Pendidikan

Lebih Banyak Mahasiswa UK Memilih Tinggal di Rumah karena Biaya Hidup ‘insane’

×

Lebih Banyak Mahasiswa UK Memilih Tinggal di Rumah karena Biaya Hidup ‘insane’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: More students planning to live at home for uni over 'insane' living costs

jurnalistik.co.id – Lebih banyak calon mahasiswa baru di Inggris tahun ini berencana tinggal di rumah selama kuliah dibandingkan sembilan tahun sebelumnya. Data terbaru menunjukkan, pada proses pengajuan yang diterima, lebih dari 81.000 anak usia 18 tahun menyatakan niat untuk tinggal bersama keluarga.

Universities and Colleges Admissions Service (Ucas) mencatat, jumlah tersebut setara “just over one in three” untuk kelompok yang menyebut rencana tinggal di rumah. Pada 2017, proporsinya masih lebih rendah, “closer to one in five”, dan kini tren tersebut terlihat makin menguat di berbagai wilayah.

Perbedaan terlihat cukup tajam antarnegara bagian. Di Skotlandia, 48% pendaftar menyatakan rencana tinggal di rumah, sedangkan di Wales angkanya berada di 20%.

Sejumlah siswa menyampaikan kepada BBC bahwa meningkatnya biaya hidup menjadi faktor dominan dalam keputusan setelah lulus sekolah atau pendidikan tingkat lanjut. Dengan kondisi ini, pilihan untuk tetap berada di rumah sering kali terasa sebagai konsekuensi logis—meski tidak ideal.

Untuk Beatrice dan Amelia, keduanya berasal dari St Helens, Merseyside, biaya akomodasi menjadi pertimbangan utama. Mereka akan memulai kuliah pada bulan September, tetapi tidak berencana pindah ke hunian mahasiswa.

Beatrice, yang akan menempuh studi matematika di University of Manchester, memilih opsi berangkat-pergi menggunakan kereta. Ia memerkirakan perjalanan total dapat mencapai sekitar 50 menit.

“My first choice was Manchester and then my second was Liverpool, so I knew I could commute,” kata Beatrice. Ia menambahkan bahwa biaya akomodasi kemungkinan akan mencapai “a few grand a year”.

Sementara Amelia akan kuliah di Liverpool John Moores University, yang kira-kira berjarak sekitar 20 menit perjalanan dengan kereta. Berdasarkan temuan yang ia dapat, Amelia mengatakan akomodasi yang tersedia berada di kisaran ÂŁ300 hingga ÂŁ400 per minggu.

Meskipun rute pulang-pergi tidak selalu menyenangkan, baik Beatrice maupun Amelia berharap tetap dapat merasakan pengalaman penuh kehidupan kampus. Mereka tetap berusaha menjaga suasana perkuliahan, tanpa memikul beban biaya sewa hunian.

Namun, pengalaman dan pertimbangan bisa berbeda bagi mahasiswa lain. Jessica, yang juga akan kuliah di Liverpool John Moores University, justru merasa ia berpotensi kehilangan suasana tinggal di kampus.

Jessica mengatakan ia sebenarnya ingin hidup di area kampus dan menikmati ritme kehidupan mahasiswa. Tetapi baginya, harga sewa dianggap tidak masuk akal—ia menggambarkannya sebagai “ridiculous” dan “insane”.

“I have a part-time job as everything is so expensive, and then commuting is going to kill a lot of my free time as well,” ujarnya. Ia menambahkan, “It is a bit sad really when you think about it.”

Meski begitu, Jessica juga menyebut ada sisi yang membuatnya tetap bertahan di rumah. Ia merasa tinggal di rumah berarti ia masih bisa menikmati makanan masakan orang tuanya.

Kecenderungan serupa sebelumnya juga pernah ditonjolkan oleh BBC News melalui kisah perjalanan harian seorang mahasiswa tahun pertama. Dalam liputan tersebut, mahasiswa itu menyatakan dapat menghemat lebih dari ÂŁ7.000 untuk biaya tempat tinggal dengan cara berangkat 90 menit setiap hari dari rumah ke Manchester.

Penghematan seperti ini diharapkan ikut mendorong keputusan lebih banyak calon mahasiswa, terutama saat periode clearing memungkinkan lebih banyak penerimaan tempat kuliah. Secara keseluruhan, BBC mencatat jumlah penerimaan mahasiswa usia 18 tahun di Inggris tahun ini berada pada rekor.

Di balik lonjakan pilihan tinggal di rumah, ada tekanan dari kenaikan tajam biaya sewa dan biaya hidup lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Higher Education Policy Institute (Hepi) menyatakan bahwa tahun lalu mahasiswa membutuhkan £61.000 selama masa tiga tahun gelar untuk mencapai “minimum socially acceptable standard of living”, tidak termasuk biaya kuliah.

Hepi juga merinci biaya sewa pada 2024 untuk akomodasi yang dimiliki perguruan tinggi. Di Irlandia Utara, untuk kontrak 40 hingga 44 minggu, biaya sewa berkisar ÂŁ108 per minggu. Di London, untuk kontrak yang paling singkat, angkanya mencapai ÂŁ338 per minggu.

Di London, sewa disebut mencakup hampir setengah dari biaya mahasiswa, yaitu 46%. Pada banyak wilayah lain, biaya sewa berada di rentang ÂŁ140 hingga ÂŁ180 per minggu, sementara private halls biasanya lebih mahal.

Menurut laporan tersebut, banyak mahasiswa memenuhi syarat untuk maintenance loan yang bisa membantu menekan biaya akomodasi. Namun, sejumlah student unions menyebut harga rata-rata tahunan kamar di kampus naik jauh lebih cepat.

Hepi menambahkan bahwa sebagian besar mahasiswa muda berstatus full-time kini bekerja untuk mendapatkan penghasilan selama masa perkuliahan. Tujuannya untuk menutup kesenjangan antara pendapatan dari maintenance loan dan beban biaya hidup.

Bagi sebagian siswa, situasi ini memunculkan perubahan cara memandang universitas. Open University—yang menyediakan pembelajaran jarak jauh serta kursus daring—menyatakan lebih banyak remaja kini mulai mengambil program melalui jalur tersebut.

Hampir 3.400 siswa usia 18 dan 19 tahun bergabung dengan Open University tahun lalu. Angka itu setara 9,5% dari total peserta baru, dibandingkan 5,7% enam tahun sebelumnya.

Secara tradisional, pilihan belajar jarak jauh lebih dikenal di kalangan mahasiswa yang lebih matang dan ingin tetap bekerja sambil kuliah dari rumah. Namun, kini pergeseran terlihat ke arah yang lebih luas, seiring meningkatnya pertimbangan biaya.

Vice-chancellor Open University, Prof Dave Phoenix, menilai perubahan ini mencerminkan cara pandang yang bergerak. Ia mengatakan bahwa belajar online “means they can avoid moving costs and high accommodation bills and, for others, it means keeping a job”.

Meski demikian, ada pandangan berbeda dari kajian yang menekankan nilai pengalaman tinggal di kampus. Laporan terbaru oleh Prof William Whyte dari University of Oxford berpendapat bahwa manfaat kehidupan di kampus tidak bisa direduksi hanya pada harga akomodasi.

Menurut laporan itu, interaksi dan rutinitas di kampus berperan penting bagi perkembangan pribadi dan pengalaman universitas secara lebih luas. Whyte menegaskan, “The question isn’t simply where students live. It’s what they gain from living and learning together as part of a university community”.

Ia juga menyatakan, “Currently, we have no real policy on accommodation for the overwhelming majority of students who want to leave home for study. It’s time for a serious debate about the role accommodation plays in the university – and how we will pay for it.”

Dari sisi kebijakan, seorang juru bicara Department for Education menyampaikan bahwa pemerintah mengakui ada terlalu banyak mahasiswa yang menghadapi kesulitan keuangan. Mereka menyebut akan meningkatkan maximum maintenance loans serta reintroducing maintenance grants untuk membantu biaya hidup.

Pemerintah juga mengatakan akan bekerja sama dengan universitas dan dewan lokal untuk memperbaiki akses terhadap perumahan mahasiswa. Analisis data dalam pemberitaan ini dilakukan oleh Isobel Cottam dan Phil Leake, sementara pelaporan tambahan dilakukan oleh Emily Doughty.