Entertainment

Bintang Race Across the World Jo Gardiner Meninggal karena Kanker, Setahun Setelah Putranya Wafat

×

Bintang Race Across the World Jo Gardiner Meninggal karena Kanker, Setahun Setelah Putranya Wafat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Manchester Race Across the World star Jo Gardiner dies year after son

jurnalistik.co.id – Jo Gardiner, pemeran sekaligus peserta acara televisi Race Across the World, meninggal dunia pada usia 61 tahun. Kabar duka itu disampaikan keluarganya, yang menyebut ia wafat “setelah menjalani perjuangan panjang dan penuh keberanian melawan kanker”.

Menurut keluarga, Gardiner menempuh perjalanan yang tidak mudah dengan sikap yang teguh hingga akhir. Mereka juga meminta agar proses berkabung dihormati, sembari mengajak orang-orang yang mengenalnya untuk tetap merayakan hidupnya dengan cara yang ia inginkan.

Perawat fisioterapi dari Manchester

Gardiner dikenal sebagai seorang fisioterapis yang berbasis di Manchester. Ia kemudian muncul dalam Race Across the World bersama putranya, Sam, di musim kedua tayangan BBC One.

Seri tersebut tayang pada 2020, dan menghadirkan perjalanan lintas benua yang menantang. Dalam kompetisi itu, Gardiner dan Sam bergerak dari Meksiko menuju Argentina, mengikuti rute balap dari Mexico City hingga Ushuaia.

Pasangan ibu dan anak itu bersaing dengan empat pasang peserta lain. Setiap tim harus menuntaskan perjalanan jarak jauh sekaligus menghadapi berbagai kendala di sepanjang rute.

Keluarga menyebut Gardiner memiliki cara yang khas dalam membuat orang-orang di sekitarnya merasa lebih hidup. “Dia memiliki bakat langka untuk membuat semua orang di sekelilingnya merasa lebih hidup,” demikian ungkapan keluarga.

Mereka menggambarkan Gardiner sebagai sosok yang “berada” sepenuhnya dalam apa pun yang ia jalani. Keluarga menegaskan, “She lived fully, fiercely and never did anything by halves,” dan mereka menambahkan bahwa ia “diberkahi” oleh banyak teman yang tertarik pada daya tarik pribadinya.

Perjalanan dengan Sam: tujuan bersama, semangat bersama

Gardiner dan Sam tampil bersama karena ia ingin menjalani petualangan perjalanan bersama putranya. Dalam penjelasan keluarga, kompetisi itu lahir dari keinginan untuk merasakan perjalanan bersama dengan Sam, yang memiliki ADHD.

Dengan membawa latar cerita keluarga tersebut ke format lomba yang menuntut, Gardiner menjadi bagian dari “keluarga besar” Race Across the World. Ia bukan hanya melangkah sebagai peserta, tetapi juga memberi dampak lewat dukungan dan energinya selama acara berlangsung.

Melalui cara pandang keluarganya, Gardiner dipotret sebagai figur yang hangat namun tegas. Keluarga menggambarkannya, “Somehow, each one felt as though they were among her very best,” seakan setiap orang merasa memiliki posisi khusus di hidupnya.

Mereka menambahkan bahwa Gardiner tidak sekadar hadir sebagai figur publik, melainkan berarti lebih dari semua hal itu bagi keluarga. “To us, she was more than all of these things,” begitu bunyi penuturan keluarga.

Keluarga menyatakan Gardiner adalah “our joy, our safe place and our absolute treasure”. Ungkapan itu menekankan bahwa ia menjadi tempat pulang yang aman sekaligus sumber kegembiraan dalam kehidupan mereka.

Sam meninggal dalam kecelakaan mobil Juni 2025

Sam, putra Gardiner yang tampil bersamanya dalam acara tersebut, meninggal dunia pada Juni 2025. Keluarga menyebut bahwa Sam wafat setelah mobilnya keluar dari jalan dan mengalami kecelakaan.

Sam juga menjadi bagian dari cerita yang akhirnya mengikat keduanya dalam kompetisi. Ketika Gardiner dan Sam berada dalam lintasan perjalanan Race Across the World, semua rute yang ditempuh membawa kisah yang kelak dikenang sebagai upaya bersama, bukan sekadar tantangan lomba.

Keluarga menyampaikan bahwa Gardiner bertahan menghadapi masa sulit itu dengan semangat yang tidak pudar. Mereka menegaskan bahwa rasa kehilangan yang datang berlapis membuat keberanian Gardiner semakin tampak nyata.

Gardiner juga disebut bertahan sebagai ibu yang tetap memberi makna pada setiap momen yang dijalani. Dalam kata-kata keluarga, “we take comfort in knowing that her laughter, her courage, her kindness and her wonderfully outrageous spirit will live on in the many people whose lives she touched.”

Charlie menjadi keluarga yang tersisa

Gardiner meninggalkan putranya, Charlie. Dalam penuturan keluarga, Charlie menjadi salah satu anggota yang kini harus menjalani duka setelah kepergian ibu mereka.

Pihak keluarga juga menyebut bahwa mereka memilih privasi saat menghadapi masa berkabung. Namun, mereka tetap menyampaikan pesan yang menegaskan cara merawat ingatan Gardiner: “tell the funny stories, raise a glass, have an adventure, laugh loudly and live life to the full.”

Bagi keluarga, mengingat Gardiner berarti melanjutkan cara pandang hidup yang ia tanamkan. Mereka menutup dengan kalimat yang tegas, “There will never be another her.”

Pesan produser dan kru Race Across the World

Di sisi lain, seorang juru bicara Race Across the World juga menyampaikan belasungkawa. Pernyataan itu disampaikan atas nama tim produksi Studio Lambert, BBC, serta seluruh pemeran Race Across the World.

Juru bicara menyebut Gardiner sebagai “matriarch” atau figur matriark dalam keluarga pemeran acara tersebut. Ia menyatakan bahwa Gardiner meninggalkan warisan yang bertahan dalam banyak kehidupan, baik melalui tayangan seri maupun di luar acara.

Selain itu, juru bicara juga menyebut, “It was a privilege to share her story and she will be deeply missed.” Pesan tersebut menegaskan bahwa kehadiran Gardiner tidak hanya tercatat sebagai peserta, melainkan sebagai sosok yang dikenang oleh banyak orang yang terlibat dalam produksi maupun penonton.

Kabar wafat Gardiner menutup satu bab penting dari kisah yang pernah dibagikan melalui perjalanan panjang bersama Sam. Kini, kisah itu akan terus dikenang, terutama lewat semangat yang ia tunjukkan: keberanian, kebaikan, dan cara pandang yang membuat hidup terasa lebih berwarna bagi orang-orang di sekelilingnya.