Internasional

Apa yang Perlu Dipahami dari Perjalanan Rahasia John Ratcliffe ke Moskow

×

Apa yang Perlu Dipahami dari Perjalanan Rahasia John Ratcliffe ke Moskow

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: What we should make of CIA boss John Ratcliffe’s secret trip to Moscow

jurnalistik.co.id – Perjalanan pulang-pergi yang tersamar sejauh 10.000 mil ke Moskow oleh kepala CIA, John Ratcliffe, langsung menarik perhatian karena sifatnya yang tidak biasa dan minimnya penjelasan resmi.

Presiden Donald Trump menggambarkannya sebagai kunjungan yang “semi-routine”. Namun, pengamat keamanan dari BBC, Frank Gardner, menilai penilaian itu tidak sejalan dengan fakta bahwa Ratcliffe datang dan pergi secara rahasia dalam jarak sejauh itu.

Ratcliffe bertemu pejabat intelijen Rusia pada Selasa, termasuk tokoh yang menjadi padanannya di lembaga mata-mata luar negeri Rusia, Sergei Naryshkin. Kedatangan tanpa pemberitahuan itu dilakukan dengan pesawat militer AS, dan Konfirmasi resmi disampaikan oleh Kremlin.

Ratcliffe melakukan kunjungan seperti itu di tengah situasi yang sudah lama menegang. Sekitar lima tahun sebelumnya, pendahulunya, William Burns, menjalani perjalanan serupa saat kondisi Eropa juga berada pada fase yang sensitif—ketika Rusia sedang menyusun rencana invasi ke Ukraina.

Karena tidak ada keterangan resmi dari pihak AS mengenai tujuan misi tersebut, laporan yang beredar luas menyebut Ratcliffe berangkat untuk menyampaikan peringatan kepada Moskow agar tidak melakukan eskalasi terkait kebuntuan di Ukraina. Dalam sejumlah pemberitaan, peringatan itu bahkan diarahkan pada kemungkinan tindakan terhadap negara-negara anggota NATO.

Seorang pejabat AS, seperti yang disampaikan kepada Politico, menyatakan bahwa pertemuan tersebut terutama dimaksudkan untuk mengingatkan Rusia agar tidak mengambil langkah yang bersifat eskalatif terhadap negara-negara Baltik. Pernyataan itu menempatkan wilayah Estonia, Latvia, dan Lithuania menjadi salah satu fokus perhatian.

Tekanan dari sisi Rusia juga terlihat dari dinamika yang melibatkan Inggris. Pada Kamis, seorang juru bicara kementerian luar negeri Rusia mengatakan Rusia dapat menargetkan sasaran militer Inggris sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap Rusia yang menggunakan rudal dari Inggris.

Di sisi lain, keamanan juga menyoroti temuan terkait drone bermuatan bahan peledak yang ditemukan di sebuah bandara di kota Leipzig, Jerman. Para ahli keamanan menilai perangkat semacam itu kemungkinan besar berasal dari pihak Rusia.

Laporan mengenai kunjungan Ratcliffe muncul setelah pemberitaan tentang penilaian intelijen AS bahwa Vladimir Putin sedang merencanakan serangan terbatas terhadap sekutu NATO. Dalam kerangka besar, sinyal-sinyal semacam ini menggambarkan bahwa tensi tidak hanya bergerak pada medan tempur, tetapi juga pada cara negara-negara menilai langkah berikutnya.

Di Ukraina, serangan jarak jauh dengan drone dilaporkan menghantam industri energi Rusia serta membawa perang lebih dekat kepada masyarakat biasa. Kremlin memandang serangan itu sebagai bagian dari upaya NATO untuk menjalankan “perang tidak langsung” melalui Ukraina sebagai perantara.

Karena tekanan domestik terhadap Putin juga disebut semakin meningkat, muncul pertanyaan yang sama: bagaimana Rusia akan memilih respons berikutnya. Menurut Gardner, spektrumnya bisa luas, mulai dari langkah yang masih berada dalam pola serangan yang telah berjalan hingga opsi yang lebih berbahaya.

Di ujung yang lebih “langsung”, kemungkinan itu mencakup peningkatan serangan rudal balistik ke Ukraina, termasuk upaya menargetkan pusat Kyiv. Penilaian yang ikut disebut adalah kondisi pertahanan Ukraina yang dinilai sangat terbatas terkait pencegat Patriot.

Namun, respons juga dapat mengambil bentuk yang lebih tidak terlihat. Dalam skenario yang dibahas, Rusia bisa memperluas apa yang sering disebut sebagai “perang hibrida” yang selama ini diduga diarahkan ke negara-negara NATO, lewat serangan siber, penerobosan drone, hingga keterlibatan pelaku kriminal—bahkan untuk aksi pembakaran di fasilitas pembuatan amunisi.

Gardner juga menyinggung skenario lain yang dinilai lebih mengkhawatirkan. Di antaranya, Rusia dapat mencoba menguji keteguhan NATO melalui serangan terbatas terhadap salah satu negara Baltik, sekaligus mengalihkan perhatian dari kegagalan jelas untuk memenangkan perang di Ukraina.

Estonia, Latvia, dan Lithuania pernah menjadi bagian dari Uni Soviet dan saat itu efektif diperintah dari Moskow hingga 1991. Kini ketiganya menjadi anggota NATO, tetapi tetap memiliki komunitas berbahasa Rusia dalam jumlah yang signifikan.

Dalam pembacaan Gardner, Putin mungkin mempertimbangkan respons NATO dengan memanfaatkan anggapan bahwa sikap AS terhadap NATO pernah menunjukkan sikap yang lebih meremehkan secara periodik. Dengan demikian, ia dapat memperhitungkan bahwa serangan “low-key” terhadap Lithuania, misalnya, tidak akan memicu ketentuan pembelaan bersama dalam Article 5, serta AS tidak akan langsung memberikan respons.

Jika asumsi itu benar, misi Ratcliffe yang tidak dijelaskan bisa dipahami sebagai upaya pengingat agar Rusia memahami bahwa AS tetap sepenuhnya berkomitmen pada Article 5.

Gardner menambahkan satu aspek geografis yang membuat Lithuania bernilai strategis bagi Moskow: wilayah perbatasan yang dikenal sebagai “Suwalki Gap”. Jalur sepanjang kira-kira 60 mil ini memisahkan Belarus—yang disebut sebagai negara klien Rusia—dengan enklaf Kaliningrad yang bersenjata nuklir dan terpisah dari daratan Rusia.

Menurut kerangka tersebut, bila Rusia berhasil merebut jalur ini, negara-negara Baltik akan terputus secara darat dari tetangga NATO mereka. Karena itu, Lithuania diposisikan sebagai titik yang berpotensi menentukan arah eskalasi regional.

Isu lain yang disebut adalah kemungkinan eskalasi lewat senjata nuklir taktis. Gardner mengingatkan bahwa doktrin militer Rusia, sebagaimana lama disebut-sebut, memandang senjata kecil namun berdaya rusak tinggi sebagai bagian integral dari susunan kekuatannya.

Moskow juga disebut telah diberi peringatan oleh kawan maupun lawan agar tidak mematahkan “tabu” penggunaan senjata nuklir, yang sudah berlangsung selama 81 tahun. Kendati begitu, Gardner menilai opsi itu tetap dapat menggoda, terutama jika diarahkan untuk “escalate to de-escalate”—yakni memperlihatkan kepada Ukraina bahwa senjata dengan dampak katastrofik ada di meja pertimbangan, sehingga Kyiv lebih memilih menyerah pada syarat Moskow.

Meski demikian, tanpa konfirmasi resmi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan dari AS mengenai tujuan misi itu, semua kemungkinan di atas tetap berada pada ranah penafsiran. Pengungkapan yang beredar dapat saja menunjuk ke hal lain, misalnya upaya mendorong Moskow menghentikan kerja sama militer dengan Iran.

Alternatif lain yang disebut adalah kemungkinan negosiasi terkait pertukaran tahanan atau bahkan pembahasan mengenai prospek mobilisasi pasukan secara besar-besaran dari pihak Rusia.

Bagaimanapun juga, perjalanan Ratcliffe tetap dinilai sangat tidak lazim. Gardner menempatkannya pada waktu ketika ketegangan antara Moskow dan Barat terus meningkat, sehingga sulit melihatnya sebagai sesuatu yang bersifat rutin.

Dengan minimnya keterangan resmi, satu kesimpulan yang paling kuat adalah bahwa ada sesuatu yang sedang disiapkan—entah untuk mencegah eskalasi, atau untuk menguji batas respons lawan.