jurnalistik.co.id – Jumlah penangkapan warga Inggris muda di luar negeri yang diduga menjadi kurir penyelundupan obat-obatan mengalami lonjakan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Data pemerintah menunjukkan kenaikan dari lebih dari 80 kasus pada 2023 menjadi lebih dari 340 kasus pada 2025.
Kenaikan tersebut, menurut rilis yang dikutip, terutama dipicu pelanggaran terkait ganja yang berhubungan dengan Thailand dan beberapa wilayah lain di Asia Tenggara. Para pelaku ditangkap setelah direkrut sebagai “drug mules”, dan pola rekrutmen itu dinilai menargetkan kelompok usia tertentu.
Foreign Office menyebut warga Inggris yang dipulangkan atau ditahan di luar negeri menghadapi konsekuensi berat. Stephen Doughty, menteri Foreign Office, mengatakan orang-orang “lured by gangs with the “promise [of] free travel or a quick way to make cash”” dan memperingatkan bahwa penahanan di luar negeri dapat berujung perlakuan keras.
Doughty juga menegaskan bahwa tidak ada imbalan yang sebanding dengan risikonya. Ia menyatakan, “no holiday, payment or opportunity is worth risking your freedom, your future or your life”. Pernyataannya dilengkapi dengan peringatan bahwa mereka yang ditahan kemudian menyampaikan kondisi hidup yang “dire living conditions” dalam penjara selama puluhan tahun, bahkan di beberapa negara menghadapi kemungkinan hukuman mati.
Dalam informasi yang sama, lebih dari 200 warga Inggris disebut telah ditahan dengan dugaan menyelundupkan ganja dari Thailand. Sejak 2024, sekitar 60% dari mereka berada pada rentang usia 16 hingga 20 tahun.
Foreign Office menyebut rekrutmen kerap berlangsung melalui media sosial. Banyak remaja dan anak muda diyakini didorong atau dipancing agar membawa bagasi untuk kelompok kriminal, tanpa mengetahui isi sesungguhnya.
Riset yang dipesan oleh Foreign Office turut menyoroti rendahnya kewaspadaan. Disebutkan bahwa “a third of young Britons surveyed did not consider travelling with luggage packed by someone else to be a risk”. Temuan itu dipakai sebagai dasar kampanye pencegahan terhadap warga Inggris muda yang berpotensi tergoda membawa kargo ilegal.
Berita Terkait
Badan berita itu juga merujuk hasil investigasi sebelumnya yang menyebut jaringan penjahat berbasis di Thailand merekrut orang untuk mengangkut kuantitas ganja dalam koper. Dalam beberapa skenario, rekrutmen dilakukan dengan skema penjelasan yang menyesatkan: calon kurir diberi tahu bahwa mereka membawa koper berisi pakaian, emas, atau uang, padahal isi koper tersebut bisa berisi hingga 71kg ganja.
Ganja digolongkan sebagai Class B di Inggris, dengan ancaman hukuman hingga lima tahun penjara untuk kepemilikan. Untuk pasokan dan produksi, ancamannya dapat mencapai 14 tahun, dengan denda yang besarnya bisa tidak terbatas. Rangkaian konsekuensi di dalam negeri ini diposisikan sebagai bagian dari risiko yang melekat pada tindakan penyelundupan.
Dari sisi dampak di negara tujuan, pemerintah Inggris menyebut bahwa hukuman untuk penyelundupan lintas negara dapat mencakup pemenjaraan dan denda. Di beberapa konteks, hukuman juga dapat berupa tindakan fisik seperti whipping, dan pada kasus tertentu bahkan mencakup hukuman mati.
Foreign Office juga menyinggung bahwa Malaysia, Laos, dan Kamboja disebut sebagai sumber penyelundupan yang umum. Sementara itu, National Crime Agency (NCA) pada Juli menyatakan bahwa “mules” asal Inggris yang tertangkap karena menyelundupkan ganja dari Thailand akan menghadapi hukuman penjara. NCA menambahkan bahwa mereka juga harus membayar Thai Customs sebesar 30,000 Baht (£680) per kilogram untuk dapat meninggalkan negara tersebut.
Selanjutnya, angka terbaru menunjukkan bahwa sepanjang 2026 telah ada lebih dari 160 kasus warga Inggris yang ditangkap di luar negeri atas pelanggaran terkait penyelundupan narkoba. Dalam konteks penegakan, pada 2024 polisi juga disebut menyita ganja senilai ÂŁ13.8m yang diselundupkan dari Thailand di Birmingham Airport.
BBC turut memuat contoh dampak yang dialami individu yang ditahan. Salah satu warga Inggris yang mengalami penahanan di luar negeri menggambarkan situasi itu sebagai “a “sense of mourning for the life” they previously had”. Sementara pihak lain menyampaikan, “It’s your freedom you’re risking, and once it’s gone, it’s not easy to get back.”
Untuk memperlihatkan sebaran usia dan karakter keterlibatan, disebutkan pula bahwa delapan dari sebelas orang yang dinyatakan bersalah atas keterlibatan mereka pada bulan lalu berada di usia dua puluhan. Gambaran tersebut selaras dengan pola rekrutmen yang menempatkan anak muda sebagai target utama dalam jaringan penyelundupan.












