jurnalistik.co.id – WASHINGTON — Laksamana Madya (Purn.) Angkatan Laut AS John Miller menilai kekuatan yang dimiliki Amerika Serikat belum cukup untuk menjawab seluruh kebutuhan operasionalnya. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara kepada Al Jazeera, menyusul perbincangan mengenai jumlah armada kapal induk.
Miller menyinggung bahwa AS memang memiliki 11 kapal induk. Namun, menurutnya, kepemilikan itu tidak otomatis berarti kemampuan tempur siap pakai di setiap waktu dan situasi, sehingga gap kebutuhan tetap terasa.
Dalam penilaiannya, angka “sebelas” terlihat besar, tetapi realitas di lapangan tidak sesederhana itu. “Angka sebelas terdengar banyak,” ujar Miller kepada Al Jazeera.
Ia kemudian menyoroti perbedaan struktur kesiapan. Miller menjelaskan bahwa pada waktu tertentu hanya sebagian kecil kapal induk yang berada dalam kondisi siap dikerahkan, sementara kapal lain sedang menjalani aktivitas pemeliharaan atau siklus operasional yang membuat mereka tidak bisa langsung ditugaskan.
Pemeliharaan menjadi hambatan utama dalam jadwal kekuatan kapal induk. Miller menyebut, biasanya setidaknya satu kapal induk berada dalam perombakan besar dan pengisian ulang yang dapat memakan waktu bertahun-tahun, sedangkan kapal lain terhalang oleh perbaikan rutin maupun pelatihan.
Untuk menggambarkan bagaimana perhitungan kesiapan dilakukan, Miller menggunakan pendekatan pembagian armada. Ia menyatakan bahwa total armada perlu dibagi menjadi tiga bagian: “Jika kita memiliki sembilan kapal induk yang tersedia pada hari tertentu, maka tiga kapal bisa dikerahkan, tiga baru saja kembali, dan tiga lainnya sedang bersiap untuk berangkat kembali.”
Penjelasan tersebut sekaligus memberi konteks mengapa Washington harus mengatur ulang pengerahan kapal induknya di berbagai kawasan. Salah satu contoh yang disebut adalah ketika kapal induk milik AS di kawasan Asia-Pasifik harus ditarik kembali untuk menutup kebutuhan yang muncul di tempat lain.
Berita Terkait
Miller merujuk pada penempatan USS George Washington di kawasan Asia-Pasifik yang digunakan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Langkah itu juga disebut dalam kerangka yang lebih luas, karena pada saat yang sama kapal induk lainnya, USS George H.W. Bush, turut terlibat dalam penugasan di kawasan Timur Tengah.
Dengan demikian, pernyataan Miller menekankan bahwa ukuran armada tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah kapal induk yang dimiliki. Menurutnya, yang menentukan adalah berapa banyak unit yang benar-benar tersedia dan siap dikerahkan pada hari tertentu, di tengah jadwal perombakan, pengisian ulang, perbaikan rutin, dan pelatihan.
Ia juga menempatkan diskusi ini dalam perbandingan dengan negara lain. Miller menyebut bahwa meski AS memiliki 11 kapal induk, jumlah tersebut delapan lebih banyak dibandingkan pesaing terdekatnya, China, yang disebut memiliki tiga kapal induk.
Namun, pada akhirnya Miller kembali menegaskan inti pesannya: meskipun AS punya 11 kapal induk, “kekuatan Angkatan Laut yang memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan” tetap belum terpenuhi secara menyeluruh. Menurutnya, kombinasi keterbatasan kesiapan pada waktu tertentu dan panjangnya siklus pemeliharaan membuat kemampuan cadangan tidak bisa diperlakukan seolah semua kapal selalu tersedia.
Gagasan pembagian armada itu pada dasarnya menjelaskan bahwa penilaian kekuatan tidak berhenti pada daftar aset, melainkan menilai kondisi operasional pada tanggal tertentu. Dengan kerangka tiga kelompok—yang dapat dikerahkan, yang baru kembali, dan yang sedang berada dalam fase siap berangkat—otoritas perencanaan harus bekerja dengan angka “siap guna” yang berubah-ubah.
Dari sini, muncul konsekuensi langsung terhadap cara Washington menyusun prioritas di lintas kawasan. Ketika kebutuhan di satu wilayah meningkat, kapal induk yang sedang menjalani jadwal pemeliharaan atau siklus operasional tidak bisa sekadar “ditarik” tanpa menunggu perubahan kesiapan. Karena itu, pengaturan ulang penugasan menjadi cara untuk menyeimbangkan keterbatasan waktu dan ketersediaan nyata armada.
Dalam contoh yang disebut Miller, perpindahan penugasan kapal induk di Asia-Pasifik—melalui penempatan USS George Washington untuk menggantikan USS Abraham Lincoln—menjadi ilustrasi bagaimana satu keputusan dapat terkait dengan penugasan lain di teater berbeda. Pada saat yang sama, USS George H.W. Bush disebut tetap terlibat di Timur Tengah, sehingga gambaran yang muncul menekankan bahwa ruang manuver ditentukan oleh ritme pemeliharaan, perbaikan rutin, dan pelatihan yang berlangsung bersamaan.












