jurnalistik.co.id – Ketegangan dalam arak-arakan Orange Order kembali menyeret Irlandia Utara ke pusaran perpecahan yang belum benar-benar selesai. Di Portadown, perselisihan di sekitar rute Drumcree—termasuk bagian Garvaghy Road—menjadi cermin bahwa gesekan lama masih mudah tersulut ketika politik bertemu konflik di ruang publik.
Menurut pengamatan, ketika pertarungan politik dibungkus sebagai sengketa jalanan, gesekan hampir selalu berada di dekatnya. Di Stormont, perdebatan yang pahit antara kalangan unionis dan nasionalis memang kerap muncul, tetapi adu argumen di level akar rumput belakangan jarang terlihat seintensif saat ini.
Duet organisasi dan komunitas yang bertarung dalam isu Drumcree pun memperlihatkan kontras yang tajam. Orange Order merupakan organisasi Protestan yang bersifat pro-Britania, sementara wilayah yang ingin dilalui—terutama berpenduduk Katolik dan mayoritas dihuni nasionalis pro-Irlandia—menjadi latar konflik yang sensitif.
Sejarah memperlihatkan dampak besar ketika perselisihan seperti ini meletup. Pada pertengahan 1990-an, sengketa parade Drumcree pecah hingga berujung kekerasan, menyebar ke tempat lain, dan hampir menggagalkan proses perdamaian. Kendati kemudian mereda selama sekitar tiga dekade, kemunculan kembali sengketa ini ternyata mengejutkan banyak pihak, termasuk sebagian politisi.
Krisis kembali mengemuka setelah, awal musim panas ini, sebuah proses hukum dibawa ke pengadilan untuk meninjau ulang perselisihan tersebut. Dua kekuatan politik terbesar di Irlandia Utara kemudian terlihat berada di sisi yang berlawanan: Sinn Féin berdiri di belakang warga, sedangkan Democratic Unionist Party (DUP) mendukung Orange Order. Walau keduanya merupakan mitra dalam pemerintahan devolusi di Stormont, pada isu Drumcree mereka justru berada pada jarak yang paling jauh.
Di Portadown, situasi sempat menunjukkan ketenangan yang rapuh terkait persoalan arak-arakan dalam beberapa tahun terakhir. Namun bagi Orange Order, parade tersebut dianggap “pekerjaan yang belum selesai”, karena sejak 1998 organisasi ini dilarang menyelesaikan arak-arakan Drumcree yang mencakup Garvaghy Road. Sejak saat itu, izin untuk menyelesaikan rute terus ditolak—lebih dari 1.000 kali dalam tiga dekade terakhir.
Berita Terkait
Orange Order menyatakan penolakannya berarti menghalangi tradisi arak-arakan yang menurut mereka telah berlangsung sejak awal 1800-an. Untuk mengadili sengketa seperti ini, sebuah Parades Commission dibentuk pada akhir 1990-an. Hingga kini, komisi tersebut secara konsisten memutuskan menolak rute yang diinginkan Orange Order.
Perubahan datang setelah tantangan hukum Orange Order terhadap sebuah keputusan pada bulan Juni tahun ini berhasil atas dasar prosedural. Setelah itu, organisasi kembali mengajukan izin untuk menggelar parade, kali ini dalam versi yang diperkecil: hanya melibatkan 35 peserta, bukan 400. Permohonan tersebut kemudian mendapat persetujuan.
Persetujuan itu menyulut kemarahan dan kekagetannya warga nasionalis di Garvaghy Road. Bagi mereka, parade dipandang bernuansa kemenangan sepihak dan tidak diterima di wilayah tersebut, karena—menurut penilaian mereka—parade seperti itu diposisikan sebagai tindakan dominasi yang membuka kembali luka-luka komunitas yang lama.
Dalam sengketa hukum yang berlangsung hingga tahap akhir, seorang hakim juga menyerukan agar semua pihak mencari titik temu dan mencapai kesepakatan. Namun, seruan itu tidak membawa hasil; suasana tetap memanas, dan emosi terlihat tinggi di semua kubu, mulai dari akar rumput hingga ruang-ruang politik.
Kondisi di eksekutif pembagian kekuasaan kini disebut berada di ambang batas yang berbahaya. Tahun depan, pemilihan di Stormont akan membuat partai-partai cenderung mengunci posisi mereka, ketimbang membuka ruang kompromi. Situasi ini mempertegas bahwa perpecahan yang bersifat lokal dapat berdampak luas, karena ia menyentuh struktur politik yang seharusnya menjaga keseimbangan.
Seorang politisi yang sudah pensiun pernah merangkum persoalan tersebut dengan kalimat, “What happens at Drumcree never stays at Drumcree,”. Pernyataan itu terasa relevan dalam momen ketika banyak orang kembali menyaksikan bahwa proses perdamaian tidak pernah benar-benar berakhir—ia berlangsung, dan masih menuntut kerja nyata baik di lapangan maupun di Stormont.












