Pendidikan

Protes pelajar di Prancis menimbulkan kekhawatiran di pemerintahan

×

Protes pelajar di Prancis menimbulkan kekhawatiran di pemerintahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: French school protests send shivers down the government's spine

jurnalistik.co.id – Protes pelajar di Prancis membuat pemerintah semakin gelisah. Gerakan yang bermula hampir dua minggu lalu kini meluas, disertai pemblokiran sekolah, kerusakan akibat kebakaran, hingga berbagai laporan korban di kalangan staf dan aparat.

Seperti pola yang berulang dalam sejarah politik Prancis, munculnya aksi massa kaum muda kerap dipandang sebagai situasi yang sulit diprediksi. Pemerintah Presiden Emmanuel Macron, menurut laporan surat kabar Le Monde, bahkan disebut tengah “cold sweats” di tengah eskalasi di sejumlah wilayah.

Aksi pertama kali muncul hampir dua minggu lalu di kawasan Seine-Saint-Denis, wilayah utara Paris yang dikenal berpendapatan lebih rendah. Dalam beberapa hari terakhir, protes tersebut menyebar ke seluruh negeri dan mulai memengaruhi aktivitas pendidikan secara luas.

Memasuki hari Kamis, ratusan lycée—jenjang pendidikan untuk siswa usia 15-18 tahun—dilaporkan diblokade. Pada Jumat, kondisinya sedikit membaik, tetapi sekitar 400 lycée tetap ditutup untuk melindungi staf dan siswa.

Selain sekolah menengah, universitas juga mulai bergabung. Pada saat yang sama, kekerasan mulai meletus di beberapa titik, termasuk insiden yang terjadi di Nantes, ketika aula utama sebuah lycée dilaporkan hancur oleh kebakaran pada Kamis.

Kebakaran berskala lebih kecil juga dilaporkan terjadi di gerbang masuk sekolah-sekolah di berbagai wilayah, dengan jumlah yang disebut “numerous to mention”. Kerugian yang ditaksir mencapai jutaan euro mencerminkan dampak fisik yang serius terhadap fasilitas pendidikan.

Menteri Pendidikan Édouard Geffray menyatakan 65 tenaga pengajar, termasuk 40 kepala sekolah, mengalami cedera. Ia juga mengutip kesaksian para korban: “Most of the staff who were hurt said that the people they were facing… were not their own pupils,” he said.

Dari sisi aparat, pemerintah menyebut sekitar 300 polisi dan pemadam kebakaran juga mendapat perawatan akibat luka. Sementara itu, sekitar 2.000 orang—terutama anak di bawah umur—disebut telah ditahan.

Di sisi lain, kelompok pelajar menyodorkan narasi yang berbeda terkait siapa yang paling banyak dirugikan. Mereka mengatakan terdapat daftar panjang orang yang mengalami cedera akibat tindakan polisi, termasuk laporan dua remaja mengalami cedera mata serius serta satu orang kehilangan banyak gigi.

Namun, persoalan ini tidak berhenti pada tuntutan yang bersifat langsung. Ada dimensi politik dan sosial yang dinilai membuat krisis pelajar saat ini jauh lebih berisiko dibanding periode sebelumnya.

Tuntutan memang ada, walau kerap digambarkan tetap samar. Secara garis besar, tuntutan menyangkut uang—kekurangannya—serta kebutuhan akan lebih banyak guru, kelas yang lebih kecil, dan kondisi bangunan yang lebih baik.

Gagasan menuntut penambahan dana pendidikan seolah menemukan resonansi di masyarakat, karena banyak yang sepakat bahwa sistem pendidikan tengah memburuk akibat keterbatasan anggaran. Perdana Menteri Sébastien Lecornu, pada pekan yang sama, merilis rancangan anggaran tahun depan dengan motif “More cuts – and this time we’re serious!”

Berapa besar pengurangan belanja negara yang benar-benar akan tercapai masih diperdebatkan. Lecornu menjanjikan upaya menghapus €54bn (£46bn) dari pengeluaran negara, tetapi pertanyaan mengenai realisasi rencana itu tetap terbuka.

Kontestasi politik di balik aksi pelajar

Pemerintah menghadapi kekhawatiran yang lebih besar daripada sekadar pemenuhan kebutuhan sekolah. Ketakutan utama yang disebut mencuat adalah kemungkinan aksi pelajar dimanfaatkan oleh kelompok sayap kiri keras, dan kekerasan beberapa hari terakhir dianggap sebagai pertanda bagi masyarakat yang makin terpolarisasi menjelang tahun pemilu.

Bagi kubu kanan dan tengah, ada keyakinan bahwa di balik kerusuhan pelajar terselip peran “cunning hand” dari partai France Unbowed (LFI) dan kandidat presiden Jean-Luc Mélenchon. Para pemimpin LFI, dalam sejumlah kesempatan, dilaporkan tampak berada di dekat aksi pelajar.

Salah satu contoh yang disebut adalah wilayah pinggiran Paris, Saint-Denis. Wali kota Bally Bagayoko di kawasan tersebut dikritik setelah komentarnya menyatakan “violence can sometimes be legitimate.”

Selain pengamatan lapangan, sebuah laporan internal yang disiapkan untuk departemen kepolisian Paris dan kemudian bocor ke media turut memperkuat dugaan tersebut. Laporan itu menganalisis bagaimana gerakan berawal di Seine-Saint-Denis dan menyimpulkan bahwa pelajar “egged on by far-left elements from students unions… and political groups such as… LFI.”

Laporan itu juga menyebut bahwa ketegangan bisa menjadi bagian dari “flame-kindling strategy… aimed at imposing their ideas ahead of the national elections”. Untuk mendukung kesimpulan tersebut, penulis laporan merujuk pada sejumlah indikasi, mulai dari adanya demonstran yang ternyata bukan lycée, tuntutan yang dianggap terlalu tidak jelas, hingga pengibaran bendera Palestina dan Aljazair.

Laporan tersebut juga menunjuk taktik yang digunakan, seperti seruan untuk menggelar aksi tambahan di kantor polisi. Menurut laporan, pola serupa berasal dari “radical-left playbook”.

Meski demikian, LFI membantah keras. Partai tersebut menyatakan tidak melakukan apa pun selain memberi dukungan alami pada gerakan yang mereka anggap sah.

Pada Kamis, MĂ©lenchon disebut menyerukan agar para pelajar menghindari kekerasan, karena “which only serves our enemies’ interests”. Namun, pihak penentang meyakini bahwa MĂ©lenchon—yang berusia 75 tahun—sebenarnya tahu persis apa yang ia lakukan.

Mereka menilai Mélenchon berpeluang besar melaju ke putaran kedua pemilihan presiden pada Mei, kemungkinan besar menghadapi Marine Le Pen dari kubu sayap kanan keras. Dukungan yang disebut kuat juga ditunjukkan oleh survei: sekitar 40% di kelompok usia 18-24 tahun.

Menurut laporan yang sama, dukungan itu terkonsentrasi di wilayah pinggiran kota yang padat dengan tingkat imigrasi tinggi. Gagasan Mélenchon tentang “new France” dan “creolisation”, untuk mencerminkan perubahan bahasa dan komposisi penduduk Prancis, disebut diapresiasi di kalangan pemilih muda.

Meski demikian, partisipasi pemilih muda dalam pemilu juga disebut menjadi tantangan tersendiri, karena kelompok usia muda merupakan kelompok yang paling sering tidak menggunakan hak pilih. Karena itu, strategi mendekati pemilu dinilai akan berfokus pada pengingat terus-menerus bahwa LFI berpihak pada mereka, dan bahwa suara mereka dapat membuat perbedaan.

Namun, apakah pendekatan tersebut cukup untuk memastikan kemenangan masih belum tentu. Mélenchon disebut tetap perlu serius memperhatikan survei yang menunjukkan ia kalah besar dalam putaran melawan Le Pen jika pemilu berlanjut ke babak runoff.

Jika skenario itu terjadi, Prancis akan masuk wilayah yang tidak stabil—dan aksi protes yang terjadi beberapa hari terakhir, dalam pandangan tersebut, bisa menjadi pertanda awal dari ketegangan yang akan datang. Di tengah tuntutan pendidikan dan perdebatan politik, situasi di sekolah-sekolah tetap menjadi titik sensitif yang terus membesar.