jurnalistik.co.id – Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan pihaknya menembak tiga kapal tanker yang terkait Iran setelah dua kapal perang Angkatan Laut AS diincar rudal balistik di kawasan tersebut. Centcom menyebut serangan itu terjadi pada Sabtu, setelah pihaknya melaporkan beberapa serangan terhadap aset militer AS berhasil dihindari.
Dalam keterangannya, Centcom mengatakan sebuah tanker dinonaktifkan secara permanen di dekat Pulau Kharg. Satu kapal lain juga disebut dinonaktifkan di sekitar Selat Hormuz, sementara tanker ketiga dinyatakan “completely destroyed” di Teluk Oman.
Centcom menegaskan, pihaknya “successfully evaded” serangkaian serangan yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap sebuah kapal induk Angkatan Laut AS dan kapal perusak rudal berpemandu. Pernyataan itu juga menyebut tidak ada personel AS yang terluka dalam insiden tersebut.
Media negara Iran sebelumnya melaporkan bahwa satu kapal tanker milik/terkait Iran terkena serangan di lepas pantai Pulau Kharg. Namun, Tehran tidak secara langsung mengakui adanya serangan terhadap kapal-kapal milik AS.
Komandan Centcom, Laksamana Brad Cooper, menyampaikan pesan tegas melalui pernyataan tertulis. Ia mengatakan: “Let the message to the IRGC be clear: If you shoot at two of our ships, we will impose an even higher economic cost – taking out three of yours.” Ia juga menambahkan, “We will not hesitate to defend American forces, and if necessary, destroy Iran’s limited and exposed oil fleet.”
Centcom menyatakan tiga tanker yang disasar merupakan bagian dari jejaring “multibillion-dollar shadow network” yang mendanai IRGC serta proksi-proksi di kawasan. Dengan narasi tersebut, AS menempatkan serangan ke kapal-kapal minyak sebagai respons ekonomi, sejalan dengan penilaian bahwa upaya IRGC menarget aset militer AS dapat ditanggapi dengan memukul rantai pendanaan.
Berita Terkait
Serangan ini datang hampir sepekan setelah muncul kembali ketegangan antara AS dan Iran. Setelah masa relatif tenang di antara kedua pihak, benturan belakangan disebut berawal dari eskalasi yang mengikuti serangan luas yang dilakukan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.
Menurut rangkaian yang disebut dalam laporan, Iran kemudian merespons dengan menyerang Israel, pangkalan AS, serta negara-negara sekutu di wilayah Teluk. Dalam konteks itu, konflik disebut berujung pada penutupan efektif Selat Hormuz bagi lalu lintas laut, yang berdampak pada kenaikan harga energi secara global.
Di sisi politik dalam negeri AS, laporan yang sama menyinggung bahwa menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) pada November, Presiden Trump menghadapi tekanan terkait biaya perang terhadap konsumen Amerika. Dengan demikian, serangkaian serangan yang melibatkan aset militer dan jaringan logistik energi tidak hanya menjadi isu keamanan kawasan, tetapi juga bagian dari perdebatan politik yang lebih luas.
Pihak Centcom juga mengaitkan serangan itu dengan rangkaian langkah yang, menurut mereka, berulang kali ditujukan untuk aset militer AS. Dalam laporan tersebut, insiden digambarkan sebagai bagian dari upaya yang berusaha menekan posisi Amerika di kawasan, namun berhasil digagalkan melalui respons dan tindakan penghindaran.
Centcom merinci bahwa dampak terhadap kapal-kapal yang disasar tidak seragam, mulai dari status dinonaktifkan permanen hingga kondisi kerusakan total. Dengan menyebut lokasi-lokasi seperti sekitar Pulau Kharg, area Selat Hormuz, hingga Teluk Oman, AS ingin menunjukkan bahwa operasi balasan diarahkan ke elemen yang dianggap terkait logistik minyak dan rantai pendanaan.
Sementara itu, laporan media negara Iran memosisikan peristiwa sebagai serangan terhadap kapal tanker yang dinyatakan terkait Iran di lepas Pulau Kharg. Namun, dalam pemberitaan yang sama tidak ada pengakuan langsung dari pihak Tehran bahwa serangan tersebut diarahkan pada kapal-kapal milik atau aset AS, sehingga narasi mengenai siapa yang menjadi sasaran utama tetap berbeda antara kedua pihak.
Serangan balasan ini disebut muncul dalam situasi yang sedang memanas, setelah eskalasi yang bermula dari serangan luas AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Ketegangan yang kemudian berlanjut dilukiskan berujung pada penutupan efektif Selat Hormuz, yang ikut mendorong kenaikan harga energi global. Di saat yang sama, di tingkat domestik AS, isu biaya perang menjelang pemilihan paruh waktu pada November juga menjadi tekanan politik, sehingga insiden di kawasan sekaligus dipandang sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas.












