jurnalistik.co.id – Vladimir Putin genap berusia 74 tahun pada Rabu (7/10/2026). Pada momen itu, spekulasi mengenai siapa yang dapat menggantikannya kembali menguat, seiring kabar yang menyebut kondisi kesehatannya memburuk dan memanaskan perebutan pengaruh di lingkaran elite Kremlin.
Putin memimpin Rusia sejak Desember 1999 dan, selama lebih dari dua dekade, memperkuat kendali atas dinamika politik domestik. Dalam situasi ketidakpastian tentang kesinambungan kepemimpinannya, sejumlah nama dari kalangan keamanan, militer, teknokrat, hingga politik disebut berpotensi menjadi penerus, sebagaimana diberitakan Express pada Kamis (8/10/2026).
Dari tujuh nama yang disebut, masing-masing memiliki basis kekuatan yang berbeda. Karena itu, persaingan di internal kelompok keamanan, militer, teknokrat, dan elite politik dinilai akan menjadi faktor menentukan arah Rusia setelah Putin meninggalkan jabatan.
Aleksey Dyumin
Aleksey Dyumin, 54 tahun, disebut sebagai kandidat yang dekat dengan pilihan Putin. Ia merupakan mantan jenderal intelijen militer sekaligus mantan pengawal pribadi Putin.
Dyumin dikenal pernah memimpin Pasukan Operasi Khusus Rusia saat aneksasi Crimea pada 2014. Setelah itu, kariernya terus melaju di pusat kekuasaan Kremlin.
Menurut laporan tersebut, Dyumin pernah menjadi Gubernur Oblast Tula, kemudian dipercaya sebagai ajudan presiden, dan selanjutnya Sekretaris Dewan Negara. Ia juga disebut memegang sejumlah tanggung jawab pada portofolio keamanan penting.
Andrey Mordvichev
Andrey Mordvichev, 50 tahun, digambarkan sebagai figur militer bergaya garis keras yang berpeluang masuk dalam bursa penerus. Ia menjabat Kolonel Jenderal dan dikenal sebagai komandan tempur yang memimpin operasi Rusia di medan-medan perang paling sengit di Ukraina.
Mordvichev dikaitkan dengan peran dalam pengepungan Mariupol dan Avdiivka, yang disebut menyebabkan kehancuran besar. Setelah dipromosikan menjadi Panglima Angkatan Darat Rusia, ia dipandang merepresentasikan kubu militer yang menginginkan kemenangan mutlak dalam perang Ukraina.
Mikhail Mishustin
Mikhail Mishustin, 60 tahun, berada dalam kategori berbeda karena secara konstitusional masuk jalur suksesi langsung. Dalam Bab 4 Konstitusi Rusia, ia disebut akan menjadi pejabat presiden bila Putin meninggal dunia atau mengundurkan diri.
Di luar skema suksesi, Mishustin membangun reputasi sebagai administrator dengan melakukan digitalisasi besar-besaran terhadap sistem perpajakan Rusia. Kini, ia bertugas menjaga stabilitas ekonomi negara di tengah perang.
Laporan itu juga menyebut Mishustin memperoleh dukungan dari birokrasi sipil serta manajer perusahaan milik negara. Posisi yang demikian membuatnya tampil sebagai sosok teknokrat yang relatif menekankan stabilitas pemerintahan dan pengelolaan ekonomi.
Maksim Oreshkin
Berita Terkait
Maksim Oreshkin, 44 tahun, termasuk anggota yang lebih muda di lingkaran elite inti Putin. Sebelum menempati peran pemerintahan, ia pernah menjadi mantan bankir investasi.
Dalam uraian yang sama, Oreshkin menanjak cepat hingga menjadi penasihat ekonomi utama Presiden Rusia sekaligus Wakil Kepala Staf. Ia dinilai memiliki peran penting dalam merancang strategi ekonomi untuk menghadapi sanksi Barat.
Upaya mempertahankan stabilitas sektor perbankan dan keuangan Rusia membuat Oreshkin disebut sebagai salah satu figur teknokrat penting. Di mata banyak pihak, kemampuan menyusun kebijakan ekonomi menjadi modal ketika transisi kekuasaan terjadi.
Dmitry Medvedev
Dmitry Medvedev, 61 tahun, disebut memiliki lintasan politik yang berbeda dari sejumlah tokoh lain. Ia sempat dianggap sebagai figur reformis moderat saat menjadi presiden Rusia pada periode 2008 hingga 2012, lalu menjabat sebagai perdana menteri.
Namun, menurut laporan tersebut, Medvedev kemudian justru dikenal sebagai salah satu suara paling keras di Kremlin. Sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, ia kerap menggunakan media sosial untuk melontarkan ancaman terhadap negara-negara Barat.
Medvedev disebut bahkan berulang kali membahas kemungkinan serangan menggunakan rudal nuklir hipersonik terhadap London dan ibu kota negara Barat lainnya. Citra tersebut membuatnya sering ditempatkan sebagai figur garis keras yang menguatkan sikap tegas dalam pendekatan keamanan.
Sergei Kiriyenko
Sergei Kiriyenko, 64 tahun, digambarkan sebagai salah satu elite Kremlin yang dikenal mampu bertahan melewati berbagai perubahan politik. Ia pernah menjadi perdana menteri termuda Rusia pada 1998 ketika dipimpin oleh Presiden Boris Yeltsin.
Setelah periode itu, ia disebut menghabiskan lebih dari satu dekade memimpin perusahaan nuklir negara, Rosatom. Kini, Kiriyenko menjabat sebagai Wakil Pertama Kepala Staf Kremlin.
Dalam peran terkini, Kiriyenko dikaitkan dengan pengelolaan politik domestik, propaganda negara, serta administrasi wilayah pendudukan Rusia di Ukraina. Akses terhadap instrumen politik yang beragam membuatnya berpotensi memainkan peran dalam menentukan konfigurasi transisi kekuasaan.
Sergei Surovikin
Sergei Surovikin, 59 tahun, dikenal dengan julukan “Jenderal Armagedon”. Julukan itu muncul karena reputasinya sebagai komandan yang keras.
Ia pernah memimpin operasi militer Rusia di Suriah serta disebut bertanggung jawab atas serangan rudal besar-besaran terhadap infrastruktur Ukraina. Meski Surovikin sempat ditahan dan dicopot dari jabatan komando setelah pemberontakan kelompok Wagner yang dipimpin Yevgeny Prigozhin, popularitasnya tetap disebut bertahan.
Popularitas Surovikin disebut terutama kuat di kalangan tentara ultranasionalis dan blogger militer Rusia yang memandangnya sebagai figur pemimpin yang tangguh. Dengan demikian, ia masuk daftar kandidat yang membawa pengaruh dari sisi militer dan opini kelompok garis keras.
Secara keseluruhan, daftar tujuh nama tersebut memperlihatkan bahwa transisi kepemimpinan Rusia bila terjadi tidak hanya bergantung pada satu jalur. Kombinasi faktor keamanan, militer, teknokrasi, dan elite politik disebut akan bersaing, lalu menentukan arah kebijakan di periode berikutnya.












