Teknologi

Putin Meminta Masukan Elon Musk untuk Layanan Internet Satelit Pesaing Starlink

×

Putin Meminta Masukan Elon Musk untuk Layanan Internet Satelit Pesaing Starlink

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bikin Pengganti Starlink, Putin Minta Masukan Elon Musk

jurnalistik.co.id – Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan meminta masukan Elon Musk untuk mengembangkan layanan internet satelit baru yang berpotensi menjadi pesaing Starlink milik SpaceX.

Dalam pertemuan yang membahas proyek tersebut, Putin juga memberikan pujian terbuka kepada Musk sebagai sosok yang ia nilai sangat mumpuni.

Permintaan itu disampaikan ketika Putin mendengarkan pemaparan Menteri Pengembangan Digital Rusia, Maksut Shadayev, yang memaparkan perkembangan sistem komunikasi satelit orbit rendah.

Menurut laporan Reuters, Putin menegaskan bahwa upaya Rusia masih berada pada tahap awal, meski ia menyebut Musk sebagai figur penting dalam proyek semacam ini.

“Tunggu sebentar, saya ingin menegaskan bahwa ini baru langkah pertama kami. Elon Musk adalah seorang jenius, dia benar-benar jenius,” ujar Putin.

Putin juga mengonfirmasi bahwa Moskow terus menjalin komunikasi dengan Musk serta mitra asal Amerika Serikat (AS) dalam proses pengembangan proyek pesaing Starlink.

Shadayev menyebut Rusia telah meluncurkan lebih dari 30 satelit untuk membangun sistem internet satelit orbit bumi rendah (Low Earth Orbit/LEO) yang diklaim sepadan dengan rancang bangun Starlink.

Di saat yang sama, Putin mengakui Rusia masih tertinggal jauh dibanding Starlink, yang memang telah lama dijalankan oleh perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX.

Shadayev menyatakan Musk saat ini telah mengoperasikan lebih dari 5.000 satelit orbit rendah.

Sementara itu, data pemantauan independen dari Orbital Radar menunjukkan jumlah yang sebenarnya telah mendekati 10.000 satelit.

Meski membandingkan skala yang masih berbeda, Putin menekankan bahwa proyek Rusia tetap dijalankan secara mandiri dan dianggap sebagai langkah yang nyata.

“Mereka punya lebih dari 5.000 satelit, sementara kami baru mengambil langkah pertama. Namun, kami bangga telah memulai proyek ini dan melakukannya secara mandiri,” kata Putin.

Putin kemudian menjelaskan fokus tahap berikutnya dari pengembangan sistem tersebut.

“Tugas kita sekarang adalah beralih dari fokus kualitas ke kuantitas,” tegasnya.

Selain aspek produksi dan peluncuran, Putin juga menyinggung kebutuhan koordinasi lintas pihak agar konstelasi satelit tidak menimbulkan gangguan teknis.

Ia menyebut Rusia menjaga komunikasi dengan para mitra AS, termasuk Musk, untuk memastikan satelit di ruang angkasa tetap berada dalam tatanan yang tidak saling mengganggu.

“Kami menjalin kontak erat dengan mitra Amerika kami, termasuk Tuan Musk, karena sangat penting agar keberadaan satelit di orbit tidak saling mengganggu serta tetap menjaga tingkat disiplin dan ketertiban tertentu,” tambah Putin.

Dengan demikian, rencana Rusia tidak hanya menyangkut penambahan jumlah satelit, melainkan juga pengelolaan risiko interferensi yang dapat memengaruhi stabilitas layanan internet satelit.

Starlink dan dinamika perang Rusia–Ukraina

Pengembangan sistem internet satelit oleh Rusia berlangsung di tengah peran krusial Starlink dalam konflik Rusia–Ukraina.

Militer Ukraina, disebut sangat bergantung pada jaringan tersebut, termasuk layanan Starshield yang merupakan varian Starlink untuk kebutuhan militer.

Layanan itu digunakan untuk menunjang komunikasi di medan tempur hingga navigasi operasi drone.

Namun, pada awal Oktober lalu, Ukraina sempat mengeluhkan adanya pembatasan kecepatan (throttling) akses Starlink.

Kendala ini dinilai menghambat kemampuan militer Kyiv dalam mencegat serangan drone Rusia, bahkan memaksa mereka membatalkan sejumlah operasi militer strategis.

Isu teknis tersebut kemudian memperkeruh ketegangan diplomasi antara Kyiv dan Washington.

Situasi makin rumit setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan pembelian minyak/energi dari Rusia.

Dalam perkembangan lain, Trump juga mendesak Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas kilang minyak Rusia, sekaligus menyuarakan bahwa sudah saatnya Ukraina melakukan pergantian kepemimpinan nasional.

Pada akhir pekan lalu, pemerintah Ukraina mengonfirmasi bahwa layanan Starlink dan Starshield telah kembali berfungsi penuh.

Meskipun layanan disebut sudah normal, Musk menuding militer Ukraina melanggar ketentuan penggunaan (terms of service) SpaceX.

Pihak Musk maupun pemerintah AS yang mengoperasikan jaringan Starshield dengan memanfaatkan teknologi Starlink, membantah bertanggung jawab atas pembatasan kecepatan yang sempat terjadi.

Kepentingan Moskow pada Musk bukan hal baru

Keinginan Moskow untuk merangkul Elon Musk ternyata bukan kemauan yang muncul mendadak.

Pada 2025, Utusan Khusus Investasi Presiden Putin, Kirill Dmitriev, menyatakan secara terbuka adanya minat Rusia untuk berkolaborasi dengan Musk dalam misi penjelajahan ke planet Mars.

Dari rangkaian informasi tersebut, terlihat bahwa keterlibatan Musk menjadi titik perhatian lintas kepentingan, mulai dari kolaborasi teknologi hingga pengembangan infrastruktur orbit rendah.

Sementara Rusia menyebut proyek internet satelitnya masih berada pada fase awal, upaya tersebut kini juga mendapat sinyal dukungan politik melalui permintaan masukan langsung dari Elon Musk.

Langkah berikutnya, menurut Putin, adalah meningkatkan skala melalui peralihan dari fokus kualitas ke kuantitas, disertai koordinasi dengan mitra internasional agar aktivitas satelit tetap tertib dan tidak menimbulkan gangguan.