jurnalistik.co.id – WASHINGTON — Upaya Rusia memasok diesel ke pasar Amerika Serikat dan pasar global lewat kesepakatan yang diumumkan Donald Trump pada Oktober lalu kini menghadapi keraguan. Sejumlah kapal tanker yang membawa muatan diesel dilaporkan mengubah haluan, sementara diesel disebut belum juga tiba ke AS.
Dalam laporan yang sama, disebut pula bahwa harga diesel di AS melonjak hampir dua kali lipat sejak perang AS–Israel melawan Iran dimulai. Meski begitu, hampir sebulan setelah Trump menyetujui skema penyaluran stok diesel, tidak ada satu pun diesel yang sampai ke Amerika Serikat.
Kondisi tersebut terkait dengan pengiriman yang berjalan sejak kesepakatan diumumkan. Rusia dilaporkan telah mengirim total empat kapal tanker yang bermuatan diesel, tetapi prosesnya tidak menunjukkan kelancaran sesuai rencana.
Kapal beralih rute di tengah pengiriman
Salah satu sorotan berawal dari perubahan tujuan kapal tanker. Disebutkan, setidaknya tiga kapal yang membawa diesel Rusia menuju Amerika Serikat mengalami perubahan haluan. Situasi ini membuat jalur pengiriman—termasuk rencana bongkar muat—menjadi tidak pasti.
Kapal tanker yang disebut dalam laporan antara lain Talisman. Nama lain yang turut disebut adalah kapal berbendera Sierra Leone, Leruo. Berdasarkan catatan pelacakan, kedua kapal tersebut bertolak dari pelabuhan Primorsk di Baltik dengan tujuan yang dinyatakan mengarah ke Pantai Timur AS.
Namun, pada hari Kamis, satu kapal terpantau bergerak ke Brasil. Sementara kapal lainnya disebut berpindah arah menuju kawasan Mediterania, menurut firma analitik kelautan Kpler serta situs pelacakan kapal MarineTraffic.
Untuk kapal tanker ketiga, laporan menyebut posisinya masih berada di Atlantik Utara. Kapal itu juga disebut mengubah tujuan dari New York menjadi “menunggu instruksi”, sehingga lokasi bongkar muat belum ditentukan.
Laporan tersebut juga menyinggung kapal Beast. Financial Times melaporkan bahwa Beast—kapal tanker milik pihak Seychelles yang terkena sanksi—pernah memuat kargo di pelabuhan Primorsk pada akhir Oktober. Setelah itu, kapal dilaporkan berlayar menuju Amerika Serikat dengan status tujuan “Atlantik”.
Kesepakatan yang mencakup angka besar, namun minim perincian
Pemicu berikutnya menyoroti aspek kesepakatan yang dinilai memuat angka besar, tetapi minim rincian. Trump pertama kali mengumumkan kesepakatan tersebut setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Vladimir Putin pada 9 Oktober.
Berita Terkait
Dalam pengumuman itu, disebut bahwa Rusia akan segera menyediakan lebih dari 300.000 ton diesel untuk pasar Amerika Serikat maupun pasar global. Laporan juga menyebut kemampuan kapal tanker produk minyak jarak jauh yang mengangkut pasokan diesel, dengan kapasitas hingga sekitar 100.000 ton dalam sekali perjalanan.
Menurut pemberitaan, tambahan pasokan sebesar 500.000 ton akan menyusul pada bulan November. Setelahnya, disebut pula akan ada 1 juta ton lagi “segera setelahnya”, sebagaimana disampaikan Trump melalui platform Truth Social.
Skema kesepakatan tersebut dilaporkan mengizinkan diesel asal Rusia untuk dijual, dikirim, dibongkar, dan diimpor hingga tanggal 7 April. Sementara itu, laporan menegaskan bahwa konteksnya tetap berada di tengah sanksi yang masih berlaku.
Laporan yang sama juga menyebut adanya latar belakang terkait penyebab kelangkaan diesel. Trump dikabarkan menyalahkan Ukraina sebagai pemicu kekurangan tersebut, dengan alasan Ukraina menargetkan fasilitas energi Rusia selama perang Rusia–Ukraina.
Dalam kerangka itulah, pengusaha AS disebut menolak pembelian diesel Rusia yang diimpor dengan skema yang diumumkan Trump. Meski berbagai angka pasokan disebutkan, laporan menempatkan ketidakpastian pengiriman dan kelanjutan rencana sebagai faktor yang membuat penerimaan di pasar menjadi dipertanyakan.
Dari pengumuman ke kenyataan di pasar
Jika mengacu pada rangkaian waktu yang disebut, kesepakatan diumumkan pada awal Oktober dan upaya pengiriman dilakukan setelahnya. Tetapi, laporan menyatakan bahwa hampir sebulan setelah persetujuan, tidak ada diesel yang sampai ke Amerika Serikat.
Selain perubahan tujuan kapal-kapal yang disebut, ketidaksesuaian antara rencana suplai dan hasil pengiriman juga menjadi bagian dari gambaran yang disorot. Rusia dilaporkan mengirim empat kapal tanker bermuatan diesel, namun tidak semuanya bergerak sesuai arah yang semula diumumkan.
Dengan situasi tersebut, keraguan yang muncul bukan hanya terkait rute kapal, melainkan juga terkait kejelasan implementasi kesepakatan, termasuk kapan muatan benar-benar tiba dan bagaimana pasokan itu menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Di tengah kenaikan harga diesel yang disebut melonjak hampir dua kali lipat, laporan menempatkan faktor-faktor operasional—mulai dari perubahan haluan kapal hingga detail pelaksanaan kesepakatan—sebagai alasan yang mendorong penolakan pengusaha AS terhadap pembelian BBM Rusia yang diimpor melalui skema Trump.
Menurut pemberitaan, setidaknya ada lima pemicu yang dibahas. Namun, pada teks yang Anda lampirkan, rincian paling lengkap baru memuat dua pemicu terkait perubahan rute kapal tanker dan ketidakjelasan perincian kesepakatan, termasuk angka volume pasokan serta batas waktu impor.










