-council house)—menunjukkan pendekatan berbeda saat termometer menyentuh sekitar 35°C. Meski tidak memasang pendingin udara (air-conditioning), rumah tersebut mampu “mengalahkan” panas pada hari-hari paling terik.
Marion Baeli, pemilik rumah sekaligus arsitek, menyebut perubahan yang ia lakukan selama lebih dari satu dekade sebagai upaya menyiapkan hunian untuk musim panas yang bisa makin panas—bahkan hingga sekitar 40°C. Saat BBC berkunjung pada hari terpanas dari gelombang panas keempat musim panas itu, rumahnya tercatat 10°C lebih dingin dibanding suhu di luar ruangan.
Baeli membandingkan rumahnya dengan wadah termos berinsulasi yang dirancang menjaga suhu tetap stabil. Ia mengatakan, “You wouldn’t put holes in your flask if you wanted to keep the ice in. You’d close the cap and make sure it is firmly twisted on. It’s the same in this house.” Menurutnya, tujuan utamanya adalah menutup “jalur” yang membuat suhu mudah keluar-masuk.
Di dalam rumah, sensasinya menurut Baeli terasa seperti ada pendingin udara, padahal tidak. Ia menjelaskan, “It feels like you have air-conditioning [inside the house] but you haven’t. This is the beauty of the Passivhaus standard,”
Passivhaus sendiri adalah standar bangunan internasional yang dikembangkan sekitar 35 tahun lalu di Jerman. Intinya sederhana: rumah dirancang agar suhu bisa relatif konstan setiap saat, dengan cara membuat bangunan “sealing” terhadap pengaruh cuaca. Estimasi yang disebutkan adalah rumah bergaya Passivhaus dapat mengonsumsi energi hingga 90% lebih sedikit dibanding hunian biasa.
Ketika keluarga Baeli pindah sekitar 10 tahun lalu, kondisi rumah jauh dari standar tersebut. Jendela PVC double-glazed yang ada sebelumnya terasa berangin dan insulasinya minim; akibatnya, rumah sulit terasa hangat saat musim dingin, namun justru kepanasan di musim panas.
Pekerjaan retrofit dilakukan bertahap. Tahap awal difokuskan pada penyekatan: termasuk isolasi pada dinding bersama, lantai, dan atap. Langkah ini juga diiringi upaya menghilangkan “thermal bridges”, yakni bagian rumah tempat panas berpindah dengan cepat, misalnya area di mana insulasi terputus di antara balok/komponen struktur seperti pada rafters.
Beberapa tahun berselang, tepatnya sekitar dua tahun kemudian, tahap kedua mulai berjalan. Sebagian dinding bata rongga (cavity brick walls) diganti dengan dinding rangka kayu yang lebih tipis namun super-insulated. Bersamaan dengan itu, dipasang pula jendela triple-glazed untuk memperlambat perpindahan panas dari luar ke dalam.
Setelah rumah menjadi lebih rapat udara (air-tight), masuk pula sistem ventilasi agar udara di dalam tetap segar secara terus-menerus. Dengan langkah-langkah tersebut, suhu di dalam rumah tidak terlalu mudah berfluktuasi sepanjang musim dingin maupun musim panas, sehingga konsumsi energi juga turun.
Memasuki bulan-bulan lebih dingin, perubahan itu terlihat dari kebutuhan pemanas. Baeli menyatakan kini cukup satu radiator untuk menghangatkan rumahnya yang memiliki empat kamar tidur di tiga lantai, karena panas tidak “hilang” ke area yang seharusnya tertutup rapat.
Dari sisi pemakaian energi, Baeli memperkirakan kebutuhan energi di rumah yang sudah di-retrofit turun sebesar 88%. Ia menyebut penghematan tahunannya hampir ÂŁ750 untuk tagihan.
Meski manfaatnya nyata, standar Passivhaus tetap tidak dianggap murah. Passivhaus Trust—lembaga yang diungkapkan Baeli sebagai direktur non-eksekutifnya—mengakui bahwa melakukan retrofit agar sesuai standar itu “expensive”.
Total biaya retrofit yang dikerjakan Baeli sekitar ÂŁ80.000, belum termasuk tambahan biaya untuk pekerjaan arsitektural. Pembelian termahalnya adalah jendela, dengan nilai sekitar ÂŁ30.000, sedangkan salah satu langkah termurah adalah membuat seluruh rumah menjadi kedap udara dengan biaya sekitar ÂŁ5.000.
Berita Terkait
Karena tidak dapat membayar semuanya sekaligus, Baeli memilih melakukan pekerjaan secara bertahap selama 10 tahun agar biaya lebih terjangkau. Pendekatan bertahap ini menjadi bagian penting dari praktik nyata penerapan standar tersebut di rumah yang ada.
Namun, ada batasan yang juga perlu diperhitungkan. Menurut Baeli, rumah bisa mencegah panas masuk, tetapi tetap membutuhkan udara yang lebih sejuk pada awalnya. Ia menekankan kebiasaan menutup jendela dan tirai pada siang hari serta memastikan “the sun doesn’t hit the glass and create the glasshouse effect – to stop your home from overheating”.
Di pekarangan rumahnya, Baeli menunjukkan kain penutup debu (dust sheets) yang dipasang untuk menutup jendela. Tetap ada situasi ketika panas dari luar tidak turun pada malam hari, dan pada kondisi itulah rumah bisa ikut mempertahankan suhu tinggi.
Contoh disebutkan terjadi selama gelombang panas Juni. Pada malam itu, suhu malam tercatat 27°C, sehingga suhu di dalam rumah tetap 27°C—yang menjadi rekor tertinggi yang pernah tercatat di rumahnya. Jika kejadian “tropical nights” seperti itu terulang di masa depan, Baeli mengatakan ia mungkin perlu menggunakan air conditioning hanya dalam waktu terbatas untuk menurunkan suhu, lalu langkah-langkah Passivhaus membantu menjaga suhu setelahnya.
Untuk penerapan yang lebih luas, standar ini juga punya perbedaan biaya antara membangun dari awal dan retrofit. Passivhaus Trust menyebut tambahan biaya konstruksi jika mengikuti standar dari sejak awal berkisar dari 2% untuk flat, hingga 5% untuk rumah tipe semi-detached.
Kebijakan bangunan Inggris juga mulai bergerak ke arah yang sejalan. Pada bulan Maret, Future Homes Standard mulai berlaku di Inggris, menetapkan persyaratan kinerja bangunan dan energi yang lebih tinggi untuk rumah baru agar regulasinya semakin dekat dengan standar Passivhaus. Di Skotlandia, konsultasi mengenai regulasi bangunan baru untuk “deliver an equivalent to the Passivhaus standard” masih berlangsung, dan pedoman dapat diterbitkan tahun depan.
Di sisi industri, salah satu pengembang rumah terbesar, Barratt Redrow, juga membangun kompleks apartemen di London barat dengan mengadopsi standar tersebut. Proyeknya disebut dilengkapi heat pumps untuk memanaskan dan mendinginkan hunian.
Oliver Novakovic, direktur teknis dan inovasi perusahaan itu, menjelaskan bahwa penerapan standar tetap membutuhkan biaya lebih. Namun, ia menyebut pengembangan Bollo Lane yang terdiri dari 900 apartemen adalah eksperimen untuk “future-proof” perusahaan dan tetap berada di depan regulasi yang “continually increasing”.
Meski demikian, adopsi penuh masih menemui hambatan. Sekitar 1% dari seluruh rumah baru di negara itu dibangun sesuai standar sukarela, dan Passivhaus Trust memperkirakan angka tersebut dapat tumbuh menjadi 10% dalam dekade berikutnya.
Membangun rumah-rumah seperti ini juga tidak selalu mudah. Pada April, City of York Council kesulitan menarik minat perusahaan konstruksi untuk membangun 315 rumah sesuai standar tersebut, dengan alasan kondisi pasar dan kerumitan dalam membangun sesuai spesifikasi.
Selain rumah baru, persoalan terbesar justru ada pada stok hunian yang sudah ada. Bahkan jika rumah baru bergaya Passivhaus bisa dibangun, perkiraan menyebut 80% dari persediaan rumah di Inggris pada 2050 sudah ada hari ini. Artinya, jutaan rumah harus di-retrofit untuk menghadapi kenaikan suhu.
Pemerintah memang menyediakan dukungan untuk keluarga berpenghasilan rendah agar bisa memasang insulasi dan langkah lain. Namun, skema dukungan itu disebut akan ditutup akhir tahun ini, sementara tanggal dimulainya skema pengganti belum diumumkan.
Jay Morton, presiden terpilih (incoming President Elect) dari Royal Institute of British Architects, menegaskan bahwa biaya menjadi penghalang bagi banyak pemilik rumah. Ia juga menekankan bahwa melakukan sebagian langkah pun tetap berarti. Morton mengatakan, “You won’t necessarily be able to insulate every single wall,” lalu menambahkan, “but by even doing the 50% best is actually massive in terms of energy bills.”
Dalam konteks musim panas yang makin ekstrem, cerita tentang rumah Baeli memberi gambaran bahwa standar Passivhaus bukan sekadar soal teknologi, melainkan strategi pengelolaan panas yang menuntut ketelitian pada isolasi, kedap udara, ventilasi, dan kebiasaan harian—dengan catatan bahwa hasil terbaik tetap bergantung pada kondisi suhu luar, termasuk apakah malam benar-benar turun.









