Internasional

ADHD UK Keberatan ke Ofcom atas Dokumenter Channel 4 tentang ADHD “The Great ADHD Myth?”

×

ADHD UK Keberatan ke Ofcom atas Dokumenter Channel 4 tentang ADHD “The Great ADHD Myth?”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Charity complains about Channel 4 documentary examining ADHD

jurnalistik.co.id – ADHD UK mengadu kepada regulator media Ofcom terkait sebuah film dokumenter Channel 4 yang dinilai mempertanyakan keberadaan ADHD. Pengaduan itu muncul setelah tayangan bertajuk “The Great ADHD Myth?” menutup isu dengan kesimpulan bahwa kondisi tersebut bukan gangguan otak.

Program Channel 4 itu disiarkan pada Selasa dan dipandu oleh psikiater NHS Dr Max Pemberton. Dalam penuturan di film, ia menyatakan ADHD sebagai “a social construct, not a disorder of the brain”.

ADHD UK menyampaikan keberatan langsung melalui pengaduan resmi ke Ofcom. Organisasi tersebut menegaskan bahwa ADHD bukan mitos, dengan menyebut: “ADHD is not a myth. It is not a social construct.”

Selain ADHD UK, Royal College of Psychiatrists turut mengingatkan soal dampak “invalidating the condition”. Pihak kampus kedokteran profesional itu menilai pendekatan yang menolak validitas kondisi dapat merugikan orang yang hidup dengan ADHD dan tim layanan yang menangani mereka.

Film menampilkan sudut pandang kritis dan kisah anak yang mengubah terapi

Dokumenter Channel 4 menampilkan sejumlah pakar yang skeptis terhadap ADHD dan cara kondisi itu diperlakukan dalam praktik. Film juga mengikuti seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang menghentikan obatnya, lalu melakukan perubahan gaya hidup untuk melihat dampak pada perilaku.

Di bagian akhir dokumenter, ibu anak tersebut mengatakan bahwa putranya akan tetap tidak minum obat untuk sementara waktu. Namun, layar keterangan di akhir program menyebut bahwa dua bulan setelah pengambilan gambar, anak itu kembali menggunakan obat, dan performa sekolahnya membaik.

Keterangan tersebut juga menuliskan bahwa meski meningkat, anak itu tetap ingin berhenti minum obat di masa depan.

ADHD UK menilai “eksperimen” di film justru membantah kesimpulannya

Dalam pernyataan yang disampaikan, ADHD UK menyoroti bagian akhir kredit film yang, menurut mereka, bertolak belakang dengan kesimpulan yang diangkat dalam durasi utama. Mereka mengutip: “The programme’s own end credits told you what its 60 minutes wouldn’t: the boy at its centre went back on his medication, and his schoolwork improved.”

ADHD UK melanjutkan, “Their experiment disproved their conclusion. They aired their version anyway. We have already complained to Ofcom.”

Penguatan kritik itu juga disampaikan Prof Subodh Dave, presiden Royal College of Psychiatrists. Ia mengakui bahwa setiap orang mungkin memiliki pandangan masing-masing mengenai diagnosis dan penanganan ADHD, tetapi menekankan perlunya kehati-hatian dalam cara kondisi tersebut dinyatakan.

Prof Subodh Dave mengatakan: “Invalidating the condition does a disservice to people with ADHD and professionals involved in their care.” Ia menambahkan, “The focus should be on improving access to high-quality assessments and care by addressing waiting lists that leave many people without vital support for years at a time, not questioning the legitimacy of a well-established neurodevelopmental disorder.”

ADHD Embrace mengingatkan risiko disinformasi dan diskriminasi

Selain ADHD UK, ADHD Embrace juga menyampaikan kekhawatiran kepada Channel 4 sebelum film tayang. Dalam peringatan mereka, organisasi tersebut menyebut program berisiko “perpetuating misinformation about ADHD as a condition and discrimination against those families whose lives have been severely impacted by the condition”.

Pihak Channel 4 kemudian menanggapi pengaduan dengan menyatakan bahwa film tidak bermaksud menafikan pengalaman hidup orang yang sudah didiagnosis ADHD. Channel 4 juga menekankan bahwa film menyajikan pandangan beragam dari pakar medis senior yang, menurut mereka, banyak bekerja atau pernah bekerja di NHS serta pernah menjabat peran kepresidenan di lembaga keanggotaan profesional.

Channel 4 menegaskan bahwa dokumenter “seeking to question the conventional understanding of ADHD dan apakah ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental”. Mereka juga menambahkan bahwa film membahas kemungkinan modernitas berkontribusi pada meningkatnya diagnosis, serta mempertanyakan apakah ada alternatif yang lebih baik bagi sebagian anak dibandingkan terapi obat.

Channel 4 turut menyatakan bahwa produksi film bertujuan menggali apakah faktor sosial turut berperan dalam peningkatan diagnosis dan penggunaan obat, khususnya pada anak laki-laki. Menurut keterangan kanal, film tidak berupaya memberikan jawaban dari pengalaman satu keluarga, tetapi pengalaman keluarga itu membuka ruang diskusi tentang apakah dunia saat ini mampu mengakomodasi perilaku yang terkait ADHD dan bagaimana etika pemberian obat dipertimbangkan.

Channel 4 menyebut pertimbangan itu khususnya relevan pada anak-anak dan ketika efek jangka panjang masih belum diketahui, dengan kutipan: “Whilst the film does not seek to provide answers from one family’s experience, their experiences have opened up discussion around whether today’s world is equipped to accommodate ADHD behaviours and the ethics of medicating these, particularly in children and particularly when the long-term effects remain unknown.”

ADHD dipahami sebagai sindrom perilaku, sementara kebutuhan asesmen di layanan kesehatan disebut meningkat

Dalam konteks layanan kesehatan, National Institute for Health and Care Excellence (NICE) menggambarkan ADHD sebagai sindrom perilaku yang dicirikan oleh hiperaktivitas, impulsivitas, dan inatensi. Di Inggris, NHS memperkirakan sekitar 2,5 juta orang mengalami ADHD, termasuk mereka yang belum memiliki diagnosis formal.

Data yang disebut dalam laporan menunjukkan angka diagnosis ADHD dan autisme meningkat, sementara daftar tunggu untuk asesmen di NHS Inggris berada pada tingkat rekor. Dalam sejumlah area, daftar tunggu bahkan disebut pernah ditutup karena besarnya permintaan.

Riset dari University College London memperkirakan jumlah orang dewasa di Inggris yang didiagnosis ADHD meningkat hampir 20 kali lipat antara 2000 hingga 2018. Meski demikian, beberapa studi menunjukkan ADHD justru mungkin kurang terdiagnosis.

Pada Juni, jurnal Lancet Regional Health Europe menerbitkan penelitian yang menyebut sekitar 1,2% orang dewasa di Inggris memiliki diagnosis ADHD. Namun, data prevalensi internasional memperkirakan ADHD memengaruhi sekitar 3-5% populasi, dan penulis studi menyimpulkan bahwa kondisi itu bisa berarti ADHD masih kurang terdiagnosis, terutama pada kelompok usia lebih tua.

Reaksi media dan penilaian ulasan

Guardian menyebut program tersebut sebagai “the most controversial show of the year”. Ulasan bintang empatnya menyatakan dokumenter itu “will incense and offend some of its viewers”, namun menambahkan bahwa Pemberton menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan meyakinkan.

Times juga memberikan bintang empat dan menilai sebagian besar dokumenter terasa meyakinkan, atau setidaknya menjadi awal dari diskusi yang diperlukan. Sementara itu, Channel 4 dan pihak-pihak pendukung menyatakan film membuka ruang debat publik tentang berbagai aspek ADHD, termasuk peninjauan terhadap pemahaman konvensional.