jurnalistik.co.id – Serial drama BBC “Blue Lights” kembali menjadi pembicaraan, kali ini karena terasa dekat dengan kehidupan di Irlandia Utara—bukan sekadar tontonan tentang polisi, melainkan cermin dari cara sebagian komunitas memandang aparat penegak hukum.
Bagi Dearbháile McKinney dan Katherine Devlin, perhatian pada hubungan polisi dan masyarakat muncul sejak awal proses produksi. McKinney menekankan bahwa cara orang memandang institusi itu dibentuk oleh relasi pribadi: “Whether it’s your friends or your family, everybody has their own relationships with, and viewpoints on, the police.”
Dalam cerita, Blue Lights mengikuti polisi yang bertugas di Blackthorn Station, sebuah stasiun fiktif di Belfast. Namun, bagi banyak penonton, suasananya seperti “terasa nyata”, terutama saat ketegangan yang lebih luas di Irlandia Utara kembali menonjol.
Pada akhir pekan, isu perselisihan lama terkait rute parade Garvaghy Road kembali disorot, ketika petugas harus mencegah arak-arakan oleh Orangemen Protestan melintasi area yang mayoritas Katolik. Dalam sejumlah adegan Blue Lights, rasa tidak percaya dan sikap permusuhan terhadap polisi memang ditekankan secara terang.
Serial ini juga menghadirkan konflik yang berdampak langsung pada kehidupan personal para tokohnya. Katherine Devlin, yang tumbuh di Irlandia Utara bersama McKinney, memainkan Annie Conlon—seorang Constable yang harus meninggalkan rumah akibat ancaman kematian karena berasal dari keluarga Katolik.
Devlin menyebut ada kesamaan latar, sekaligus perbedaan keputusan. “We do have similarities – she comes from a Catholic background and so do I,” katanya dalam wawancara. Ia menambahkan, “I know girls like Annie. But I’ve realised we’re different in a lot of ways. Mainly, to be honest with you, I wouldn’t go into the police.” Bagi Devlin, membangun karakter Annie berarti menelusuri alasan tokoh itu memilih menjadi petugas, hingga menjadi inti dari ceritanya.
Pada musim yang kembali dibicarakan, Devlin menyoroti gagasan “home” dan maknanya bagi Annie: “I think a huge thing with this season is the idea of home and what home means to her,” ungkapnya. Ia melanjutkan bahwa Annie terus bergulat dengan dialog batin, termasuk pertanyaan “is it all worth it?”, lalu semuanya terasa makin berat karena latar Katolik dan seluk-beluk politik di dalamnya. “It’s heavy stuff and she has to really think about it.”
Berita Terkait
Di luar dunia fiksi, data rekrutmen polisi juga menunjukkan adanya tantangan yang diakui publik. Dalam pernyataan yang dikirim kepada Newsbeat, Chief Constable Jon Boutcher menyebut PSNI memiliki jumlah pelamar Katolik terendah dalam lebih dari satu dekade pada awal tahun ini, dengan sebagian pihak mengarah pada “fear and apprehension” di komunitas tersebut.
PSNI sendiri menyatakan tujuan ketika lembaga itu berdiri pada 2001 adalah membangun dukungan komunitas yang lebih luas serta meningkatkan jumlah petugas dari latar Katolik. Saat itu, hanya 8% anggota berasal dari latar belakang tersebut, dan kini angkanya naik menjadi 32%. Boutcher menegaskan komitmen lembaganya: PSNI “totally committed to being more representative of the communities we serve”. Namun ia juga menyatakan keprihatinan atas kritik yang dianggapnya berlanjut: “I am deeply concerned at persistent and often unjustified criticism and the outdated and unsupported views of dissident paramilitaries remaining as barriers to people seeing themselves having a career in the police.” Ia “absolutely” menerima bahwa PSNI perlu melakukan lebih banyak diversifikasi rekrutmen, tetapi itu bisa terjadi hanya jika “people in all communities in Northern Ireland see policing as a career for them.” Boutcher menambahkan, pasukan berencana meluncurkan kampanye rekrutmen student officer “in the coming weeks”.
Blue Lights juga menempatkan dampak psikologis sebagai bagian dari konflik profesional. Karakter Aisling Byrne, misalnya, bergulat dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada musim sebelumnya. McKinney mengatakan ia berbicara dengan petugas sungguhan untuk memahami realitasnya: “They’ve had to witness some horrific things and been left with PTSD and trauma that they just have to learn to live with,” katanya. Ia menegaskan, “It’s the reality here. It would be ignorant to not think about that.” Kondisi Aisling kemudian memberi tekanan pada hubungan dengan Tommy Foster, hingga muncul dilema apakah Aisling akan dilaporkan ke atasan agar mendapat bantuan.
Sementara itu, Nathan Braniff menilai Blue Lights memang mengangkat tema-tema berat, tetapi menurutnya serial tersebut juga menjalankan misinya dengan menunjukkan bagaimana Irlandia Utara bergerak. “It shows that Northern Ireland’s moving forward and changing all the time.”
Dalam produksi, detail penggambaran aktivitas kepolisian dibuat tampak teliti, termasuk selebaran informasi di area resepsionis serta map kasus di meja para petugas. Devlin menilai respons penonton terhadap karakter-karakter itu terasa kuat karena kompleks dan manusiawi: “It’s really lovely just to see the amount of people who see themselves in the characters,” katanya. Ia menambahkan, “And [mention] how complex the characters are. How real and human they are”.
Memasuki musim keempat, perhatian publik terhadap para aktor juga meningkat. Braniff bercerita bahwa berjalan di Belfast kini terasa berbeda karena ia bertemu orang-orang yang dikenal mengenakan kostum polisi lengkapnya sendiri: “After having lived here my whole life, it’s funny walking down the streets of Belfast and bumping into people that I know wearing my full police costume.” Ia menyimpulkan, “The support for the show here is unmatched.”
Frank Blake, yang memerankan Shane Bradley dan bukan berasal dari Irlandia Utara, mengatakan ia tetap merasakan sambutan hangat. Ia mengaitkannya dengan sebuah adegan yang menampilkan tokohnya membuka diri soal kecintaannya pada lagu Westlife tertentu. “We were shooting in town, and someone drove past blaring World of Our Own out of the speakers,” ujar Blake. Ia juga menyebut, “I’ve long been a Westlife fan and it was great craic. It’s so funny seeing how it really took off.”
Musim keempat Blue Lights dimulai di BBC One pukul 21:00 BST dan tersedia untuk ditonton melalui iPlayer. Bagi penonton, yang paling menonjol mungkin bukan hanya ketegangan dramatis di layar, melainkan bagaimana serial ini—dengan konflik rute parade, tantangan rekrutmen yang menyentuh rasio pelamar Katolik, hingga beban trauma—mencoba mempertahankan kedekatan antara polisi dan komunitas yang selalu punya sejarah serta luka yang berbeda.












