Internasional

Panduan perilaku untuk menjalani kehidupan di Inggris diterbitkan bagi pencari suaka

×

Panduan perilaku untuk menjalani kehidupan di Inggris diterbitkan bagi pencari suaka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Behaviour guidelines for life in UK published for asylum seekers

jurnalistik.co.id – Panduan perilaku baru bagi pencari suaka di Inggris telah diterbitkan oleh Home Office dalam bentuk brosur setebal sembilan halaman yang kini tersedia daring. Materi tersebut membahas cara bersikap di ruang publik, termasuk aturan terkait seks dan persetujuan, serta kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari.

Buku panduan itu juga menjelaskan bahwa hukum dan kebiasaan yang berlaku di Inggris bisa berbeda dari negara asal para pencari suaka. Di dalamnya, ditegaskan konsekuensi yang dapat muncul bila aturan tersebut dilanggar: “you could get in trouble with the police, lose your asylum support, or it could affect your asylum claim.”

Dalam laporannya, Jennifer McKiernan—political reporter—menyebut rilis panduan ini dipublikasikan pada 19 Agustus 2026 pukul 17:43 BST dan diperbarui dua menit kemudian.

Isi panduan untuk pencari suaka

Salah satu bagian membahas isu gender. Dokumen tersebut menekankan bahwa perempuan di Inggris memiliki hak yang setara dengan laki-laki, sehingga mereka tidak perlu meminta izin dari suami, ayah, saudara laki-laki, atau pria lain mana pun untuk menjalankan aktivitas seperti bekerja, belajar, bepergian, maupun membuat keputusan.

Brosur yang sama juga menguraikan ketentuan mengenai seks dan persetujuan. Di bagian ini dijelaskan bahwa persetujuan harus datang dari kedua pihak untuk setiap bentuk hubungan seksual atau kontak seksual. Persetujuan, menurut panduan, tidak dapat diberikan apabila seseorang sedang tertidur, dalam keadaan mabuk, atau tidak mampu merespons.

Selain itu, terdapat bagian berjudul “Respect in Public” yang mengatur batasan perilaku di ruang publik. Dalam materi tersebut, tindakan seperti meniup peluit atau membuat bunyi ciuman kepada orang di jalan dinyatakan tidak dapat diterima.

Panduan juga menegaskan bahwa membuat komentar yang bersifat seksual kepada seseorang tidaklah pantas, bahkan bila pelaku merasa tindakannya bisa dianggap sebagai “komplimen”. Larangan semacam ini dirumuskan sebagai bagian dari standar kesopanan yang diharapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tanggapan dari sejumlah tokoh politik

Di pihak Konservatif, Chris Philp—shadow home secretary—menyampaikan kritik tajam. Ia menyatakan: “Instead of trying to train these mainly young, male illegal immigrants behave in a civilised way towards women, they should be deported.”

Philp menilai pendekatan yang tepat bukanlah mengupayakan perubahan perilaku melalui panduan, tetapi mendorong deportasi. Ia juga mengaitkan isu tersebut dengan perbedaan sikap terhadap perempuan antara berbagai komunitas.

Ia menambahkan: “Immigrants are coming from places and societies where attitudes towards women can be completely incompatible with Western society.” Menurutnya, “Too many communities are failing to properly integrate and become part of our culture, leaving frankly backwards standards to prevail.”

Sementara itu, Zia Yusuf dari Reform UK menyebut dokumen tersebut memalukan. Dalam komentarnya, ia melabeli brosur itu sebagai “a disgrace”, dan menyatakan publikasi panduan itu menunjukkan pemerintah “know that they are a menace”.

Yusuf juga menanggapi kebijakan melalui sebuah video berdurasi dua menit yang ia unggah di media sosial. Dalam video tersebut, ia mengatakan: “I genuinely cannot believe what I have just read. ”The government has just published a handy guide for illegal migrants on how not to be a rapist, not to be a paedophile, how not to beat women and how to leave babies alone. ”That again may be really hard to believe but that is exactly what they have just done.”

Pihak Partai Buruh (Labour) tidak memberikan komentar terkait dokumen tersebut. Home Office, Liberal Democrats, dan Partai Hijau (Green Party) disebut telah dihubungi untuk dimintai tanggapan.

Data terbaru permohonan suaka

Rilis panduan ini juga muncul di tengah data Home Office yang menunjukkan jumlah permohonan suaka di Inggris. Tercatat, dari April 2025 hingga Maret 2026 terdapat total 93,525 orang mengajukan suaka, turun 12% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dengan diterbitkannya brosur setebal sembilan halaman ini, Home Office menempatkan penekanan pada pemahaman terhadap hukum Inggris serta aturan persetujuan dalam hubungan seksual dan norma menghormati orang lain di ruang publik. Panduan tersebut sekaligus menggarisbawahi bahwa pelanggaran dapat berujung pada masalah dengan polisi, hilangnya dukungan suaka, atau berdampak pada proses klaim suaka para penerima.