jurnalistik.co.id – Pemeringkatan terbaru Global Firepower (GFP) 2026 menempatkan Indonesia sebagai yang terkuat di Asia Tenggara dalam konteks kekuatan militer konvensional. Di tingkat global, Indonesia berdiri pada peringkat ke-13 dari 145 negara dengan nilai PowerIndex sebesar 0,2582.
GFP menilai kemampuan pertahanan lintas dimensi, mulai dari kekuatan personel hingga daya dukung ekonomi dan faktor geografis. Dalam penilaian tersebut, semakin mendekati angka 0,0000 mengindikasikan kemampuan militer konvensional yang semakin kuat.
Pada periode setelah kemerdekaan, kemampuan pertahanan Indonesia terus ditopang lewat penambahan personel, modernisasi alutsista, serta penguatan kesiapan di darat, laut, dan udara. Kerangka itu kemudian tercermin dalam hasil pemeringkatan GFP 2026.
Untuk posisi dunia, Indonesia berada tepat di bawah Jerman yang menempati peringkat ke-12. Indonesia juga berada di atas Pakistan (peringkat ke-14) serta Israel (peringkat ke-15).
Metode penilaian Global Firepower
Global Firepower menyusun daftar kekuatan dengan menggunakan lebih dari 60 indikator. Indikator-indikator tersebut mencakup jumlah personel, kekuatan angkatan udara, darat, dan laut, kemampuan keuangan, sumber daya alam, logistik, hingga kondisi geografis.
Perlu dicatat, sebagian angka yang dipakai merupakan estimasi bila data resmi tidak tersedia. Karena itu, hasil GFP dipahami sebagai gambaran perbandingan kemampuan yang dibangun dari berbagai sumber dan proyeksi.
Persaingan di Asia Tenggara
Keunggulan Indonesia di Asia Tenggara tidak berarti seluruh komponennya selalu menjadi yang terbesar. Sebagian negara tetangga menonjol pada indikator tertentu, sehingga kekuatan kawasan membentuk spektrum yang beragam.
Vietnam menjadi pesaing paling dekat berdasarkan nilai PowerIndex. Negara tersebut meraih skor 0,4066 dan menempati peringkat ke-23 dunia, sedangkan Thailand satu tingkat di bawahnya pada peringkat ke-24 dunia dengan skor 0,4458.
Di bawah posisi Indonesia dan dua negara tersebut, terdapat Singapura yang berada pada peringkat ke-29 dunia. Selanjutnya, Myanmar menempati peringkat ke-35, Filipina ke-41, dan Malaysia ke-42.
Namun, detail keunggulan tiap negara menunjukkan penekanan yang berbeda. Vietnam, misalnya, tercatat memiliki 450.000 personel aktif serta 5 juta personel cadangan, dengan jumlah cadangan tersebut disebut sebagai yang terbesar di dunia dalam data GFP 2026.
Thailand juga disebut unggul dalam jumlah pesawat militer, dengan catatan memiliki 496 unit atau lebih. Di sisi lain, Indonesia memiliki 460 unit pesawat militer dalam penghitungan GFP.
Bila dilihat dari pembiayaan, Singapura mencatat anggaran pertahanan terbesar di kawasan, yakni US$18 miliar. Meski hanya memiliki 51.000 personel aktif, Singapura memiliki 100 jet tempur, jauh di atas Indonesia yang tercatat memiliki 41 jet tempur.
Berita Terkait
Perbedaan pendekatan itu turut terlihat pada kekuatan darat. Vietnam menonjol dengan 1.999 tank, 69.914 kendaraan militer, serta 5 juta personel cadangan. Jumlah tank Vietnam hampir enam kali lipat dibandingkan Indonesia.
Thailand juga memperlihatkan keunggulan pada beberapa aspek persenjataan dan aset. Negeri tersebut memiliki 496 pesawat militer, 744 tank, serta 304 aset angkatan laut menurut penghitungan GFP. Selain itu, Thailand disebut sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara yang diklasifikasikan GFP memiliki kapal induk helikopter.
Adapun Singapura lebih menumpukan kekuatannya pada kombinasi teknologi dan kemampuan keuangan. Pola itu tampak dari perbedaan angka personel aktif dan jumlah jet tempur yang jauh lebih tinggi.
Keunggulan paling menonjol: kekuatan angkatan laut
Di antara berbagai indikator, kekuatan angkatan laut Indonesia menjadi bagian yang paling mencolok. GFP mencatat armada laut Indonesia mencapai 338 unit, yang merupakan yang terbanyak di Asia Tenggara sekaligus menempatkan Indonesia pada peringkat ke-5 dunia dari sisi jumlah unit.
Armada laut tersebut terdiri atas 10 fregat, 26 korvet, empat kapal selam, 211 kapal patroli, serta 10 kapal penyapu ranjau. Secara kuantitas, Indonesia juga mengungguli sejumlah negara kawasan seperti Thailand yang memiliki 304 unit, Myanmar 239 unit, Filipina 127 unit, dan Vietnam 116 unit.
Tetapi, GFP menegaskan bahwa jumlah kapal tidak selalu menggambarkan daya tempur secara langsung, karena perhitungan turut memasukkan kapal patroli serta kapal pendukung. Karena itu, penilaian tidak bisa disederhanakan hanya pada angka total unit.
Jika ukuran dinilai dari tonase, armada laut Indonesia mencapai 324.754 ton dan berada pada peringkat ke-11 dunia. Posisi ini dinilai sejalan dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan sangat luas.
Indonesia juga tercatat memiliki 123 pelabuhan dan terminal perdagangan, serta armada kapal niaga sebanyak 11.422 unit. Angka tersebut disebut menjadi yang terbesar di antara 145 negara yang dinilai GFP.
Struktur personel dan dukungan anggaran
Selain armada, GFP juga menyoroti komposisi personel. Indonesia memiliki sekitar 404.500 personel aktif, 401.000 personel cadangan, dan 250.000 personel paramiliter.
Apabila digabungkan, jumlah personel militer dan paramiliter Indonesia diperkirakan mencapai 1,06 juta orang. Kombinasi ukuran personel dan cadangan itu menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk posisi Indonesia dalam pemeringkatan.
Dari sisi kemampuan finansial, anggaran pertahanan Indonesia dicatat sebesar US$11,16 miliar. Nilai tersebut menjadikannya yang terbesar kedua di antara sembilan negara Asia Tenggara, berada di bawah Singapura yang memiliki anggaran lebih tinggi.
Kesimpulan GFP untuk Indonesia
Dengan dukungan populasi besar, kekuatan laut, sumber daya alam, kemampuan ekonomi, serta jaringan logistik yang luas, Indonesia dinilai memiliki kekuatan militer yang paling seimbang di Asia Tenggara menurut GFP 2026. Kesimpulan tersebut merangkum bahwa keunggulan Indonesia bukan hanya pada satu indikator, melainkan pada kemampuan menyeluruh yang terhubung antar-komponen pertahanan.












