Internasional

Paus Leo XIV Disambut Ribuan Orang: Misa di Place de la Concorde, Lanjut ke Lourdes

×

Paus Leo XIV Disambut Ribuan Orang: Misa di Place de la Concorde, Lanjut ke Lourdes

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Thousands turn out to see Pope during Lourdes and Paris visit

jurnalistik.co.id – Paus Leo XIV merayakan Misa pada Sabtu di pusat Paris, saat kota itu berubah menjadi suasana yang oleh Aleem Maqbool dari kantor agama BBC digambarkan sebagai “katedral terbuka yang sangat besar”. Perayaan tersebut menjadi bagian dari kunjungan empat hari Paus ke Prancis.

Menurut laporan, sekitar 700.000 orang berkumpul untuk mengikuti Misa yang dipersembahkan Paus dari sebuah altar khusus di Place de la Concorde. Lokasi itu terlihat seperti menjadi panggung utama bagi ribuan umat yang datang dari berbagai penjuru.

Acara di Paris berlangsung pada hari kedua rangkaian kunjungan. Di tengah keramaian, Misa yang berlangsung di ruang terbuka tersebut memberi penekanan pada dimensi publik dari perayaan keagamaan, sekaligus menegaskan posisi Paris sebagai pusat perhatian saat kunjungan berlangsung.

Setelah Misa di Place de la Concorde, Paus kemudian melanjutkan perjalanan menuju Lourdes. Di sana, ia berdoa di gua tempat Perawan Maria diyakini pernah menampakkan diri pada abad ke-19.

Rangkaian kegiatan ini menghubungkan dua tempat yang memiliki makna berbeda: Paris sebagai ruang pertemuan besar yang memperlihatkan skala perhatian publik, sementara Lourdes hadir dengan nuansa ziarah yang lebih mendalam bagi umat Katolik. Perpindahan dari satu konteks ke konteks lainnya dilakukan sebagai kelanjutan dari ritme kunjungan empat hari tersebut.

Untuk tahap berikutnya, Paus akan memberikan Misa di Lourdes pada hari Minggu. Dengan demikian, perjalanan dari altar khusus di jantung Paris menuju gua Lourdes menandai kesinambungan perjalanan spiritual sekaligus jadwal formal kunjungan.

Dalam pertemuan dengan otoritas Prancis, Presiden Emmanuel Macron bertemu Paus pada Jumat sebelumnya. Namun, Macron tidak hadir pada rangkaian acara hari Sabtu.

Alasan ketidakhadiran Macron dikaitkan dengan upaya menghindari kesan bahwa ia melanggar aturan Prancis yang ketat mengenai pemisahan urusan gereja dan negara. Pertimbangan tersebut menjadi bagian dari cara negara mengelola keterlibatan pejabat publik pada agenda keagamaan.

Penjadwalan yang berurutan—Misa di Paris lalu berangkat ke Lourdes—juga menunjukkan bagaimana kunjungan Paus dirancang untuk menyentuh berbagai lapisan pengalaman umat. Kerumunan besar di ruang publik menggambarkan daya tarik kunjungan di tingkat nasional, sementara ibadah di lokasi ziarah mengarah pada makna historis dan keyakinan keagamaan.

Gambaran “katedral terbuka” yang disebut dalam laporan BBC menempatkan suasana Paris pada titik pertemuan antara tradisi keagamaan dan kehidupan kota. Ribuan orang yang berkumpul memperlihatkan bahwa peristiwa ini bukan hanya perayaan liturgis, tetapi juga momen yang menyatukan warga dalam satu perhatian bersama.

Di sisi lain, doa di gua Lourdes mengingatkan pada tradisi ziarah yang sudah lama melekat pada keyakinan Katolik. Tempat yang diyakini terkait penampakan Perawan Maria pada abad ke-19 memberi latar spiritual yang berbeda dibandingkan perayaan di pusat kota.

Dengan menjadwalkan Misa di Lourdes untuk Minggu, kunjungan Paus memasuki fase yang menonjolkan dimensi ziarah secara lebih langsung. Bagi banyak umat, langkah ini menegaskan bahwa kunjungan tidak berhenti pada seremonial publik, melainkan meneruskan inti pengalaman religius.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan hari Sabtu mempertemukan tiga elemen utama: skala kerumunan di Paris, kesinambungan perjalanan ke Lourdes, serta konteks politik domestik terkait pemisahan gereja dan negara. Dalam laporan Aleem Maqbool, semua elemen itu membentuk gambaran kunjungan Paus sebagai peristiwa yang berdampak lintas ruang—dari Place de la Concorde hingga gua Lourdes.

Rangkaian pada hari Sabtu itu juga menegaskan bahwa kunjungan Paus di Prancis tidak dibatasi pada ruang ibadah semata, melainkan hadir sebagai peristiwa yang terlihat dan dirasakan luas di tengah kota. Misa di Place de la Concorde digambarkan sebagai titik yang mempertemukan perhatian publik, mulai dari kerumunan yang datang hingga suasana kota yang berubah mengikuti agenda kunjungan empat hari.

Di saat yang sama, keterlibatan pejabat negara ditata melalui pertimbangan hukum dan sensitivitas politik. Macron disebut bertemu Paus pada Jumat, tetapi tidak hadir pada rangkaian Sabtu, sehingga narasi yang muncul adalah upaya menjaga jarak simbolik antara urusan gereja dan negara. Susunan jadwal yang beralih dari Paris menuju Lourdes kemudian memberi bingkai bahwa agenda kunjungan tetap bergerak mengikuti ritme formal dan dimensi spiritualnya.