jurnalistik.co.id – Direktur Jenderal BBC, Matt Brittin, mengatakan bahwa saat mulai menjabat ia belum memahami sepenuhnya tingkat keparahan pemotongan yang diperlukan oleh lembaga penyiaran tersebut. Pernyataan itu disampaikan Brittin ketika membahas target efisiensi dan dampaknya terhadap organisasi.
Menurut Brittin, pengumuman pemotongan dan target penghematan sudah ada sejak periode sebelumnya. Namun, ia mengaku belum memperoleh gambaran yang utuh tentang seberapa besar “severity” yang dimaksud ketika ia mengambil peran tersebut.
“On the financial side, I knew that cuts had been announced and that savings had been announced, but I hadn’t really understood the severity.”
BBC sebelumnya mengumumkan target penghematan pada bulan Juni. Rencana tersebut mencakup pemotongan di beberapa area, yakni divisi berita, divisi nations, serta divisi konten, dengan tujuan menghasilkan total ÂŁ500 juta dalam penghematan hingga tahun anggaran 2028-29. Dalam kerangka itu, BBC menargetkan perolehan ÂŁ160 juta dari total penghematan tersebut lebih dahulu.
Dari proses restrukturisasi yang menyertai rencana itu, BBC memperkirakan akan ada sekitar 2.000 pekerjaan yang terdampak. Brittin menyebut informasi awal yang ia terima berkaitan dengan pemotongan, tetapi tingkat urgensi dan luasnya dampak baru tampak lebih jelas setelah ia menempati posisi direktur jenderal.
Pandangan Brittin tentang perubahan industri dan teknologi
Dalam percakapan dengan Kirsty Wark—yang menjadi penampilan industri utama pertamanya—Brittin juga menyinggung suasana di dalam BBC. Ia menyatakan dirinya terkesan oleh “creativity and talent” yang ada di lembaga itu.
Meski demikian, ia menekankan bahwa seluruh organisasi media tengah menghadapi tekanan besar akibat perilaku konsumen yang berubah cepat, serta pengaruh revolusi AI. Brittin melihat bahwa perubahan itu memaksa stasiun penyiaran untuk beradaptasi, bukan sekadar bertahan dengan pola kerja lama.
Brittin menilai BBC cenderung bersikap “inward looking”. Dalam pandangannya, kondisi tersebut ikut membentuk sikap yang berujung pada “an aversion to risk”, sehingga BBC kurang responsif terhadap kebutuhan untuk mencoba pendekatan baru.
Ia mengaitkan tantangan itu dengan ekosistem kritik yang keras dari berbagai pihak. “You’ve got very loud critics, many of whom are the commercial rivals of the corporation and you’ve got political pressure on everything that you do journalistically,” ujar Brittin.
Dengan kata lain, ia menggambarkan bahwa BBC tidak hanya berhadapan dengan dinamika pasar dan persaingan komersial, tetapi juga berhadapan dengan tekanan politik pada setiap keputusan jurnalistik.
Berita Terkait
Latar karier dan gaya memimpin yang ingin dibawa
Brittin mengambil alih jabatan dari Tim Davie pada awal tahun ini. Ia menegaskan ingin membawa pendekatan yang pernah ia pelajari dari tempat ia bekerja sebelumnya, yakni Google.
Dalam pembicaraan itu, Brittin juga menyinggung posisi yang pernah ia pegang sebelum menjadi pemimpin BBC. Ia sebelumnya bekerja sebagai regional policy manager di perusahaan teknologi tersebut, dan menyatakan keinginannya untuk “move faster through experimenting and learning” di dalam BBC.
Ia juga menyampaikan bahwa ia ingin bekerja bersama rekan-rekannya untuk “find a way to the future together”. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Brittin ingin perubahan terjadi melalui proses eksperimen dan pembelajaran berkelanjutan, bukan hanya melalui keputusan manajerial dari atas.
BBC juga menempatkan Brittin dalam kategori yang jarang di era modern: ia merupakan direktur jenderal pertama sejak Greg Dyke pada tahun 2000 yang tidak berasal dari kalangan BBC. Dengan latar non-internal itu, ia menganggap dirinya membawa perspektif berbeda dalam cara memandang masalah organisasi dan cara mengambil langkah ke depan.
Uji integritas BBC dalam sengketa defamasi
Selain isu efisiensi dan strategi menghadapi perubahan industri, Brittin juga berbicara mengenai kebutuhan BBC untuk “defend its integrity” saat berhadapan dengan perkara defamasi yang diajukan Donald Trump.
Menurut keterangan yang dibahas dalam perbincangan tersebut, Presiden Amerika Serikat mencari ganti rugi sebesar $10bn (ÂŁ7.4bn) di pengadilan Florida. Gugatan itu terkait pengeditan sebuah dokumenter Panorama pada 2024 mengenai kerusuhan di Capitol AS.
Perwakilan hukum BBC berupaya agar perkara tersebut dibatalkan. BBC juga pernah meminta maaf sebelumnya terkait “an error of judgement” dalam proses pengeditan program tersebut.
Dalam percakapan itu, Brittin menjelaskan alasan yang dibawa dalam langkah permohonan pembatalan perkara: “We moved to dismiss the case on the grounds of jurisdiction in that nobody in the US actually saw the show with the bad edits, and it was a bad edit, and he won the election, and he’s got richer,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa di mata BBC, isu yurisdiksi menjadi dasar penting dalam upaya penghentian kasus. Brittin menempatkan ini sebagai bagian dari cara lembaga mempertahankan integritasnya ketika berhadapan dengan proses hukum yang berdampak luas terhadap reputasi dan kredibilitas.
Dengan rangkaian pernyataan mengenai pemotongan, pendekatan berbasis eksperimen, serta pertahanan integritas di ranah hukum, Brittin menampilkan posisi yang menggabungkan keterbukaan tentang tantangan internal BBC dan penekanan pada kebutuhan adaptasi di tengah perubahan industri media.












