Internasional

Natalie Harp: asisten dekat Donald Trump yang disorot Jon Ossoff

×

Natalie Harp: asisten dekat Donald Trump yang disorot Jon Ossoff

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Who is Natalie Harp? Trump's right-hand woman

jurnalistik.co.id – Di tengah sorotan politik menjelang dan setelah peristiwa-peristiwa besar di Gedung Putih, satu sosok yang selama ini sangat dekat dengan Donald Trump kembali menjadi perhatian publik. Natalie Harp, yang selama bertahun-tahun hadir di lingkaran dalam presiden, kini disorot lebih tajam setelah namanya disebut dalam sebuah pidato yang viral.

Jon Ossoff, senator dari Georgia yang berafiliasi Partai Demokrat, menyinggung kedekatan Harp dengan Trump saat berbicara di depan publik. Dalam pidato tersebut, Ossoff mengkritik perjalanan Trump dengan menyebut “travel with Natalie on their apparently defenceless flying palace gifted by the Emir of Qatar”. Ia juga menyinggung laporan bahwa Harp sempat bergabung ketika Trump melakukan pergantian pesawat secara rahasia setelah meninggalkan Turki bulan lalu.

Serangan Ossoff itu merujuk pada pesawat baru yang disebut sebagai Air Force One, sekaligus mengaitkan isu perubahan pesawat dengan sejumlah orang di sekitar presiden. Konten pidato yang kemudian menyebar luas membuat posisi Harp—yang selama ini sering dipandang sebagai figur “di balik layar”—ikut naik ke permukaan perdebatan.

Jalur yang tak biasa menuju Gedung Putih

Harp berasal dari California dan tumbuh dalam keluarga Kristen konservatif. Ia menempuh jalan yang tidak lazim untuk sampai ke pusat pemerintahan yang sudah dikenal serba berbeda dari latar belakang kebanyakan pejabat.

Keterkenalannya ikut dipengaruhi kisah kesehatan yang ia hubungkan dengan kebijakan pada masa pemerintahan Trump. Pada periode pertama Trump, pemerintahan itu mendorong pengesahan Right to Try Act, yang bertujuan memberi akses lebih besar bagi sejumlah pasien untuk perawatan percobaan.

Dalam cerita yang ia sampaikan, Harp menggunakan kebijakan itu ketika menghadapi kanker tulang. Ia kemudian mendapatkan perhatian yang makin luas dari kalangan pendukung Trump, terutama di sayap Maga (Make America Great Again) dalam Partai Republik, karena pengalamannya dipandang selaras dengan pesan politik presiden.

Dalam pidato di Konvensi Nasional Partai Republik 2020, Harp menyampaikan pernyataan yang ia klaim sebagai penjelasan langsung terkait proses perawatannya. Ia berkata: “When I failed the chemotherapies that were on the market, no one wanted me in their clinical trials,” serta menambahkan, “They didn’t give me the right to try experimental treatments, Mr President. You did, and without you, I’d have died waiting for them to be approved.”

Setelah peristiwa itu, Trump sendiri mengungkap responsnya. Trump mengatakan: “She lit up the television screen like very few people I have ever seen do it.” Pernyataan ini memperkuat reputasi Harp sebagai figur yang dekat, sekaligus dianggap punya hubungan emosional-politik dengan presiden.

Usai Trump kalah dalam pemilihan, Harp bekerja menjadi pembawa acara di jaringan One Americans News Network (OAN). Di sana, ia dikenal sebagai pembela Trump yang keras serta figur yang menonjol sebagai penyangkal hasil pemilu.

Harp kemudian meninggalkan OAN pada 2022 untuk bergabung dalam kampanye presiden berikutnya. Sejauh ini, banyak gambaran tentang pandangan Harp datang melalui sumber anonim dan rujukan tidak langsung, termasuk dari buku-buku reporter seperti Maggie Haberman, Jonathan Swan, atau Michael Wolff, yang membuat kehidupan pribadinya tidak banyak diketahui publik.

Peran resmi dan makna yang berubah

Saat ini, posisi resmi Harp di Gedung Putih disebut sebagai executive assistant to the president. Dalam praktik umum, jabatan semacam itu biasanya dikaitkan dengan tugas tingkat bawah—mengurus logistik, penjadwalan, alur komunikasi, serta pekerjaan kesekretariatan yang bersifat rutin.

Namun berbagai keterangan yang dikumpulkan menyatakan Harp memberi peran itu makna baru. Profilnya dipandang lebih menonjol dibanding pendahulunya pada masa awal Trump, termasuk Madeleine Westerhout.

Seberapa berpengaruh Harp di sekitar Trump?

Di mata jurnalis yang meliput dari dekat, Harp sering terlihat hanya berjarak beberapa langkah dari Trump di Oval Office. Ia juga terlihat menaiki Air Force One untuk berbagai perjalanan, baik domestik maupun internasional.

Seorang sumber yang dekat dengan Gedung Putih menyampaikan kepada BBC bahwa Harp selalu hadir. “She’s always around,” kata sumber itu. “Literally, always.”

Di lingkungan internal Gedung Putih dan di kalangan pers, Harp kerap disebut sebagai “human printer”. Julukan itu muncul karena ia sering terlihat membawa printer portabel untuk menyediakan salinan cetak berisi artikel maupun unggahan media sosial yang, menurut banyak keterangan, lebih disukai Trump.

Dalam operasionalnya, Harp dikatakan memiliki kemampuan besar untuk memengaruhi informasi atau pembaruan apa yang akhirnya sampai kepada Trump. Sejumlah sumber anonim juga menggambarkan Harp sebagai “gatekeeper” sekaligus “comfort blanket”.

Selain menjalankan fungsi tersebut, Harp juga berperan sebagai semacam penulis pesan media sosial untuk Trump. Dalam konteks ini, ia dipahami mengunggah konten ke akun Truth Social milik Trump atas nama presiden.

Salah satu foto yang kemudian banyak dibagikan setelah komentar Ossoff memperlihatkan Harp sedang mengetik sebuah unggahan dengan gaya tulisan yang dinisbahkan kepada Trump. Dalam gambar itu, ia dikaitkan dengan momen Trump mendikte saat menonton pidato Kamala Harris pada 2024.

Meski fokus publik meningkat, Gedung Putih menggambarkan Harp sebagai “trusted and valued” dalam tim. Namun, Trump jarang berbicara tentang Harp di depan kamera.

Ossoff, pesawat rahasia, dan respons Gedung Putih

Ossoff termasuk di antara banyak kritikus Trump yang menyinggung laporan bahwa Harp berada di pesawat yang ditumpangi Trump untuk meninggalkan Turki. Kritik itu muncul setelah dikaitkan dengan informasi bahwa Amerika Serikat—menurut pemberitaan—mendapat kabar ancaman dari Iran.

Haberman, reporter yang juga banyak meliput kepresidenan Trump, pernah ditanya dalam penampilan di MSNOW mengenai alasan Trump membawa Harp ke pesawat rahasia. Haberman menjawab: “Because she is sort of his binky, for lack of a better way of putting it, a comfort blanket.”

Haberman dan Swan juga melaporkan untuk New York Times pada 2024 bahwa Harp, menurut klaim yang disampaikan dalam laporan itu, menuliskan kalimat dalam sebuah surat kepada Trump: “You are all that matters to me.”

Ketika seorang reporter CNN menanyakan Trump tentang komentar Ossoff pada awal pekan ini, Gedung Putih merespons dengan nada marah di akun resmi X. Dalam respons itu, Gedung Putih menyebut reporter Kristen Holmes sebagai “a disgraceful, humiliating embarrassment to her alleged profession”.

Postingan lain yang ditujukan kepada Holmes menyertakan kalimat: “Someday, your children will come across your disgusting and inhumane question,” lalu menambahkan, “They will be sickened and embarrassed to have a parent be so callous and vindictive.”

Kini, dari kisah Right to Try Act hingga cara Harp bekerja di sekitar Trump—termasuk kebiasaan membawa printer portabel, mengelola alur informasi, dan menulis unggahan Truth Social—publik menilai kembali peran seorang asisten yang selama ini jarang menjadi pusat perhatian. Sorotan Ossoff membuat posisi Harp, termasuk julukan “gatekeeper” dan “comfort blanket”, kembali diperdebatkan di ranah politik AS.