Internasional

Ambisi JD Vance Mengarah Capres 2028 Makin Terhambat, Ini Tiga Faktornya

×

Ambisi JD Vance Mengarah Capres 2028 Makin Terhambat, Ini Tiga Faktornya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ambisi JD Vance Jadi Capres pada 2028 Kian Kandas, Ini 3 Alasannya

jurnalistik.co.id – Kekalahan telak Partai Republik pada pemilihan paruh waktu membuat ambisi politik Wakil Presiden JD Vance untuk maju sebagai capres pada 2028 makin sulit diwujudkan. Sejumlah sekutu dan orang-orang di lingkarannya mulai mempertanyakan apakah waktu yang ia rencanakan masih realistis.

Laporan The Wall Street Journal, yang mengutip enam orang yang dekat dengan Vance, menyebut ia belum mengambil keputusan untuk mencalonkan diri. Menurut laporan itu, Vance juga menyampaikan hal serupa kepada rekan-rekannya—baik sebelum maupun sesudah pemilu—bahwa ia masih belum menentukan sikap.

Di tengah situasi tersebut, beberapa sekutu bahkan berpendapat tidak ada kandidat Partai Republik yang benar-benar bisa memenangkan kursi kepresidenan dalam dua tahun ke depan. Pandangan yang pesimistis itu berkembang ketika dampak kekalahan pemilu mulai terasa pada dukungan politik, termasuk dari para donor.

Dukungan donor besar ikut bergeser

Menurut laporan tersebut, salah satu faktor utama datang dari perubahan sikap para penyokong dana. Kekalahan pada hari Selasa membuat Partai Demokrat merebut tujuh kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Partai Republik. Dalam rincian yang disebutkan, termasuk kursi yang pernah diduduki Vance di Ohio.

Selain Senat, Partai Demokrat juga memenangkan kembali jabatan gubernur di beberapa negara bagian yang selama ini menjadi basis Partai Republik, seperti Georgia dan Texas. Hasil ini kemudian memunculkan pertanyaan baru tentang kekuatan koalisi politik yang selama ini dibangun di sekitar Presiden Donald Trump.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa dalam waktu 24 jam setelah pemilu, seorang penggalang dana senior di New York mulai menerima telepon dari para donatur kaya Partai Republik yang menyatakan mereka tidak dapat mendukung Vance pada 2028. Sejumlah pihak yang menghubungi disebut juga mulai melirik Ron DeSantis, Gubernur Florida, serta kandidat potensial lain.

Para donatur tersebut, menurut laporan itu, khawatir bahwa sosok yang muncul dari lingkungan pemerintahan akan terlalu dekat dengan Trump. Mereka juga menilai, secara politik, Vance berpotensi makin melemah setelah kekalahan pada pemilihan paruh waktu.

Vance mengaitkan kekalahan dengan perang melawan Iran

Faktor berikutnya berkaitan dengan cara Vance menjelaskan kekalahan Partai Republik. Ia disebut berupaya menempatkan perang melawan Iran sebagai salah satu penyebab buruknya performa politik partai.

Dalam sebuah esai panjang di media sosial minggu ini, Vance menyalahkan agresi tersebut dan berargumen bahwa Partai Republik perlu meninjau kembali hubungan mereka dengan rezim Israel. Kekhawatirannya mengenai konsekuensi perang itu juga disebut sudah muncul sebelum agresi berlangsung.

Berdasarkan laporan, pada bulan Januari ketika Trump mempertimbangkan serangan militer besar-besaran, Vance secara pribadi mendesaknya agar tetap menempuh jalur diplomasi. Langkah ini ditempatkan sebagai upaya menyusun justifikasi politik atas kondisi setelahnya.

Vance juga disebut menugaskan survei melalui Rasmussen Reports untuk mengukur sikap publik terhadap kemungkinan terjadinya perang. Survei tersebut memperlihatkan bahwa 44 persen responden mendukung perang, sementara 43 persen menentangnya.

Selain itu, 62 persen responden menyatakan jumlah korban jiwa dari pihak Amerika yang dinilai dapat diterima adalah kurang dari 100 orang. Sementara itu, 65 persen responden berpendapat Trump seharusnya mendapatkan persetujuan dari Kongres sebelum memerintahkan serangan.

Di sisi lain, Trump disebut mengakui bahwa perang tersebut berkontribusi pada kekalahan Partai Republik. Namun, ia tetap membela keputusannya dengan mengatakan, “Saya melakukan hal yang benar. Saya akan melakukannya lagi.”

Memanasnya dampak ekonomi dan pilihan politik ke depan

Bagian ketiga laporan menyoroti dampak ekonomi. Vance disebut menghadapi kritik yang juga datang dari kubu internal Partai Republik terkait konsekuensi perang tersebut.

DeSantis, dalam konteks yang sama, mengkritik dampak ekonomi dari agresi. Ia menyatakan, “Harga bensin menjadi lebih mahal. Hal ini merugikan masyarakat, khususnya kelas pekerja… Itu adalah fakta.”

Pernyataan itu merujuk pada konsekuensi dari tindakan Iran yang menutup Selat Hormuz—sebuah jalur perairan strategis—sebagai bentuk pembalasan, yang kemudian memicu guncangan di pasar global. Laporan tersebut menyebut perang juga mendorong Iran melancarkan setidaknya 100 gelombang serangan balasan yang destruktif.

Serangan tersebut disebut menyasar infrastruktur militer penting Amerika di kawasan itu, termasuk pangkalan udara terbesar AS di Qatar serta pusat logistik regional AS di Bahrain. Situasi seperti ini membuat pertimbangan politik menjelang pemilihan pendahuluan menjadi lebih rumit.

Di tengah berbagai tekanan itu, Vance dikabarkan mempertimbangkan kemungkinan DeSantis menjadi penantangnya dalam pemilihan pendahuluan (primary) Partai Republik. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai perlunya menjaga jarak dari perang tersebut sekaligus dampak ekonominya.

Beberapa orang kepercayaan Vance menyarankan agar ia kembali ke Ohio untuk mencalonkan diri lagi sebagai senator—posisi yang pernah ia jabat—atau memilih maju sebagai gubernur. Namun, menurut pihak-pihak yang dekat dengannya, Vance menolak kedua usulan tersebut.

Meskipun demikian, laporan itu menyatakan Vance tetap memiliki elektabilitas yang kuat menghadapi potensi penantang dari Partai Republik. Ia juga disebut mendapat dukungan dari tokoh-tokoh berpengaruh di partai tersebut, termasuk Donald Trump Jr.

Dalam perannya, Vance juga terus menjalin komunikasi rutin dengan para donatur utama. Disebutkan bahwa ia adalah ketua bidang keuangan di Komite Nasional Partai Republik (Republican National Committee), sehingga hubungan dengan penyokong dana tetap menjadi bagian penting dari strategi politiknya.